A.
Komunikasi dan Keterbukaan
Rasa permusuhan, takut, curiga, dan sikap-sikap lain
semacam itu bukan hanya menghambat penerimaan pesan dalam proses komunikasi,
tetapi juga mengarah pada bangkitnya motif-motif negatif yang dapat menganggu
jalannya komunikasi antara pelatih dan peserta pelatihan. Perbedaan status
selalu ada dalam dunia organisasi dan status dalarri pekerjaan itu merupakan
dambaan orang-orang yang ada dalam setiap institusi. Di lingkungan organisasi,
keterbukaan mutlak perlu dalam keseluruhan komunikasi antarmanusia. Orang yang
mempunyai kedudukan atau status rendah dapat saja memperoteh “keberanian
berkomunikasi”, asalkan mereka mampu menjalin tata hubungan lebih baik kepada
atasannya.
Atasan
yang bijak akan membawa bawahan pada kondisi yang mereka inginkan. Seorang
manajer harus mengadakan komunikasi untuk tujuan-tujuan tertentu, menyampaikan
informasi, mengubah perilaku bawahan atau mengarahkan perilakuperilaku mereka
agar sesuai dengan harapan. Karena itu, pengawasan, penjagaan terhadap sikap
jujur, adil, dan faktor lain yang ada hubungannya dengan spirit pekerjaan perlu
ada. Jika tidak, kekuatan melawan dari stafakan timbul dan selanjutnya
berakibat kurangnya kepuasan, kepercayaan, dan kesetiaan bawahan.
Ketidakmampuan manajer menimbulkan kepercayaan,
kepatuhan dan kesetiaan melalui komunikasi yang baik akan membawa dampak gagalnya
manajemen organisasi. Komunikasi antara pelatih dan peserta pelatihan dalam
kaitannya dengan tugas-tugas kepelatihan menduduki posisi sentral. Sebagai
contoh, kemampuan melatih yang lambat, disiplin pelatih rendah, peserta
pelatihan tidak terdorong belajar, rendahnya moral kerja, tidak terjalin rasa
saling memiliki, saling mencurigai, debat kusir, dan seperangkat gejala buruk
lainnya sering muncul di lembaga pelatihan. Munculnya rnasalah itu dapat saja
disebabkan oleh perbedaan status dalam pekerjaan atau karena tidak ada jaringan
komunikasi yang komunikatif. Sebagian dari kekacauan itu adalah kekacauan
orang-orang mengartikan kedudukan.
Perbedaan kedudukan atau status seseorang.dalam
pekerjaan akan mencerminkan perbedaan kekuasaan. Lillico (1972) melukiskan,
apabila status merupakan variabel pokok, akibat dari keinginan untuk maju dalam
komunikasi antar orang akan lebih tampak, jika perbedaan kekuasaan merupakan
substitusi dari perbedaan status itu.
Anggota kelompok yang mempunyai kesempatan besar
untuk promosi biasanya jarang melakukan protes, daripada orang yang tidak
mempunyai kesempatan untuk ini. Zender (1971) mengemukakan, orang yang mempunyai
kekuatan lebih kecil, sebagai akibat kecilnya kekuasaan yang ia miliki, tetapi
berharap naik dari posisi sekarang, kurang bebas berkomunikasi dengan
atasannya. Mereka lebih banyak menceritakan apa yang telah mereka capai.
Aktivitas seperti ini umumnya jarang dilakukan oleh orang-orang yang tidak atau
kurang berusaha memilih kursi atau jabatan.
Para investor, dalam dunia manajemen bisnis sering
disebut penyedia, atau di lingkungan pendidikan formal disebut pengawas,
kadang-kadang mempunyai pengaruh yang berbeda dalam unit kerja mereka dan
perbedaan itu mungkin muncul akibat perbedaan kemampuan berkomunikasi atau
akibat lain yang tidak dapat dipisahkan dengan itu. Kekuasaan erat kaitannya
dengan luasnya komunikasi dan pengaruh yang ditumbuhkan dari kekuasaan itu
merupakan pengaruh langsung dari komunikasi yang dilakukan. Kalau kita tekun
memerhatikan perilaku manusia dalam bekerja, dalam hidup bermasyarakat atau
dalam situasi sosial lainnya, kita akan membuat beberapa praasumsi:
·
Perilaku manusia
dalam situasi tertantu ditentukan oleh proses komunikasi yang mereka lakukan;
·
Perilaku manusia
dalam bekerja turut ditentukan oleh proses komunikasi yang mereka lakukan;
·
Perilaku manusia
dapat berubah, kalaupun situasi yang mereka hadapi adalah sama;
·
Perilaku bawahan
memengaruhi pola tingkah laku administrator atau pimpinan dalam melaksanakan
tugas-tugas dan demikian sebaliknya.
Tingkah laku atau dinamika perilaku individu tidak
lepas dari pekerjaan yang dihadapinya. Kemampuan kerja seseorang dapat dilihat
dari gerak tingkah lakunya. Bagi manajer, pimpinan atau supervisor, pola tingkah
laku bawahan dapat dijadikan pedoman khusus untuk menciptakan suasana serasi
dalam bekerja. Bawahan yang serius akan menghindari humor yang tidak perlu. Dia
banyak menghindari kata-kata humor yang terlalu banyak melibatkan aspek
pribadi. Sebaliknya, staf tidak betah dalam dunia keseriusan dan dia bekerja
karena gembira. Dia gembira karena kondisi memungkinkan.
Jika supervisor atau manajer menyamaratakan semua
bawahan dalam bekerja, dia akan mengalami kesukaran untuk menjadi pimpinan yang
sukses. Dengan staf serius, dia takkan sukses jika berbicara santai dan berbau
humor. Dengan seorang humoris, dia harus menyesuaikan diri, demikian pula untuk
insan yang lembah lembut. Jika komunikator berbuat bertentangan dengan kaidah
yang dianut komunikan, komunikan tidak akan dapat berperilaku sesuai dengan
tuntutan-tuntutan pekerjaan.
Pada abad modern ini, ketika komunikasi sudah
dianggap salah satu kebutuhan pokok, banyak orang telah memosisikan bahwa
proses komunikasi bukanlah suatu yang berdiri sendiri, lepas dari dunia lain.
Dengan “dunia lain” dimaksudkan, bahwa komunikasi selalu berada dalam ruang
atau batas waktu tertentu dan komunikasi tidak lepas dari komponen-komponen
itu. Pada taraf sederhana, komunikasi hanya diartikan sebagai setiap
pembicaraan seseorang atau sekelompok orang dengan seseorang atau sekelompok
lainnya tanpa melalui perantara atau media apa pun. Sekarang ini, proses
komunikasi telah sangat kompleks dan rumit. Dunia komunikasi antara pelatih dan
peserta pelatihan didorong oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara
luar biasa.
Jadi,
proses komunikasi bukanlah suatu yang berdiri sendiri dan karenanya selalu
dipengaruhi oleh lingkungan komunikasi itu. Hal itu ditunjang oleh konsep bahwa
komunikasi itu tidak linier, melainkan sirkuler. Beberapa contoh dapat
digambarkan berikut ini. Komunikasi tatap muka sering diganggu suasana gaduh.
Bawahan malu berbicara dengan rekan sekerja karena didengar atasan, apalagi isi
pembicaraan yang bersifat rahasia. Dalam kondisi seperti ini, pembicaraan antar
subjek tertentu berlangsung berbisik-bisik dan akhirnya didengar
sepotong-potong, sementara kecurigaan timbul di pihak lain.
Melalui media massa, misalnya seorang pelanggan
sebuah harian sering tidak sempat membaca berita hari ini karena agen tidak
mendistribusikan harian itu tepat pada waktunya. Peserta pelatihan tidak dapat
mendengar isi pembicaraan guru karena lingkungan gaduh. Komunikator dan
komunikan harus berbuat selektif sebab efektivitas komunikasi ditentukan oleh
komunikator atau komunikan itu. Kegagalan satu pihak berarti kegagalan
semuanya, sebab komunikasi adalah proses dinamis.
B.
Objek yang Dikomunikasikan
Komunikasi antarpelatih dan peserta pelatihan
laksana aliran darah dalam tubuh manusia. Ketika aliran darah berhenti,
kehidupan manusia akan berakhir. Jadi, komunikasi atau interaksi komunikatif
antara pelatih dan peserta pelatihan mutlak diperlukan. Melalui proses
komunikasi, pelatih dan peserta pelatihan akan mewujudkan interaksi yang
produktif dan lembaga pelatihan dapat berupaya mencapai tujuan secara efektif
dan efisien.
Permasalahannya terletak pada subjek yang terlibat
dalam proses komunikasi itu sendiri. Kegagalan seorang melakukan komunikasi
mungkin bukan disebabkan oleh rendahnya kemampuan.individu dalam
bidang ilmu komunikasi, melainkan paling sering disebabkan oleh kemampuan yang
lemah dalam melakukan praktik-praktik komunikasi. Tidak tertutup kemungkinan,
bahkan hampir pasti bahwa rendahnya kemampuan praktis berkomunikasi adalah
akibat logis dari rendahnya kemampuan penguasaan ilmu komunikasi.
Dalam rangka mewujudkan komunikasi yang efektif dan
efisien, karena praktik komunikas bukan angka, fakta, atau pengetahuan, melainkan
kecakapan praktis (practical skills), salah satu aspek yang harus
diketahui oleh orang yang terlibat dalam proses komunikasi adalah apa yang
dikomunikasikan. Strauss dan Sayles (1977) dalam buku "Personel: The
Human Problems of Management", mengemukakan
bahwa hal-hal yang.akan dikomunikasikan adalah maksud, kesan, keadaan emosi,
dan ungkapan perasaan.
o
Maksud
Tidak ada suatu proses interaksi manusia tanpa
tujuan. Pengiriman berita mempunyai sejumlah maksud tertentu, apakah mereka
sebagai pelatih, peserta pelatihan, teman sejawat, bawahan, atasan, atau pihak
luar. Pesan yang disampaikan dapat berupa informasi, instruksi, pandangan atau
saran, gagasan-gagsan baru, fakta atau data, indikasi, promosi, dan sebagainya.
Maksud-maksud ini memberi warna terhadap perilaku komunikator dan menimbulkan
respons yang berbeda pula bagi komunikan. Komunikasi dalam rangka instruksi
berbeda dengan komunikasi dalam rangka edukasi, dan berbeda pula
dengan komunikasi dalam rangka memberi saran. Masing-masing tujuan komunikasi
memberi dampak perilaku yang berbeda.
o Kesan
Suatu saat seorang manajer selesai mengadakan rapat
dan membuat satu atau beberapa keputusan, baik keputusan rutin maupun keputusan
generik. Setelah selesai mengambil keputusan, dalam kesempatan tidak formal, ia
menanyakan kepada stafnya: bagaimana kesan Anda terhadap keputusan yang
telah kita ambil bersama? Subjek yang disuguhi pertanyaan itu akan memberikan
kesan-kesan terhadap keputusan-keputusan yang telah diambil. Kesan yang
diberikan, mungkin positif atau mungkin pula negatif atau netral. Tentu saja,
tidak semudah itu. Kesan yang diberikan sering terlalu diwamai oleh motif lain.
Pengirim berita sering mengatur komunikasi secara tersembunyi untuk menyampaikan
pesan menyeluruh mengenai gengsi, harga diri atau kesediaan membantu staf atau
pimpinan puncak.
o
Keadaan emosi
Komunikasi antara pelatih dan peserta pelatihan
tidak pernah terlepas dari sistem nilai yang dianut oleh kedua belah pihak
karena komunikasi melibatkan seluruh kepribadian. Salah satu di antaranya
adalah keadaan emosi (emotional atmosphere). Pelatih atau peserta
pelatihan yang emosinya dalam keadaan tertekan akan berkomunikasi dalam kondisi
tertekan pula. Jika pelatih atau peserta pelatihan termasuk orang yang terbuka (extrovert),
dalam berkomunikasi dengan orang lain, ia akan banyak membicarakan soal
dirinya.
Sifat mengancam dari seorang pelatih tercermin dalam
caranya berkomunikasi. Kegelisahan tercermin dalam perilaku. Pelatih bukanlah
pengancam atau penggelisah. Konselor atau orang-orang yang bergerak dalam
bimbingan dan konseling (BK) banyak menghadapi hal seperti ini. Para siswa ada
yang sengaja datang dan secara sadar mengungkapkan kepada petugas BK, tentang
keadaan dirinya. Ada pula yang sengaja dipanggil sehubungan dengan kasus
tertentu. Komunikator dan komunikan yang berbeda dalam konteks “emosi” ini
harus mewujudkan saling pengenian. Disintegrasi keduanya menyebabkan komunikasi
menjadi buyar.
o
Ungkapan
perasaan
Pelatih juga memiliki perasaan tersembunyi (intorvert),
terlepas dari disadari atau tidak, baik terhadap diri sendiri maupun
terhadap individu yang dihadapi. Perasaan malu, masgul atau kurang pantas,
memberi warna terhadap perilakunya. Kadang-kadang, hal seperti ini berlangsung
secara irrasional. Penerima berita sering tidak percaya terhadap pembicaraan
seseorang tentang pribadi teman dekatnya, padahal secara fisik, penampilan
rekan tersebut sangat meyakinkan, sementara pihak lain memuji pribadinya.
Komunikasi sering diwarnai perasaan seperti ini.
Staruss darn Sayles mengemukakan bahwa perasaan pribadi yang tersembunyi ini
sering timbul dalam bentuk komunikasi nyata. Dengan demikian, ada pula
emosi-emosi yang timbul berdasarkan sikap-sikap yang tampak pada penerima berita.
Mungkin mereka berteriak mendengarkan kata-kata itu, mungkin pula tidak. Umpan
balik pada akhirnya paling menentukan apakah pesan yang disampaikan dapat diterima
atau tidak.
No comments:
Post a Comment