A.
Komunikasi dan Pelatihan
Manusia adalah
makhluk paling lengkap. Di dalam dirinya ada sosial, psikologis, agama,
kebudayaan, politik, dorongan untuk maju dalam aneka sektor, dan lain-lain.
Manusia “baru” hanya akan menjadi manusia jika berinteraksi dengan manusia
lain. Interaksi itu merupakan proses kemanusiaan dari pemanusiaan sejati. Kata
lainnya, manusia “baru” alias anak manusia, tidak akan menjadi manusia sesungguhnya
jika terisolasi dengan yang-lainnya.
Di masyarakat dan di dunia kerja, manusia tidak dapat
dan memang tidak rnungkin hidup terisolasi, baik dengan rekan sekerja maupun
dengan lingkungannya. Tujuan organisasi pelatihan dan tujuan pribadi
penyertanya yang hendak dicapai, strategi yang harus dijalankan, pelaksanaan
keputusan, realisasi rencana, dan sebagainya perlu dikomunikasikan kepada
individu atau anggota unit kerja serta sistem di luar organisasi pelatihan.
Semua
organisasi, besar atau kecil, sosial atau komersial, tidak akan dapat
menjalankan roda pekerjaan sebagaimana mestinya tanpa ditunjang oleh kemampuan
komunikasi secara efektif anggota komunitasnya dengan pengguna. Bagi manajer
pelatihan, kemampuan berkomunikasi sangat esensial untuk memengaruhi,
menciptakan perubahan perilaku, dan mendorong motivasi karyawannya, dan hal ini
merupakan sarana utama untuk mencapai tujuan organisasi pelatihan.
Uraian di atas memberikan pandangan yang singkat, namun
cukup jelas tentang arti penting komunikasi yang efektif bagi pelatih dalam
menjalankan tugas-tugas kepelatihan, juga antara pimpinan dengan bawahan.
Komunikasi yang efektif juga diperlukan dalam kehidupan antar pribadi,
mengingat tidak mungkin lagi kehidupan terisolasi memberikan kelayakan bagi
manusia. Manusia tidak sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan dengan cara sendiri
dan oleh dirinya sendiri. Makin tinggi peradaban manusia, makin tinggi pula
kebergantungannya kepada orang lain. Individu beradab senantiasa hidup dalam
konteks interaksinya dengan orang lain. Proses interaksi itu berjalan baik,
jika dijembatani oleh kemampuan berkomunikasi yang efektif.
B.
Definisi
Dalam konteks buku ini, komunikasi diartikan sebagai
proses penyampaian informasi dari seorang pelatih kepada peserta pelatihan, di
mana informasi itu disampaikan inelalui media atau tanda-tanda dengan menggunakan
bahasa tertentu yang saling dimengerti untuk mencapai suatu tujuan. Jaques merumuskan
“communication is the sum total of directly and indirectly consciously
transmitted feeling, attitudes and wishes”. Komunikasi adalah penyampaikan
segala perasaan, sikap, kebijakan, dan kehendak, baik secara langsung maupun
tidak langsung. Berdasarkan dua definisi di atas, dalam proses komunikasi
terlibat berbagai unsur, seperti, penyampai informasi (sender atau informatory,
penerima informasi (receiver), isi informasi (message), media
atau tanda-tanda yang digunakan (medium or symbols), dan bahasa yang
saling dimengerti (mutual language system). Unsur lain dari komunikasi
adalah gangguan (noise) dan respons (response).
Unsur-unsur itu tidak terpisahkan satu sama lain. Di
dalam proses komunikasi antara pelatih dengan peserta pelatihan selalu
melibatkan penyampai informasi (pelatih). Penerima informasi (peserta
pelatihan) dan sebaliknya, pesan yang diinformasikan (perintah, ajakan,
petunjuk, memberi contoh
dan sebagainya) media atau tanda-tanda yang digunakan, bahasa yang saling
dimengerti, kemungkinan gangguan dan pada saatnya respon adalah keharusan. Jika
unsur lain ada, tetapi peserta pelatihan tidak memberikan respons, proses
komunikasi menjadi tidak berarti. Juga, apabila antara pimpinan sebagai
pengirim pesan dengan bawahan sebagai penerima pesan itu tidak ada kesalingpahaman
bahasa, komunikasi antara pimpinan dengan bawahan akan mengalami kegagalan.
No comments:
Post a Comment