KATA PENGANTAR
Pertama
saya ucapkan Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. karena-Nya saya
dimampukan untuk menyelesaikan tugas makalah ini dengan tidak mengalami kendala
yang begitu menyusahkan sehingga tugas ini bisa saya selesaikan dengan tepat
pada waktu yang ditentukan.
Saya juga
tidak lupa berterimakasih kepada pemilik wirausaha angkringan yang telah
bersedia menyediakan waktunya sejenak untuk mau diwawancarai dan berbagi
beberapa pengalamanya.
Saya menyadari bahwa makalah ini
masih banyak kelemahan dan kekurangannya, oleh karena itu segala kritik
membangun serta sumbang saran sangat saya harapkan.
Semarang, 28 Oktober 2014
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................
i
DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah .................................................................................. 1
B. Rumusan
Masalah ........................................................................................... 2
C. Tujuan ............................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Angkringan ................................................................................... 3
B. Profil
Narasumber Wirausaha Angkringan ....................................................... 3
C. Hasil
Wawancara dengan Narasumber ............................................................ 4
D. Hal-hal yang
perlu disisapkan dalam membuka angkringan ............................... 8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ..................................................................................................... 10
B. Saran .............................................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Wirausahawan
merupakan pengusaha yang melaksanakan kombinasi-kombinasi baru dalam teknik dan
komersial ke dalam bentuk praktek. Inti dari pengusaha adalah pengenalan dan
pelaksanaan kemungkinan-kemungkinan baru dalam bidang perekonomian.
Wirausahawan adalah seorang yang menciptakan sebuah bisnis yang berhadapan
dengan resiko dan ketidakpastian bertujuan memperoleh profit dan mengalami
pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi kesempatan dan memanfaatkan sumber
daya yang diperlukan. Kita sebagai seorang mahasiswa juga harus mampu dalam
menciptakan lapangan pekerjaan sendiri yaitu dengan berwirausaha. Salah satunya
dengan berbisnis membuka usaha warung nasi kucing atau angkringan.
Nasi
kucing atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan "sego kucing" adalah
suatu menu yang cara penyajiannya seperti nasi bungkus yang banyak ditemukan
pada warung angkringan. Dinamakan "nasi kucing" karena disajikan
dalam porsi yang sedikit, seperti menu untuk makan untuk kucing. Meskipun
demikian nasi kucing menjadi sebuah alternatif konsumsi kebutuhan masyarakat
kalangan menengah kebawah. Karena rata - rata harga nasi kucing hanya seribu
rupiah (Rp. 1.000). Usaha berjenis pengganjal perut ini memang
terkenal paling bandel dalam cara bertahannya melawan kondisi ekonomi baik
ekonomi lagi seret. Keistimewaan lain dari usaha ini adalah tidak mengenal
adanya kasta, suku, agama dan ras. Semuanya memadu dalam kursi-kursi panjang
dengan pelindung terpal kombinasi biru dan oranye.
Biasanya
warung angkringan ini ada di pinggir-pinggir jalan sehingga untuk menemukannya
tidak terlalu susah. Warung angkringan
merupakan peluang usaha dengan pasar yang tidak terbatas serta harga
yang relatif murah. Jadi, bisnis angkringan ini termasuk bisnis yang
cukup menjanjikan karena peminatnya cukup banyak dan keuntungan yang didapat
juga tidak sedikit. Hal ini menjadi menarik untuk diteliti, maka penulis akan
melakukan wawancara dengan pengusaha angkringan dan menyajikannya dalam sebuah
makalah.
B.
Perumusan Masalah
Dari latar
belakang diatas, maka rumusan masalah yang penulis ambil adalah sebagai berikut
:
1)
Apa yang dimaksud dengan Angkringan?
2)
Siapakah narasumber pengusaha wirausaha angkringan
yang diwawancarai ?
3)
Bagaimana hasil dari wawancara itu?
4)
Hal-hal apa saja yang
perlu dipersiapkan dalam membuka warung angkringan
C. Tujuan
1)
Untuk mengetahui pengertian angkringan.
2)
Untuk menjelaskan profil narasumber yang diwawancarai.
3)
Untuk memaparkan hasil wawancara.
4)
Untuk mendeskripsikan hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam membuka warung angkringan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Angkringan
Angkringan (berasal dari bahasa
Jawa “Angkring” yang berarti duduk santai) adalah sebuah gerobak dorong
yang menjual berbagai macam makanan dan minuman yang biasa terdapat di setiap
pinggir ruas jalan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Jika di Solo, angkringan
dikenal sebagai warung hik. Gerobak angkringan biasanya ditutupi dengan
kain terpal plastik dan bisa memuat sekitar 8 orang pembeli. Beroperasi mulai
sore hari, mengandalkan penerangan tradisional yaitu lampu minyak , dan juga
dibantu oleh terangnya lampu jalan.
Makanan yang dijual meliputi nasi
bungkus atau nasi kucing, gorengan, sate usus ayam, sate telor puyuh, kripik
dan lain-lain. Minuman yang dijual juga beraneka macam seperti teh, jeruk,
kopi, tape, “wedang jahe” dan susu. Semua dijual dengan harga yang sangat
terjangkau.
Meski harganya murah, namun konsumen
warung ini sangat bervariasi. Mulai dari tukang becak, tukang bangunan, pegawai
kantor, mahasiswa, seniman, bahkan hingga pejabat dan eksekutif. Antar pembeli
dan penjual sering terlihat mengobrol dengan santai dalam suasana penuh
kekeluargaan.
Angkringan juga terkenal sebagai
tempat yang egaliter karena bervariasinya pembeli yang datang tanpa
membeda-bedakan strata sosial atau SARA. Mereka menikmati makanan sambil bebas
ngobrol hingga larut malam meskipun tak saling kenal tentang berbagai hal atau
kadang berdiskusi tentang topik-topik yang serius. Harganya yang murah dan
tempatnya yang santai membuat angkringan sangat populer di tengah kota sebagai
tempat persinggahan untuk mengusir lapar atau sekedar melepas lelah.
B. Profil
Narasumber Wirausaha Angkringan
Setelah kami melakukan wawancara
dengan narasumber seorang pengusaha angkring, kami mendapatkan informasi
mengenai biodata beliau. Berikut ini merupakan profil narasumber kami.
Nama :
Edi Waluyo
Jenis kelamin : Laki-laki
Kota asal :
Klaten
Alamat :
RT 2 RW 2 desa Patemon, kecamatan Gombong, Kebumen
Pekerjaan :
Pengusaha angkring
Motto :
Gagal lebih baik daripada tidak pernah mencoba
C. Hasil
Wawancara dengan Narasumber
Kami selaku tim penulis telah
melaksanakan wawancara yang bertopik “pengusaha yang memulai usahanya dari nol
dan pantang menyerah” dengan narasumber Bapak Edi Waluyo yang bekerja sebagai
pengusaha angkring. Berikut ini merupakan hasil wawancara kami dengan narasumber.
Pengusaha Angkring
Bapak Edi Waluyo adalah seorang
pengusaha angkring yang berasal dari kota Klaten, tetapi saat ini beliau
bertempat tinggal di desa Patemon RT 2 RW 2, kecamatan Gombong. Beliau membuka
usaha angkring tidak lain karena untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Beliau memulai usahanya pada tahun 1993 dan masih bertahan sampai sekarang.
Dulu, beliau hanya nekat untuk membuka usaha angkring ini. Beliau memperoleh
modal untuk usaha angkring ini dengan meminjam uang di bank sebesar Rp
5.000.000,00 untuk biaya pembuatan gerobak dan untuk membeli dagangan yang akan
dijual. Ternyata beliau mempunyai banyak cabang karena beliau merupakan seorang
“juragan”. Beliau mempunyai 15 gerobak dan dijalankan oleh 15 karyawannya.
Mereka berjualan dengan cara mangkal, jadi tidak seperti pedagang keliling.
Karena beliau membuka usaha angkring di Kebumen, maka daerah penyebarannya atau
penjualannya hanya di daerah Kebumen, misalnya di Karanganyar, di Gombong, di
Kwarasan, dan daerah sekitar Gombong lainnya. Makanan yang dijual oleh beliau
sebagai pengusaha angkring adalah nasi bungkus, tempe goreng, tahu, pisang
goreng, dadar gulung, risoles, bakwan, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Sedangkan minuman yang dijual adalah “wedang jahe”, jahe susu, es teh, teh
manis, es jeruk, dan masih banyak aneka minuman yang tersedia. Makanan yang
menjadi ciri khas dari angkring tersebut adalah nasi bungkus atau yang sering
disebut dengan “nasi kucing”. Disebut nasi kucing karena makanan tersebut
seperti makanan kucing, yakni nasi diberi ikan tongkol dan diberi sambal. Harga
nasi bungkus atau nasi kucing tersebut dari beliau adalah Rp 600,00 dan
kemudian dijual oleh para karyawannya dengan harga Rp 750,00. Karyawan beliau
berangkat kurang lebih pukul 15.00 WIB dan pulang kira-kira pukul 01.00 WIB.
Jika nasibnya beruntung, maka waktu yang ramai dikunjungi oleh pembeli adalah
dari pukul 17.00–20.00 WIB. Beliau tidak hanya memiliki karyawan yang mengurusi
penjualan, melainkan beliau juga memiliki 7 karyawan yang ditempatkan di bagian
memasak. Bila dagangan tidak habis terjual, yang masih bisa dimanfaatkan maka
akan dimanfaatkan oleh beliau. Misalnya tempe, jika tidak habis terjual akan
dipotong-potong kemudian dijadikan kering untuk lauk pauk, jika nasi tidak
habis terjual maka nasi tersebut dijemur dan dijadikan makanan ternak. Beliau
memperoleh setoran uang dari karyawannya mulai dari Rp 75.000,00 sampai Rp
250.000,00. Pendapatan beliau tidak pasti, tetapi modal pasti bisa kembali.
Cara beliau untuk menarik minat pembeli cukup dengan memasang spanduk yang
berisi tentang apa saja makanan dan minuman yang tersedia di situ. Apabila ada
perayaan atau hari besar tertentu, ada perbedaan penghasilan yang beliau
peroleh. Misalnya pada malam tahun baru, di warung angkring keadaannya sangat
ramai pembeli, kadang-kadang pukul 22.00 WIB saja sudah pulang, tetapi jika
tidak ada peringatan hari besar penghasilannya biasa-biasa saja. Menjadi
pengusaha angkring ternyata juga mempunyai pelanggan, tetapi kadang-kadang juga
banyak pembeli baru. Misalnya pada saat orang bepergian jauh, mereka mampir di
warung-warung angkring beliau, juga banyak supir-supir yang mampir di warung
beliau dan tidak sedikit pula dari mereka yang menjadi pelanggan beliau.
Apabila cuaca buruk, misalnya hujan sangat mempengaruhi penjualan angkring
tersebut karena para pembeli malas untuk pergi keluar rumah, jadi kadang
makanan masih banyak yang tidak terjual. Sebenarnya beliau tidak menerima
pesanan, tetapi jika ada orang yang pesan makanan maka beliau layani. Tetapi
jarang yang memesan makanan di warung beliau.
Angkring Mataram Serbu Kebumen
Konon ketika Mataram di bawah
Sunan Amangkurat I tahun 1670-an, daerah Kebumen telah dikenal sebagai lumbung
padi. Bahkan sering menjadi pemasok bahan pangan bagi pasukan Mataram saat
menyerang Batavia.
Sampai kini pun Kebumen mampu
mencapai surplus beras sekitar 120.000 ton/tahun. Maklumlah, lahan sawah subur
di daerah barat Bagelen itu berupa irigasi teknis, ditopang sistem pengairan
dari Waduk Sempor dan Wadaslintang.
Namun sejak beberapa tahun terakhir
ini, kota Kebumen dan Gombong diserbu puluhan angkring dari Mataram. Mereka
memboyong nasi bungkus, gorengan, dan “wedang”. Akankah potensi Kebumen sebagai
daerah lumbung padi kini terancam? Tentu saja tidak.
Angkring Mataram tadi tak lain
adalah para pedagang kaki yang membawa gerobak dengan dua roda sepeda. Dari
penuturan pengusaha angkring itu, di kota Kebumen tiap malamnya kini ada 30
“wedang angkring” yang dilabeli khas Yogyakarta.
Para pedagang atau pengusaha wedang
angkring dari daerah Klaten ini dengan percaya diri mangkal di posisi-posisi
strategis. Wedang angkring khas Yogyakarta ini pun laris manis.
Lihatlah di sepanjang Jalan Pemuda
yang merupakan pusat kaki lima, ada empat wedang angkring di situ. Belum lagi
di sudut-sudut kota, seperti seputar alun-alun, Jalan HM Sarbini depan asrama
Polres, Jalan Ahmad Yani, dekat perempatan Kembaran, dan Kawedusan.
Singkat kata, dalam waktu singkat
sudut-sudut kota Kebumen dan Gombong telah dipenuhi wedang angkring.
Apa menu istimewa wedang angkring
khas Yogyakarta ini sehingga diterima oleh lidah orang Kebumen? Sebenarnya
sederhana. Wedang angkring ini, menurut Bapak Edi Waluyo (41 tahun), lelaki
asal desa Jarum, kecamatan Bayat, Klaten, diadopsinya dari jajanan malam di
Yogyakarta.
Pedagang biasanya menjual berbagai
minuman mulai dari teh, kopi, jahe, sampai susu. Menu andalannya yang populer
dinamai nasi kucing, yakni nasi bungkus dengan lauk sambal dan
sedikit ikan tongkol. Selain itu, ada nasi dengan lauk sayur kering tempe.
Murah Meriah
Gorengan yang dijual juga
bermacam-macam. Ada tempe, bakwan, pisang, tahu, dan sebagainya. Bapak Edi
Waluyo menjelaskan, harga nasi bungkus hanya Rp 600,00 , gorengan Rp 600,00 ,
dan minuman bergantung pada jenisnya. Teh dijual Rp 1.000,00 , kopi Rp 1.000,00
, susu Rp 1.500,00 , dan jahe susu Rp 2.000,00.
Puluhan angkring yang ada di Kebumen
itu, pemiliknya adalah Bapak Edi Waluyo yang tinggal di desa Patemon, Gombong.
Edi memiliki 22 angkring di Kebumen dan 12 angkring di Gombong yang diberi label
''Angkring Koboy Khas Yogyakarta''.
Bapak Edi Waluyo mengatakan, setiap
pedagang berjualan selepas ashar sampai sekitar pukul 01.00 dini hari.
Pemasaknya ada sendiri. Untuk gorengan, dia mengambil untung Rp 50,00 dan
wedang atau minuman serta nasi mendapat Rp 100,00.
Dia mengaku kerasan berjualan di
Kebumen. Sebab, sejak beberapa tahun ini jualannya tergolong cepat habis.
Apalagi karyawannya yang mangkal di Jalan Ahmad Yani, depan toko meubel Jepara
Indah yang strategis. Tiap malam belasan anak muda sambil bermain gitar
menyerbu angkringnya.
Hal serupa terjadi di tempat-tempat
lain. Sekali makan, cukup Rp 2.000,00-2.500,00 sudah kenyang sambil minum teh
panas dan menghisap sebatang rokok eceran. Saking larisnya, penjual sering
kehabisan es balok dan harus beli eceran ke kios sebelah.
Pelanggan silih datang pergi, baik
nongkrong di warung maupun membeli untuk dibawa pulang. “Lumayan, bisa untuk
ganjal perut”, kata seorang pembeli kepada Bapak Edi Waluyo yang dengan lahap
makan di angkringan. Murah meriah dan praktis, mungkin itulah kata kuncinya.
Lalu, siapa juragan wedang angkring
yang jeli memanfaatkan peluang itu? Beliau adalah Bapak Edi Waluyo, lelaki asli
Klaten namun beristri warga Gombong.
Beliau pernah punya usaha angkutan
di sebuah pasar di Yogyakarta. Namun usahanya bangkrut. Kemudian beliau ikut
istrinya di Gombong, sambil buka usaha potong rambut.
Ide segarnya muncul tatkala melihat
dunia malam di kota Gombong dan Kebumen yang terus menggeliat. Ia terilhami
oleh makanan dan wedang angkring di Yogyakarta yang punya pelanggan bukan hanya
para buruh angkut dan rakyat kecil, namun juga para mahasiswa dan masyarakat
elit.
Wedang angkring itu sebenarnya sudah
lama ada di kota Solo, sama-sama pusat keraton. Sampai awal tahun 1990-an,
wedang angkring masih dipikul. Kala itu namanya hik, kependekan dari ''hidangan
istimewa kampung''.
Pedagang hik ini berjualan di
sudut-sudut jalan, gang depan toko, dan hotel hingga larut malam. Konsumennya
selain tukang becak juga anak-anak dan orang-orang dewasa.
Kekhasan penjual angkring ini tak
lupa membawa radio transistor dan tiap malam Minggu menyetel siaran wayang
kulit.
Lalu, Bapak Edi Waluyo yang mulai enjoy berjualan
wedang angkring di Kebumen, hanya tertawa ketika ditanyakan soal radio itu.
''Ah, saya cukup dengarkan anak-anak muda itu main gitar, Mas,'' ucap lelaki
yang berasal dari kota Klaten itu.
D.
Hal-hal yang Perlu Dipersiapkan dalam Membuka Warung
Angkringan
Dari
wawancara dengan bapak edi waluyo penulis juga memperoleh data tentang hal-hal
yang perlu dipersiapkan dalam membuka warung angkringan, yaitu sebagai berikut
:
1. Pemilihan
Lokasi
Dalam menentukan lokasi untuk usaha warung nasi kucing
ini biasanya adalah di lingkungan dekat rumah. Tempatnya strategis terletak di
pinggir jalan raya, tempat keramaian pasar, dan merupakan tempat yang biasanya
di gunakan ngumpul para penjaga malam dan anak-anak muda. Warung nasi
kucing/Angkringan ini berupa kios kecil sederhana. Untuk masakan dimasak di
rumah, kemudian dibawa ke warung dan tempat cuci piring/ gelas pun tersedia.
2. Menentukan
Menu Masakan
Menu yang akan disajikan di dalam warung nasi kucing/
angkringan adalah nasi goreng, nasi goreng tiwul, nasi sambal ikan, nasi
telur, nasi teri, nasi ati, nasi tempe kering, nasi usus, dan untuk menemani
menyantap nasi kucing disediakan juga aneka macam gorengan seperti
mendoan/tempe goreng, tahu isi, bakwan, tape goreng, pisang goreng, tape
goreng, sate usus, sate telur, pangsit, kerupuk dan kepala sampai leher ayam,
sayap ayam, ceker ayam yang di bumbu bacem sebagai menu andalan produk warung
angkringan . Minuman yang disediakan juga beragam, seperti teh panas/ teh
anget, es teh, kopi/ es kopi, susu /es susu, jeruk panas/ jeruk anget, es
jeruk, wedhang jahe, susu jahe/ es susu jahe.
3. Juru Masak
Juru masak bisa dibilang sebagai kunci utama warung.
Ciri khas rasa ada di tangan juru masak dan juru masak tersebut memiliki
cita rasa yang tinggi.
4. Supplier
Murah
Mencari supplier murah tentu menjadi penting. Dengan
supply barang murah akan mampu menekan harga jual atau mendapatkan keuntungan
lebih. Bukan membeli barang murah dengan kualitas jelek. Tetapi memilih
kualitas bagus dengan harga lebih murah. Pencarian bisa dilakukan di pasar atau
pedagang keliling. Keuntungan pedagang keliling adalah barang diantar ke rumah
dan bisa mendapatkan pembayaran tunda. Tetapi fasilitas ini pun bisa didapat di
pasar/pedagang grosir untuk jarak yang tidak terlalu jauh.
5. Interior dan
Perabot
Dekorasi warung angkringan juga akan memberikan kesan
kepada konsumen. Desain dengan kesederhanaan juga lesehan, serta tersedia lahan
parkir sepeda motor serta parkir mobil yang memadai. Perlu mencari etalase
yaitu gerobak dan terpal kemudian kursi panjang kayu 3 buah, tikar, dan perabot
dapur. Gelas dan sendok memiliki seni tersendiri. Pemilihan yang tepat akan
menambah kenyamanan konsumen.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah kami menyelesaikan penulisan makalah hasil wawancara ini, akhirnya
kami dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1.
Sebuah wirausaha tidak
selamanya akan berjalan secara mulus dan tenang saja. Setiap usaha memiliki
resiko tersendiri, baik dalam skala besar atau skala kecil. Tergantung jenis
usaha yang sedang dikelola.
2.
Tapi sesusah apapun jenis
usahanya tetap saja ada hal yang membuat kita belajar mengerti untuk setiap
rejeki yang akan kita peroleh. Usaha boleh kecil tapi kalau hasilnya besar,
siapa yang tahu.
3.
Jadi jangan surut atau
pesimis terlebih dahulu sebelum terjun dan mengalaminya. Sekalipun akan terjadi
resiko yang tidak memungkinkan sekaligus jangan takut untuk mencoba.
4.
Untuk mencapai tujuan wirausaha yang diharapkan perlu
pengorbanan dan tekad yang kuat untuk mencapainya.
B. Saran-Saran
1.
Kita sebagai generasi muda sebaiknya meneledani
sifat-sifat teladan dalam berwirausaha yang dimiliki oleh Bapak Edi Waluyo
sebagai bekal kehidupan di masa yang akan datang.
2.
Penulis berharap laporan ini bisa bermanfaat bagi
pembaca yang budiman untuk menambah wawasan tentang wirausaha dan kehidupan di
lingkungan sekitar kita.
3.
Makalah ini masih banyak kekurangannya dan jauh dari
sempurna, oleh karena itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun
sangat penulis harapkan, sehingga bisa bermanfaat bagi penulis.
DAFTAR PUSTAKA
Almar, Buchori, 2001, kewirausahaan, Bandung,
Alfabeta.
This comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDeleteThis comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete