Komunikasi dan Perilaku || Fungsi Komunikasi

 

A.     Komunikasi dan Perilaku

Komunikasi mutlak diperlukan dalam keseluruhan proses interaksi antarmanusia, tidak terkecuali antara pelatih dan peserta pelatihan atau antara stafdan pimpinannya. Tanpa komunikasi antarmanusia di dalam organisasi pelatihan, sumber daya yang ada akan mengalami ditintegrasi. Artinya, sumber daya insani yang ada pada lembaga pelatihan tidak banyak berbeda dengan setumpuk benda mati yang pasif.

Jika di sekolah-sekolah disediakan khusus ruang guru, barangkali ada guru yang hanya melihatnya dari nilai kursi yang disediakan di ruangan itu. Sebenarnya, ruang itu sama dengan forum atau wadah bagi pelatih untuk urun rembug atau saling tukar pengalaman. Barangkali kita juga dapat bereksperimen, bagaimana pola kerja guru, jika satu sama lain saling menghindari kontak antarsemua mereka. Kebijakan administratif, kebijakan organisasi pelatihan, harapan, dan perasaan hanya mungkin disampaikan, jika terjadi proses komunikasi. Dengan komunikasi akan muncul relasi antarindividu dan selanjutnya terjadi proses saling memengaruhi dalam rangka perbuatan tertentu.

Komunikasi antarindividu muncul sebagai lanjutan dari adanya kontak awal yang mereka lakukan dan demikian juga sebaliknya. Seseorang akan menjalin komunikasi dengan yang lain, jika di dalam dirinya telah ada kontak kesepakatan, bahwa dia harus berbuat demikian. Relasi antar individu merupakan lanjutan dari proses komunikasi antar sesama mereka. Dari aktivitas relasional itu terjadi proses memengaruhi, misalnya pengaruh yang ditimbulkan oleh pimpinan terhadap bawahannya. Mungkin saja, suatu saat terjadi komunikasi antarindividu, tetapi mereka tidak mampu menjalin relasi, akibatnya tidak terjadi proses sating memengaruhi. Di dalam latar kehidupan organisasi pelatihan, saling memengaruhi biasanya divisualisasikan melalui perilaku nyata atau seperangkat perbuatan yang mengacu pada tujuannya.

 

B.     Fungsi Komunikasi

Pelatih harus menjadi komunikator yang baik. Seperti telah diuraikan di muka, bahwa komunikasi sangat penting dalam keseluruhan aktivitas manajemen organisasi pelatihan, terutama antara pelatih dan peserta pelatihan. Mata rantai kegiatan organisasi pelatihan dapat berlangsung efektif jika terjadi proses komunikasi antara mereka yang ada di dalam organisasi pelatihan itu, dan hal ini harus berlangsung secara bersahaja dan terus-menerus.

Karena itu, komunikasi menempati posisi sentral bagi pelatih dan pimpinan organisasi pelatihan dan dalam hubungan antarorang yang ada di dalamnya. Tanpa komunikasi, koordinasi kegiatan dan kegiatan itu sendiri tidak akan dapat berjalan secara efektif. Para ahli psikologi, ahli pendidikan, dan lain-lain telah menerima konsep, prinsip, dari generalisasi tentang fungsi komunikasi. Misalnya, di lembaga sekolah, problema ­problema peserta didik yang diduga menghambat proses studi mereka dapat diatasi melalui komunikasi efektif antara subjek dan kliennya atau antara pembimbing dan terbimbing.

Garis pembatas psikologis (psychological barrier) yang terjadi di antara pelatih dan peserta pelatihan dapat diatasi atau diminimalkan melalui komunikasi antarsesama mereka. Di sekolah-sekolah yang efektif, kepala  sekolah terlibat intensif dalam proses komunikasi dengan staf. Dalam proses itu, terjadi interaksi timbal-balik yang dapat meningkatkan dinamika kerja di lembaga sekolah yang pada gilirannya akan memperlancar proses pendidikan sekolah.

Komunikasi antara pelatih dan peserta pelatihan diarahkan pada upaya mencari perubahan untuk untuk mengeksplisitkan tindakan-tindakan hersama. Sebagai contoh, lembaga pelatihan harus mengetahui kebutuhan tenaga kerja di lapangan, persaingan antarlembaga, kebijakan pemerintah bidang pelatihan, dan sebagainya. Di samping itu, lembaga pelatihan harus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, potensi masyarakat, kemajuan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, informasi masalah sosial, dan sebagainya. Apa-apa yang dimaksudkan di atas akan mudah direalisasi­kan, jika terjadi komunikasi intensif antarsubjek yang terlibat. Cepat atau lambat, terpenuhinya keinginan subjek untuk mendapat informasi tentang masalah ini sangat ditentukan oleh kemampuannya mendekatkan diri dengan sumber informasi. Dengan demikian, komunikasi dalam organisasi pelatihan berfungsi sebagai:

·        mengomunikasikan tujuan-tujuan pelatihan;

·        mengembangkan rencana pelatihan untuk pelaksanaan; mengorganisasikan manusia dan sumber pelatihan lain secara efektif;

·        mengarahkan, memotivasi, dan mengembangkan potensi peserta pelatihan;

·        menciptakan iklim pelatihan yang sehat;

·        mengadakan pengawasan pelaksanaan pelatihan;

·        menyampaikan gagasan baru dan memberi saran bagi perbaikan proses pelatihan;

·        menerima keluhan-keluhan sebelum, selama, dan sesudah proses pelatihan.

No comments:

Post a Comment

Perlindungan terhadap Perempuan ditinjau dari prinsip kesetaraan dalam Undang-Undang Perkawinan

  Kedinamisan hukum semakin memperhatikan nasib perempuan untuk adanya kesetaran dan keadilan gender dan untuk memberikan perlindungan t...