Konsep Dasar Komunikasi

 

  Konsep Dasar Komunikasi

Dewasa ini, manajemen pelatihan telah dan sedang menghadapi masalah yang sangat rumit. Apa yang dulunya tidak terpikirkan, kini menjadi barang biasa, misalnya penggunaan komputer untuk memperlancar mekanisme kerja manajemen pelatihan. Komunikasi antara pelatih dcngan peserta pelatihan harus dan terus berlangsung, mulai pola yang paling sederhana sarnpai pola yang kompleks. Kompleksitas itu meliputi pesan yang disampaikan dan media yang digunakan serta teknik yang dipakai dalam proses komunikasi.

Ada tiga tinjauan untuk memahami konsep dasar komunikasi antara pelatih dengan peserta pelatihan, seperti tertuang pada Gambar 14. Ketiga tinjauan tersebut dirumuskan di bawah ini:

1.      Tinjauan pertama, bahwa komunikasi itu dipandang sebagai proses penyampaian infomasi. Keberhasilan proses komunikasi antara pelatih dan peserta pelatihan terletak pada penguasaan platen atau fakta dan pengaturan cara-cara penyampaiannya. Definisi ini sering disebut sebagai "a message-centered phylosophy of communication" yang padanan dalam bahasa Indonesia disebut komunikasi yang berorientasi pada pesan. Peserta pelatihan sebagai penerima pesan dan pelatih sebagai pengirim pesan atau sebaliknya tidak merupakan komponen yang menentukan keberhasilan komunikasi.

Tinjauan ini menggarisbawahi pendapat bahwa hanya dengan sejumlah infomasi atau pesanlah, komunikasi antara pengirim dan penerima, misalnya antara pelatih dan peserta pelatihan atau sebaliknya, akan terjadi. Dengan pengertian ini, pengirim atau penyampai pesan terpanggil untuk berkomunikasi dengan penerima pesan itu karena ada sejumlah bekal informasi yang akan disampaikan.Tanpa ada pesan yang berarti, komunikasi antara pengirim dan penerima pesan, dalam anti yang sebenarnya tidak akan terjadi dengan bermakna. Intinya, pesan yang disSmpaikan merupakan kunci utama terjadinya makna dalam komunikasi.

2.      Tinjauan kedua, bahwa komunikasi itu merupakan suatu proses penyampaian gagasan-gagasan dari seseorang kepada orang lain. Dalam konsep ini terkandung makna bahwa penerima pesan dianggap sebagai bagian dari proses komunikasi, narnun penekanan­nya terletak kepada pengirim pesan atau message formulator. Sebagai contoh, jika pimpinan berkomunikasi dengan stafnya, titik tekan keberhasilan komunikasi terletak pada kemampuan pimpinan memfornntlasikan pesan-pesannya. Dalam kerangka pelatihan. makna pesan-pesan pelatihan sangat ditentukan oleh kemampuan pelatih dalam melakukan proses komunikasi dengan peserta pelatihan.

Efektivitas pesan tidak hanya terletak pada isi dan cara mengungkapkan pesan itu, tetapi juga pada kredibilitas sumber atau pengirim pesan itu sendiri. Di sini, perhatian tidak difokuskan pada penerima, tetapi hanya dengan catatan bahwa pesan harus disesuaikan dengan minat penerima.

Kelemahan komunikasi yang bersifat "speaker-centered phylosophy of communication" ini terletak pada beberapa hal. Pertama, penerima atau pendengar dipandang sebagai objek yang pasif dan bukan sebagai kekuatan aktif dalam proses komunikasi.

Kedua, konsep ini tidak mengemukakan terjadinya proses pemahaman atau meaning yang tidak dapat dihindari dalam proses komunikasi. Ketiga, terlalu parochial atau kurang mengungkap­kan masalah manusia yang suatu waktu berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Di dalam kenyataannya, komunikasi kadang-kadang digunakan oleh manusia untuk menyembunyikan pikiran atau melindungi apa yang menjadi pikiran sesunggahnya. Konsep ini ncenganggap bahwa ide atau gagasan seseorang sebagai alat penggerak terjadinya komunikasi antara pengirim dan penerima pesan itu.

Filosofi ini sesungguhnya memosisikan peserta pelatihan seolah-olah sebagai pihak yang harus menerima begitu saja pesan yang disampaikan oleh pelatih. Pelatih cenderung mendominasi atau paling tidak bcrasurnsi bahwa karena dialah komunikasi terjadi. Di dalam praktik kepelatihan yang otoriter, komunikasi antara pelatih dengan peserta pelatihan sering dilakukan secara satu arah. Kedudukan peserta pelatihan di sini hanyalah sebagai subjek yang didominasi oleh pelatihan dan harus menerima pesan-pesan pelatihan secara apa adanya.

3.      Tinjauan ketiga adalah bahwa komunikasi dipandang sebagai suatu proses menciptakan arti, ide, gagasan, atau. konsep yang dalam bahasa Inggris disebut "the process of creative the. meaning". Pesan dapat diciptakan melalui orang, televisi, radio, dan scbagainya. Akan tetapi, pengertian atau meaning hanya ada dalarn din individu masing-masing. Konsep ini tidak sepenuhnya tepat, mengingat bahwa komunikasi itu bukan proses penyampaian arti atau gagasan dari seseorang kepda orang lain.

Dalam proses pelatihan, pelatih tidak pernah memberikan meaning atas pesan yang disampaikannya. Apa yang disampaikan oleh pelatih itu hanyalah simbol atau lambang saja. Arti dari suatu pesan tidak dapat dipindah-pindahkan atau disampaikan secara apa adanya. Pengertian atau pemaknaan atas pesan itu terjadi pada peserta pelatihan yang terlibat dalam proses komunikasi itu. Pengertian atau pemahaman atas pesan yang disampaikan ditentu­kan oleh kemampuan penerima pesan itu. Dengan demikian, keberartian atas pesan atau sejumlah pesan itu ditentukan oleh kemampuan penerima pesan itu sendiri. Tugas pengirim pesan hanyalah menyampaikan ide atau informasi, beban pemahaman terhadap apa yang disampaikan ada pada penerima.

No comments:

Post a Comment

Perlindungan terhadap Perempuan ditinjau dari prinsip kesetaraan dalam Undang-Undang Perkawinan

  Kedinamisan hukum semakin memperhatikan nasib perempuan untuk adanya kesetaran dan keadilan gender dan untuk memberikan perlindungan t...