Prinsip - Prinsip Komunikasi || Komunikasi dan Kebutuhan Manusia

A. Prinsip - Prinsip Komunikasi 

Pelatih dan manajer institusi pelatihan yang profesional merupakan
komunikator yang baik. Mereka adalah orang-orang yang betul-betul memahami prinsip-prinsip komunikasi yang ideal. Prinsip-prinsip komunikasi tersebut adalah:

1.   Komunikasi adalah proses yang dinamis

2.   Komunikasi adalah proses yang melingkar.

3.   Komunikasi merupakan proses yang tidak berulang secara murni

4.   Komunikasi berlangsungdalam keseluruhan aktivitas

5.   Komunikasi menyangkut aspek jasmani dan rohani

6.   Komunikasi menyangkut masalah yang kompleks

7.   Komunikasi tidak kebal terhadap gangguan

1.  Komunikasi adalah proses dinamis

Proses komunikasi laksana benda hidup yang dinamis, di mana. pengirim dan penerima pesan memegang peran penting. Mereka menjalankan fungsi masing-masing secara tidak kaku. Keduanya sama-sama komunikatif yang pada saat tertentu dapat bertukar peran.

2.  Komunikasi adalah proses yang melingkar

Komunikasi tidak seperti anak panah, tidak lurus seperti kompas, melainkan mempunyai sifat melingkar. Komunikasi bukanlah proses satu arah. Dalam proses komunikasi, umpan balik merupakan satu keharusan. Proses Itu berlangsung berulang kali, Inksana satu siklus yang satu sauna lain tidak terputus. Si A berkomunikasi derigan si B dan si B berkomunikasi dengan si C untuk hal yang sarna, dan seterusnya, merupakan contoh lain dan sirkulasi proses komunikasi.

3.  Komunikasi adalah proses tidak terulang

Ada kecenderungan orang menyangkal konsep ini, dengan asumsi jika pada saat tertentu penerima berita tidak rnemahami berita yang disarnpaikan, dia dapat meminta kembali berita itu. Jika telah terjadi proses komunikasi antarmanusia, terjadilah proses itu. Jika suatu saat komunikasi itu harus diulang, suasananya tidak akan berulang persis seperti sedia kala. Isi dan subjek yang terlibat dapat saja sama tetapi suasana menjadi  berbeda. Gaffar (1982) mengemukakan bahwa situasi dari peristiwa komunikasi tidak mungkin sama. Dengan demikian, mustahil bagi seseorang mengulangi peristiwa komunikasi itu dua kali dnegan situasi, suasana, dan efek yang sama. Manusia hanya dapat berkomunikasi satu kali saja, sedang kedua dan seterusnya merupakan peristiwa komunikasi yang lain lagi.

4.  Komunikasi berlangsung dalam keseluruhan aktivitas

Proses komunikasi selalu ada dalam keseluruhan aktivitas manusia organisasional, mulai manajemen puncak sampai pada pelaksana teknis dan sebaliknya. Kebijakan organisasi pelatihan perlu dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Proses komunikasi itu pun memengaruhi aktivitas manusia organisasi pelatihan. Tanpa komunikasi, kegiatan tidak ada dan tidak ada kegiatan tanpa proses komunikasi. Jika komunikasi antarmanusia terputus, proses kerja menjadi kaku dan kondisi ini menjadi ancaman bagi organisasi pelatihan.

5.  Komunikasi melibatkan aspek jasmani dan rohani

Efektivitas komunikasi antarmanusia sangat ditentukan oleh kondisi fisik dan psikologi kedua pihak. Pengiriman berita adalah komunikator yang baik, tetapi jika kondisi psikis penerima tidak memenuhi tuntutan, proses komunikasi tidak dapat bcrjalan efektif, demikian sebaliknya. Baik pengirim maupun penerima pesan dituntut berada pada kondisi fisik dan psikologis yang baik. Komunikasi lisan menjadi lebih efektif jika disertai gerak fisik dan mimik yang sesuai, informasi yang disampaikan dengan nada marah tidak efektif. Karena itu, kepribadian komunikator dan penerima pesan terlibat dalam proses komunikasi harus sama-sama mendukung.

6.  Komunikasi menyangkut masalah yang kompleks

Dalam kaitan KAU dan AKU, misalnya, kompleksitas komunikasi dapat dilukiskan sebagai berikut:

AKU                                                  KAU

Aku tahu------------------------------             Kau tidak tahu

Aku tidak tahu ----------------------                Kau tahu

Aku tidak tahu ----------------------                Kau tidak tahu

Aku tahu ----------------------------               Kau tahu

Aku perlu ---------------------------                Kau tidak perlu

Aku tidak perlu --------------------                  Kau perlu

 

Kompleksitas tersebut bukan hanya terletak pada banyaknya pribadi yang terlibat, isi pesan dan peralatan yang digunakan, melainkan juga pada transmisi pesan, umpan balik, dan gangguan. Di pedesaan, proses komunikasi antarwarga berlangsung secara sederhana, memanfaatkan media sederhana, dan inti pesan pun sederhana. Berbeda dengan sistem komunikasi internasional, yang dalam waktu beberapa detik, miliaran karakter harus dioper dari suatu negara ke negara lain.

7. Komunikasi tidak kebal gangguan

Banyak hal yang dapat memengaruhi rendahnya efektivitas komunikasi, yaitu berupa gangguan yang sering pula disebut noise, Komunikasi tetap muka (face-to-face communication), misalnya tidak akan efelctif dilakukan dalam suasana yang gaduh atau jarak antarsubjek terlalu berjauhan. Contoh lain, gelombang radio terganggu pada saw ada petir. Komunikasi dengan menggunakan telegram sering terlalu singkat, sebaliknya komunikasi dengan menggunakan surat dapat secara panjang lebar, namun sering terlambat. Ini semua adalah contoh gangguan proses komunikasi.

 

B.     Komunikasi dan Kebutuhan Manusia

Dalam konteks aktivitas pelatihan, komunikasi adalah mesin pelumas utamanya. Komunikasi biasanya tidak dapat dilepaskan dari pekerjaan atau interaksi antara pelatih dan peserta pelatihan. Rencana kerja pelatihan hanya mungkin dapat direalisasikan, jika pelatih dan peserta pelatihan telali mengetahui informasi tugas atau jabaran pekerjaan yang diembannya. Di dalam dunia manajemen, komunikasi sering diarahkan untuk meningkatkan semangat kerja staf demi produktivitas dan keuntungan secara bisnis. Hal ini merupakan konsekuensi logis bahwa manusia organisasi mempunyai sejumlah kebutuhan dan keinginan, seperti :

  1. ·        kebutuhan untuk mengembangkan diri dalam jabatan yang diduduki dan mengejar kedudukan yang lebih tinggi;
  2. ·        keinginan meningkatkan harga diri dalam keluarga dan masyarakat melalui aktivitas yang lebih konstruktif;
  3. ·        kebutuhan bergerak dari sikap bergantung kepada orang lain menjadi sikap yang lebih mandiri; dan
  4. ·        dorongan  mencari tanggungjawab

Dari empat kecenderungan itu, ada dua indikator pokok yang memengaruhi aktivitas staf. Kedua indikator pokok tersebut adalah keinginan mempertinggi kedudukan atau status dalam jabatan dan hasrat memperoleh kekuasaan yang lebih besar. Pelatihan pun antara lain dimaksudkan untuk mempromosikan staf, misalnya untuk menduduki jabatan eselon. Sangat sukar untuk memisahkan kedua indikator pokok ini karena keduanya sering berjalan sendiri-sendiri.

Kedudukan seseorang dalam jabatan didasarkan atas mutu individual dan mutu kerjanya di dalam tim, baik menurut pencitraan mupun mutu secara nyata. Kekuasaan ditekankan kepada proses memengaruhi atau memberikan pengaruh kepada sekelompok orang atau individu, dan di sinilah, komunikasi antarmanusia mutlak diperlukan.

Arus komunikasi bervariasi, yaitu ke atas, bawah, diagonal, dan sebagainva, yang pada umumnya dikaitkan dengan pekerjaan atau tugas­ tugas keorganisasian. Hasil penelitian membuktikan bahwa bawahan sering merasa sangat segan kepada atasannya dan jika hal ini terjadi, frekuensi komunikasi antara atasan dan bawahan lebih banyak dilakukan dibandingkan dengan komunikasi antara bawahan dan atasan. Lillico (1972) mengatakan bahwa komunikasi ke atas mungkin tidak mengandung informasi yang berhuburigan dengan pekerjaan dan dari segi banyaknya, mungkin lebih banyak komunikasi yang terjadi antara atasan dengan bawahan. Personalia tingkat bawah menahan diri untuk tidak berkomunikasi dengan atasan sehubungan dengan rintangan psikologis.

Perbuatan bawahan yang bersifat mencela, mengkritik, memberi saran atau usul kepada atasan sangat jarang, sebagai akibat hambatan psikologis itu. Mereka segan mengemukakan ketidaksenangannya terhadap pekerjaan atau sikap negatif (negative attitude) terhadap tugas­ tugas itu. Dalam bekerja dan berkomunikasi sangat hati-hati, sebab takut tergeser dari jabatannya, tidak dipercaya, tidak mampu menciptakan rasa saling memiliki (sense of belonging), dan sebagainya. Permasalahannya adalah apa sebabnya hal itu terjadi? Mungkin dan hampir dipastikan bahwa gejala buruk itu terjadi sebagai akibat dari:

a.       Tidak ada keterbukaan antara kedua belah pihak. Mereka tidak
mampu menjalin kontak yang lebih komunikatif. Apa yang ada pada bawahan hanyalah rasa takut, curiga, segan, tak acuh, dan sebagainya.

b.      Kurang dukungan fakta-fakta. Keraguan seorang untuk ber­komunikasi dengan orang lain, antara lain disebabkan tidak ada bekal empiris. Apa yang ada hanya merupakan keinginan-keinginan subjektif.

c.       Pola manajemen yang kaku sehingga tidak memungkinkan komunikasi terjadi secara efektif.

Penerapan hubungan antarmanusia (human relation) dianggap dapat mempermudah terlaksananya komunikasi secara baik. Maier (1963) mengemukakan bahwa dalam hubungan antar manusia, rintangan­ rintangan komunikasi dapat dihilangkan, menjauhkan salah pengertian, dan mengembangkan segi konstruktif dari kepribadian manusia. Pelatih profesional adalah seseorang yang mampu menciptakan suasana komunikasi yang kondusif dalam rangka mencapai tujuan pelatihan. Suasana curiga, tidak komunikatif, dan rasa takut, merupakan penghambat pencapaian tujuan itu sehingga memberi gangguan tidak sedikit terhadap kelancaran proses pelatihan. Faktor tidak kondusif dalam komunikasi harus dijauhkan, jika organisasi bertekad mencapai tujuan secara baik:

No comments:

Post a Comment

Perlindungan terhadap Perempuan ditinjau dari prinsip kesetaraan dalam Undang-Undang Perkawinan

  Kedinamisan hukum semakin memperhatikan nasib perempuan untuk adanya kesetaran dan keadilan gender dan untuk memberikan perlindungan t...