BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Jika
kita amati secara sekilas, antara makhluk satu dengan yang lain akan terlihat
perbedaan besar. Namun, jika diteliti lebih mendalam, ternyata semua makhluk
mempunyai banyak persamaan. Satu diantara persamaan tersebut adalah setiap
makhluk tersusun atas satuan atau unit terkecil yang disebut sel. Sel adalah
satuan kehidupan yang paling mendasar. Sel merupakan unit terkecil yang masih
dapat menjalankan proses yang berhubungan dengan kehidupan. Tubuh manusia
bersifat dinamis, dalam arti selalu berubah setiap saat. Sel ± sel yang
menyusun tubuh memiliki usia tertentu yang kemudian akan diganti lagi dengan
yang baru, namun pada akhirnya semua sel ± sel akan mengalami kematian secara
total. Sepanjang usia kehidupan akan terjadi efek proses penuaan pada tubuh
yang berlangsung terus sampai batas ± batas tertentu, dan akhirnya akan muncul
proses degenerasi (penuaan) dari semua organ dalam tubuh. Menjadi tua adalah
alamiah, namun percepatan atau perburukan proses degenerasi adalah kesalahan
manusia.
Degenerasi
sel atau kemunduran sel adalah kelainan sel yang terjadi akibat cedera ringan.
Cedera ringan yang mengenai struktur dalam sel seperti mitokondria dan
sitoplasma akan mengganggu proses metabolisme sel. Kerusakan ini sifatnya
reversibel artinya bisa diperbaiki apabila penyebabnya segera dihilangkan.
Apabila tidak dihilangkan, atau bertambah berat, maka kerusakan menjadi
ireversibel, dan sel akan mati. Kelainan sel pada cedera ringan yang bersifat
reversible inilah yang dinamakan kelainan degenerasi. Degenerasi ini akan
menimbulkan tertimbunnya berbagai macam bahan di dalam maupun di luar sel.
Degenerasi
sel atau penuaan sel ditandai dengan menurunnya fungsi berbagai organ tubuh.
Gejala menua tampak secara fisik dan psikis. Tanda fisik misalnya, masa otot berkurang,
lemak meningkat, fungsi seksual terganggu, sakit tulang dan kemampuan kerja
menurun. Sedangkan tanda psikis berupa sulit tidur, mudah cemas, mudah
tersinggung, gairah hidup menurun dan merasa sudah tidak berarti lagi. Faktor
pemicu degenerasi sel antara lain adalah faktor genetis, defisiensi nutrisi dan
cedera pada sel.
1.2
Rumusan masalah
Adapun
rumusan masalah yang diambil adalah sebagai berikut :
1.2.1
Bagaimana terjadinya proses degenerasi ?
1.2.2
Bagaimana Latar Belakang Kepercayaan dan Kebudayaan di
Indonesia dan Asia yang Mempengaruhi
Penyakit ?
1.2.3
Apa saja masalah Kesehatan yang Timbul Berhubungan dengan
Aspek Sosial Budaya?
1.3
Tujuan Penulisan
Tujuan
penulisan makalah ini terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus.
1.3.1
Tujuan Umum
1.3.1.1 Tujuan Umum mahasiswa dapat mengetahui
terjadinya proses degenerasi.
1.3.1.2 Tujuan Umum mahasiswa dapat mengetahui
terjadinya Latar Belakang Kepercayaan dan Kebudayaan di Indonesia dan Asia yang
Mempengaruhi Penyakit.
1.3.1.3 Tujuan Umum mahasiswa dapat mengetahui masalah
Kesehatan yang Timbul Berhubungan dengan Aspek Sosial Budaya.
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah
mahasiswa mampu:
1.
Mengetahui pengertian degenerasi.
2.
Mengetahui jenis-jenis degenerasi.
3.
Mengetahui penyebab terjadinya degenerasi
4.
Mengetahui pengertian penyakit degeneratif dan macam-macamnya.
5.
Mengetahui terjadinya Latar Belakang Kepercayaan dan
Kebudayaan di Indonesia dan Asia yang Mempengaruhi Penyakit.
6.
Mengetahui masalah Kesehatan yang Timbul Berhubungan
dengan Aspek Sosial Budaya.
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1
Degenerasi
2.1.1
Pengertian Degenerasi
Degenerasi
merupakan suatu perubahan keadaan secara fisika dan kimia dalam sel, jaringan
atau organ yang bersifat menurunkan efisiensinya.
Degenerasi
sel atau kemunduran sel adalah kelainan sel yang terjadi akibat cedera ringan.
Cedera ringan yang mengenai struktur dalam sel seperti mitokondria dan
sitoplasma akan mengganggu proses metabolisme sel. Kerusakan ini sifatnya
reversible artinya bisa diperbaiki apabila penyebabnya segera dihilangkan.
Apabila tidak dihilangkan, atau bertambah berat, maka kerusakan menjadi
ireversibel, dan sel akan mati.
Kelainan
sel pada cedera ringan yang bersifat reversible inilah yang dinamakan kelainan
degenerasi. Degenerasi ini akan menimbulkan tertimbunnya berbagai macam bahan
di dalam maupun di luar sel.
Degenerasi
dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu pembengkakan sel dan perubahan
perlemakan. Pembengkakan sel timbul jika sel tidak dapat mengatur keseimbangan
ion dan cairan yang menyebabkan hidrasi sel. Sedangkan perubahan perlemakan
bermanifestasi sebagai vakuola-vakuola lemak di dalam sitoplasma dan terjadi
karena hipoksia atau bahan toksik. Perubahan perlemakan dijumpai pada sel yang
tergantung pada metabolism lemak seperti sel hepatosit dan sel miokard.
(Sudiono dkk, 2003)
Apabila
sebuah stimulus menyebabkan cedera sel, maka perubahan yang pertama kali
terjadi adalah terjadinya kerusakan biokimiawi yang mengganggu proses
metabolisme. Sel bisa tetap normal atau menunjukkan kelainan fungsi yang
diikuti dengan perubahan morfologis.
2.1.1.1 Cedera subletal
Terjadi
bila sebuah stimulus menyebabkan sel cedera dan menunjukkan perubahan
morfologis tetapi sel tidak mati. Perubahan subletal ini bersifat reversibel
dimana bila stimulusnya dihentikan maka sel akan kembali pulih seperti
sebelumnya. Cedera subletal ini disebut juga proses degeneratif. Perubahan
degeneratif lebih sering mengenai sitoplasma, sedangkan nukleus tetap dapat
mempertahankan integritasnya. Bentuk perubahan degeneratif yang paling sering
terjadi adalah akumulasi cairan di dalam sel akibat gangguan mekanisme
pengaturan cairan. Biasanya disebabkan karena berkurangnya energi yang
digunakan pompa natrium untuk mengeluarkan natrium dari intrasel. Sitoplasma
akan terlihat keruh dan kasar (degenerasi bengkak keruh). Dapat juga terjadi
degenerasi lebih berat yaitu degenerasi lemak atau infiltrasi lemak dimana
terjadi penumpukan lemak intrasel sehingga inti terdesak ke pinggir. Jaringan
akan bengkak dan bertambah berat dan terlihat kekuning-kuningan. Misalnya,
perlemakan hati (fatty liver) pada keadaan malnutrisi dan alkoholik.
2.1.1.2 Cedera Letal
Bila
stimulus yang menyebabkan sel cedera cukup berat dan berlangsung lama serta
melebihi kemampuan sel untuk beradaptasi maka akan menyebabkan kerusakan sel
yang bersifat ireversibel (cedera sel) yang berlanjut kepada kematian sel.
2.1.2
Jenis-Jenis Degenerasi
Berbagai
jenis degenerasi sel yang sering dijumpai antara lain :
2.1.2.1 Degenerasi Albuminosa
Pembengkakan
sel adalah manifestasi awal sel terhadap semua jejas sel. Perubahan morfolofi
yang terjadi sulit dilihat dengan mikroskop cahaya. Bila pembengkakan sel sudah
mengenai seluruh sel dalam organ, jaringan akan tampak pucat, terjadi
peningkatan turgor, dan berat organ.
Gambaran
mikroskopis menunjukkan sel membengkak menyebabkan desakan pada kapiler-kapiler
organ. Bila penimbunan air dalam sel berlanjut karena jejas sel semakin berat,
akan timbul vakuola-vakuola kecil dan nampak cerah dalam sitoplasma. Vakuola
yang terjadi disebabkan oleh pembengkakan reticulum endoplasmik.
Awalnya
terjadi akibat terkumpulnya butir-butir protein di dalam sitoplasma, sehingga
sel menjadi bengkak dan sitoplasma menjadi keruh (cloudy swelling: bengkak
keruh). Contohnya adalah pada penderita pielonefritis atau pada beberapa jam
setelah orang meninggal. Banyak ditemukan pada tubulus ginjal. (Halim, 2010)
2.1.2.2 Degenerasi Hidrofik (Degenerasi Vakuolar)
Degenerasi
hidrofik merupakan jejas sel yang reversible dengan penimbunan intraselular
yang lebih parah jika dengan degenerasi albumin. Merupakan suatu cedera sel
yang menyebabkan sel itu tampak bengkak. Hal itu dikarenakan meningkatnya
akumulasi air dalam sitoplasma. Sel
yang mengalami degenerasi hidropik secara mikroskopis tampak sebagai berikut :
1.
Sel tampak membesar atau bengkak karena akumulasi air dalam
sitoplasmanya.
2.
Sitoplasma tampak pucat.
3.
Inti tetap berada di tengah.
4.
Pada organ hati, akan tampak lumen sinusoid itu menyempit.
5.
Pada organ ginjal, akan tampak lumen tubulus ginjal menyempit.
6.
Pada keadaan ekstrim sitoplasma sel akan tampak jernih dan ukuran
sel makin membesar (Balloning Degeneration) sering ditemukan pada sel epidermal
yang terinfeksi epitheliotropic virus, seperti pada pox virus.
Sedangkan
secara makroskopis, sel akan tampak normal sampai bengkak, bidang sayatan
tampak cembung, dan lisis dari sel epidermal.
Degenerasi
Hidropik sering dijumpai pada sel endothel, alveoli, sel epitel tubulus
renalis, hepatosit, sel-sel neuron dan glia otak. Dari kesekian sel itu, yang
paling rentan adalah sel-sel otot jantung dan sel sel pada otak. Etiologinya
sama dengan pembengkakan sel hanya intensitas rangsangan patologik lebih berat
dan jangka waktu terpapar rangsangan patologik lebih lama.
Secara
miokroskopik organ yang mengalami degenerasi hidrofik menjadi lebih besar dan
lebih berat daripada normal dsan juga nampak lebih pucat. Nampak juga
vakuola-vakuola kecil sampai besar dalam sitoplasma.
Degenerasi
ini menunjukkan adanya edema intraseluler, yaitu adanya peningkatan kandungan
air pada rongga-rongga sel selain peningkatan kandungan air pada mitokondria
dan reticulum endoplasma. Pada mola hedatidosa telihat banyak sekali. gross
(gerombolan) mole yang berisi cairan. Mekanisme yang mendasari terjadinya generasi
ini yaitu kekurangan oksigen, karena adanya toksik, dan karena pengaruh
osmotik.
2.1.2.3
Degenerasi Lemak
Degenerasi
lemak dan perubahan perlemakan (fatty change) menggambarkan adanya penimbunan
abnormal trigliserid dalam sel parenkim. Perubahan perlemakan sering terjadi di
hepar karena hepar merupakan organ utama dalam metabolisme lemak selain organ
jantung, otot dan ginjal.
Etiologi
dari degenerasi lemak adalah toksin, malnutrisi protein, diabetes mellitus,
obesitas, dan anoksia. Jika terjadi gangguan dalam proses metabolisme lemak,
akan timbul penimbunan trigliserid yang berlebihan. Akibat perubahan perlemakan
tergantung dari banyaknya timbunan lemak. Jika tidak terlalu banyak timbunan
lemak, tidak menyebabkan gangguan fungsi sel, tetapi jika timbunan lemak
berlebihan, terjadi perubahan perlemakan yang menyebabkan nekrosis.
2.1.2.4 Degenerasi
Hyalin (Perubahan Hyalin)
Istilah
hyaline digunakan untuk istilah deskriprif histologik dan bukan sebagai tanda
adanya jejas sel. Umumnya perubahan hyalin merupakan perubahan dalam sel atau
rongga ekstraseluler yang memberikan gambaran homogeni, cerah dan berwarna
merah muda dengan pewarnaan Hematoksilin Eosin. Keadaan ini terbentuk akibat
berbagai perubahan dan tidak menunjukkan suatu bentuk penimbunan yang spesifik.
Contoh : degenerasi hialin pada otot ( penyakit Boutvuur).
2.1.2.5 Degenerasi
Zenker
Dahulu
dikenal sebagai degenerasi hialin pada otot sadar yang mengalami nekrosis. Otot
yang mengalami degenerasi zenker adalah otot rektus abdominis dan diafragma.
2.1.2.6 Degenerasi Mukoid (Degenerasi Miksomatosa)
Degenerasi
Mukoid mukus adalah substansi kompleks yang cerah, kental, dan berlendir dengan
komposisi yang bermacam-macam dan pada keadaan normal disekresi oleh sel epitel
serta dapat pula sebagai bagian dari matriks jaringan ikat longgar tertentu.
Musin
dapat dijumpai di dalam sel, dan mendesak inti ke tepi seperti pada
adenokarsinoma gaster yang memberikan gambaran difus terdiri atas sel-sel
gaster yang memiliki sifat ganas dan mengandung musin. Musin tersebut akan
mendesak inti ke tepi sehingga sel menyerupai cincin dinamakan Signet Ring
Cell. Musin di jaringan ikat, dahulu dinamakan degenerasi miksomatosa. Keadaan
ini menunjukkan adanya musin di daerah interselular dan memisahkan sel-sel
Stelata (Stellate Cell/ Star Cell). (Sudiono dkk, 2003)
2.1.3
Penyebab Degenerasi
Jejas
sel merupakan keadaan dimana sel beradaptasi secara berlebih atau sebaliknya,
sel tidak memungkinkan untuk beradaptasi secara normal. Di bawah ini merupakan
penyebab-penyebab dari jejas sel :
1.
Kekurangan oksigen
2.
Kekurangan nutrisi/malnutrisi
3.
Infeksi sel
4.
Respons imun yang abnormal/reaksi imunologi
5.
Faktor fisik (suhu, temperature, radiasi, trauma, dan gejala
kelistrikan) dan kimia (bahan-bahan kimia beracun)
6.
Defect (cacat / kegagalan) genetic
7.
Penuaan
Berdasarkan
tingkat kerusakannya, jejas sel dibedakan menjadi dua kategori utama, yaitu
jejas reversible (degenerasi sel) dan jejas irreversible (kematian sel). Contoh
degenerasi sel ialah mola hidatidosa termasuk jejas sel yang reversible yaitu apabila
penyebabnya dihilangkan organ atau jaringan bisa berfungsi normal. Sel dapat
cedera akibat berbagai stressor. Cedera terjadi apabila stresor tersebut
melebihi kapasitas adaptif sel.
2.1.4
Penyakit Degeneratif
Penyakit
degeneratif adalah penyakit yang menyebabkan terjadinya kerusakan atau
penghacuran terhadap jaringan atau organ tubuh. Proses dari kerusakan ini dapat
disebabkan oleh penggunaan seiring dengan usia maupun karena gaya hidup yang
tidak sehat. Beberapa contoh penyakit degeneratif yang sering dapat ditemui.
2.1.4.1 Kencing manis atau diabetes mellitus (DM) tipe 2
Kencing
manis atau diabetes mellitus adalah penyakit yang ditandai dengan tingginya
kadar glukosa atau gula dalam darah yang disebabkan oleh tubuh tidak dapat
menggunakan glukosa atau gula dalam darah sebagai sumber energi. Penyakit ini
terdiri dari beberapa tipe, tipe tersering yang dapat ditemui adalah diabetes
mellitus tipe 2. Gejala klasik :
1.
Cepat merasa haus. Penderita akan cepat merasa haus dan sering
minum. Sering kali penderita tidak menyadari ini sebagai gejala karena merasa
banyak minum baik untuk fungsi ginjal.
2.
Sering buang air kecil (BAK). Seringkali penderita mengira penyebab
sering BAK karena penderita sering minum air dan bukan akibat dari suatu
penyakit. Selain itu, gejala ini juga dapat mengganggu tidur di malam hari
karena bolak balik terbangun untuk BAK.
3.
Cepat merasa lapar. Hal ini terjadi karena tubuh tidak dapat
menggunakan gula di dalam darah sebagai sumber energi, padahal kadar gula di
dalam darah sudah tinggi. Karena tidak adanya sumber energi maka tubuh merasa
kelaparan sehingga selalu ingin makan.
4.
Gejala akibat komplikasi dari penyakit ini muncul sebagai akibat
dari kelaparan pada sel - sel tubuh. Kelaparan dalam jangka panjang menyebabkan
sel tersebut mati.
5.
Kesemutan pada ujung - ujung jari tangan dan kaki. Apabila gejala
ini muncul artinya telah terjadi kerusakan pada ujung - ujung saraf. Keluhan
lama - lama akan bertambah berat sehingga merasa baal atau mati rasa. Apabila
sudah baal penderita sering tidak sadar apabila kakinya terluka.
6.
Pengelihatan menjadi buram. Hal tersebut dapat diakibatkan oleh
kelainan dari retina, kornea, maupun lensa dari mata.
7.
Luka yang sulit sembuh. Sel - sel pada tubuh sulit untuk
memperbaiki diri untuk menutup luka yang terjadi. Selain itu, kadar gula yang
tinggi disukai oleh kuman - kuman sehingga mudah terjadi infeksi dan
mempersulit penutupan luka.
Faktor
resiko yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit ini antara lain:
1.
Kebiasaan makan makanan manis
2.
Kelebihan berat badan
3.
Genetik
4.
Jarang berolah raga
Penyebab
glukosa tidak dapat digunakan di dalam tubuh pada diabetes tipe 2 adalah:
1.
Resistensi insulin pada sel – sel
Agar
sel dapat menggunakan glukosa dari dalam darah diperlukan insulin. Pada
penderita dengan penyakit ini, ditemukan bahwa sel - sel tersebut menjadi
kurang sensitif terhadap insulin. Walaupun terdapat insulin di dalam tubuh,
tetapi sel tersebut tidak dapat menggunakannya. Hal tersebut menyebabkan kadar
gula dalam darah menjadi tinggi.
2.
Produksi insulin yang rendah oleh pancreas
Insulin
dihasikanl oleh sel beta pankreas. Produksi insulin yang tidak mencukupi
kebutuhan menyebabkan tubuh tidak dapat menggunakan glukosa di dalam darah.
2.1.4.2 Osteoartritis (OA)
OA
merupakan penyakit degeneratif yang menyebabkan kerusakan jaringan tulang rawan
pada sendi yang ditandai dengan perubahan pada tulang. Faktor resiko terjadinya
penyakit ini adalah genetik, perempuan, riwayat benturan pada sendi, usia dan
obesitas. Gejala yang dapat ditemukan pada penyakit ini adalah:
1.
Nyeri pada sendi terutama setelah beraktivitas dan membaik setelah
beristirahat
2.
Kadang dapat ditemukan kekakuan di pagi hari, durasi tidak lebih
dari 30 menit.
Gejala
tersebut menyebabkan kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari - hari dan
bekerja. Umumnya sendi yang terkena adalah sendi - sendi yang menopang tubuh
seperti lutut, panggul, dan punggung.
Untuk
mendiagnosis penyakit ini diperlukan pemeriksaan fisik terhadap sendi yang
terkena dan pemeriksaan penunjang untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit
lain. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan berupa rontgen pada sendi yang
terkena dan laboratorium. Pada roentgen dapat ditemukan perubahan bentuk dari sendi
yang terkena.
2.1.4.3 Osteoporosis
Osteoporosis
adalah penyakit degeneratif pada tulang yang ditandai dengan rendahnya massa
tulang dan penipisan jaringan tulang. Hal tersebut dapat menyebabkan tulang
menjadi rapuh dan mudah patah.
Diagnosis
dari penyakit ini berdasarkan massa tulang. Disebut osteoporosis apabila massa
tulang <-2 -1="" -2="" agar="" antara="" apabila="" dan="" deviasi="" dilakukan="" diri="" disebut="" gejala="" harus="" hingga="" ini.="" ini="" itu="" jatuh="" juga="" kamar="" karena="" kasar.="" lantai="" maka="" mandi="" massa="" melakukan="" memberikan="" mencegah="" menggunakan="" menjadi="" misalnya="" mudah="" normal="" osteopenia="" patah="" penderita="" penting="" penyakit="" penyesuaian="" sd.="" selain="" skrining="" span="" standar="" terjadi="" tidak="" tulang="" untuk="" yang=""> Osteoporosis
dapat disebabkan oleh: -2>
1.
Penyerapan kalsium yang menurun pada wanita post monopause,
2.
Usia lebih dari 70 tahun,
3.
Penyakit kronis,
4.
Defisiensi zat pembentu tulang seperi kalsium, viatamin D.
2.1.4.4 Penyakit jantung koroner (PJK)
Penyakit
jantung koroner adalah penyakit jantung yang disebabkan oleh adanya sumbatan
pada pembuluh darah koroner. Pembuluh darah koroner adalah pembuluh darah yang
memperdarahi jantung. Sumbatan dari pembuluh darah tersebut diakibatkan oleh
adanya proses aterosklerosis atau penumpukan lemak/plak di pembuluh darah
sehingga diameter pembuluh darah makin kecil dan mengeras/kaku. Proses
aterosklerosis terjadi perlahan - lahan seiring dengan waktu, tetapi pada orang
- orang dengan kadar kemak di dalam darah yang tinggi, proses ini di pembuluh
darah menjadi semakin cepat dan banyak. Sumbatan dalam pembuluh darah dapat
bersifat:
1.
Parsial, di mana pembuluh darah masih dilalui oleh darah walaupun
alirannya sudah mengecil. Keluhan dapat dirasakan pada saat terjadi kebutuhan
akan oksigen yang meningkat. Contohnya pada saat emosi dan aktivitas berjalan
jauh kebutuhan tubuh akan oksigen meningkat tetapi jantung tidak dapat memenuhi
kebutuhan tersebut sehingga timbul nyeri pada dada.
2.
Total, di mana pembuluh darah sudah tidak dapat dilalui oleh darah
karena tertutup total. Penutupan total tersebut dapat disebabkan oleh lepasnya
tumpukan lemak dipembuluh darah dan menyumbat di pembuluh darah yang ukurannya
lebih kecil. Sumbatan total menyebabkan keluhan nyeri dada yang dirasakan lebih
berat dan tajam seperti dada ditimpa benda berat.
Pembuluh
darah jantung yang tersumbat dapat menyebabkan kematian dari sel jantung karena
tidak mendapatkan asupan nutrisi dan oksigen yang cukup. Sel jantung yang sudah
mati tidak dapat diperbaiki lagi. Gejala yang dapat ditemukan pada penyakit ini
:
1.
Nyeri di dada, dengan ciri khas nyeri di dada kiri, nyeri menjalar
ke tangan kiri dagu. Pada beberapa kasus, nyeri dada dapat bersifat tidak khas
seperti nyeri di ulu hati, nyeri menjalar ke punggung, dan nyeri menjalar ke
lengan kanan.
2.
Sensasi berat di dada seperti ditimpa benda berat, nyeri yang tajam
dan menusuk di dada, dan seperti diremas - remas.
3.
Jantung berdebar – debar.
4.
Nyeri dan sesak napas timbul apabila beraktivitas berat dan mereda
setelah beristirahat.
Kadang,
pada awalnya penderita tidak sadar mengalami PJK karena nyeri yang dirasakan
hanya sebentar
Untuk diagnosis dapat dilakukan
pemeriksaan di bawah ini:
1.
Elektrokardiografi (EKG) untuk melihat kelistrikan jantung;
2.
Enzim jantung, meningkat terutama saat serangan jantung;
3.
3.Tes treatmil untuk melihat kondisi kelistrikan jantung saat
beraktivitas. Tes ini dilakukan pada tes EKG yang normal tetapi gejala khas dan
berulang;
4.
Rontgen dada untuk melihat ukuran dari jantung;
5.
CT scan dengan angiografi koroner untuk melihat kondisi pembuluh
darah jantung;
6.
Echokardiografi berupa pemeriksaan USG pada jantung untuk melihat
fungsi jantung untuk memompakan darah dan melihat luas daerah sel jantung yang
terkena.
2.2
Berbagai Latar Belakang
Kepercayaan dan Kebudayaan di Indonesia dan Asia yang Mempengaruhi Penyakit /
kesehatan
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta
yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal)
diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Budaya
adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan
luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur
sosiobudaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Sedangkan
kepercayaan adalah kemauan seseorang untuk bertumpu pada orang lain dimana kita
memiliki keyakinan padanya. Kepercayaan merupakan kondisi mental yang
didasarkan oleh situasi seseorang dan konteks sosialnya
Aspek Kepercayaan dan Budaya yang Mempengaruhi Penyakit /
Status Kesehatan dan Perilaku Kesehatan
1. Pengaruh tradisi; banyak tradisi yang
mempengaruhi perilaku kesehatan dan status kesehatan misalnya tradisi merokok
bagi orang laki-laki maka kebanyakan laki-laki lebih banyak yang menderita
penyakit paru dibanding wanita. Tradisi wanita habis melahirkan tidak boleh
makan ikan karena ASI akan berbau amis, sehingga ibu nifas akan pantang makan
ikan.
2. Sikap fatalistis; sikap fatalistis arti sikap
tentang kejadian kematian dari masyarakat. Hal lain adalah sikap fatalistis
yang juga mempengaruhi perilaku kesehatan. Contoh, beberapa anggota masyarakat
di kalangan kelompok tertentu (fanatik) percaya bahwa anak adalah titipan
Tuhan, dan sakit atau mati adalah takdir, sehingga masyarakat kurang berusaha
untuk segera mencari pertolongan pengobatan bagi anaknya yang sakit, tetapi
lebih memilih pasrah.
3. Sikap ethnosentris; sikap ethnocentris yaitu
sikap yang memandang bahwa budaya kelompok adalah yang paling baik, jika
dibandingkan dengan kebudayaan pihak lain. Misalnya orang-orang barat merasa
bangga terhadap kemajuan ilmu dan teknologi yang dimilikinya,dan selalu
beranggapan bahwa kebudayaannya paling maju, sehingga merasa superior terhadap
budaya dari masyarakat yang sedang berkembang. Tetapi dari sisi lain, semua
anggota dari budaya lainnya menganggap bahwa yang dilakukan secara alamiah
adalah yang terbaik. Oleh karena itu, sebagai petugas kesehatan harus
menghindari sikap yang menganggap bahwa petugas adalah orang yang paling
pandai, paling mengetahui tentang masalah kesehatan, karena pendidikan petugas
lebih tinggi dari pendidikan masyarakat setempat sehingga tidak perlu
mengikut-sertakan masyarakat tersebut dalam masalah kesehatan masyarakat. Dalam
hal ini memang petugas lebih menguasai tentang masalah kesehatan, tetapi
masyarakat dimana mereka bertempat tinggal lebih mengetahui keadaan di
masyarakatnya sendiri. Contoh lainnya seorang perawat atau dokter menganggap
dirinya yang paling tahu tentang kesehatan, sehingga merasa dirinya berperilaku
bersih dan sehat sedangkan masyarakat tidak.
4. Pengaruh perasaan bangga pada statusnya; sikap
perasaan bangga atas perilakunya walaupun perilakunya tidak sesuai dengan
konsep kesehatan. hal tersebut berkaitan dengan sikap ethnosentrisme. Contoh,
dalam upaya perbaikan gizi, di suatu daerah pedesaan tertentu, menolak untuk
makan daun singkong, walaupun mereka tahu kandungan vitaminnya tinggi. Setelah
diselidiki ternyata masyarakat beranggapan daun singkong hanya pantas untuk
makanan kambing, dan mereka menolaknya karena status mereka tidak mau dan tidak
dapat disetarakan dengan kambing.
5. Pengaruh norma; norma dalam masyarakat sangat
mempengaruhi perilaku masyarakat di bidang kesehatan, karena norma yang mereka
miliki diyakininya sebagai bentuk perilaku yang baik. Contoh, upaya untuk
menurunkan angka kematian ibu dan bayi banyak mengalami hambatan karena ada
norma yang melarang hubungan antara dokter yang memberikan pelayanan dengan ibu
hamil sebagai pengguna pelayanan.
6. Pengaruh nilai; nilai yang berlaku didalam
masyarakat berpengaruh terhadap perilaku kesehatan dan perilaku individu
masyarakat, kerena apa tidak melakukan nilai maka dianggap tidak berperilaku
“pamali” atau “saru “. Nilai yang ada di masyarakat tidak semua mendukung
perilaku sehat. Nilai-nilai tersebut ada yang menunjang dan ada yang merugikan
kesehatan. Nilai yang merugikan kesehatan misalnya arti dari memiliki anak yang
banyak akan membawa rejeki sendiri sehingga tidak perlu lagi takut dengan anak
banyak. Nilai yang mendukung kesehatan, tokoh masyarakat setiap tutur katanya
harus wajib ditaati oleh kelompok masyarakat, hal ini tokoh masyarakat dapat di
pakai untuk membantu sebagai key person dalam program kesehatan.
7. Pengaruh unsur budaya yang dipelajari pada
tingkat awal dari proses sosialisasi terhadap perilaku kesehatan. Kebiasaan
yang ditanamkan sejak kecil akan berpengaruh terhadap kebiasaan pada seseorang
ketika ia dewasa. Misalnya saja, anak harus mulai diajari sikat gigi, buang air
besar di kakus, membuang sampah ditempat sampah, cara makan dan berpakaian yang
baik sejak awal, dan kebiasaan tersebut
terus dilakukan sampai anak tersebut dewasa dan bahkan menjadi tua.kebiasaan
tersebut sangat mempengaruhi perilaku kesehatan yang sangat sulit untuk diubah
ketika dewasa.
8. Pengaruh konsekuensi dari inovasi terhadap
perilaku kesehatan; tidak ada kehidupan sosial masyarakat tanpa perubahan, dan
sesuatu perubahan selalu dinamis artinya setiap perubahan akan diikuti
perubahan kedua, ketiga dan seterusnya. apabila seorang pendidik kesehatan
ingin melakukan perubahan perilaku kesehatan masyarakat,maka yang harus
dipikirkan adalah konsekuensi apa yang akan terjadi jika melakukan perubahan,
menganalisis faktor-faktor yang terlibat atau berpengaruh terhadap perubahan
dan berusaha untuk memprediksi tentang apa yang akan terjadi dengan perubahan
tersebut, apabila ia tahu budaya masyarakat setempat dan apabila ia tahu
tentang proses perubahan kebudayaan, maka ia harus dapat mengantisipasi reaksi
yang muncul yang mempengaruhi outcome dari perubahan yang telah direncanakan.
Artinya seorang petugas kesehatan kalau mau melakukan perubahan perilaku
kesehatan harus mampu menjadi contoh dalam perilakukanya sehari-hari. Ada
anggapan bahwa petugas kesehatan merupakan contoh rujukan perilaku hidup bersih
sehat, bahkan diyakini bahwa perilaku
kesehatan yang baik adalah hanya petugas kesehatan yang benar.
2.3
Masalah Kesehatan yang Timbul
Berhubungan dengan Aspek Sosial Budaya
Ditengah
riuh rendah globalisasi inilah muncul wacana Dampak Perubahan Sosial dan
Budaya. Dampak dari perubahan sosial dan budaya sendiri diartikan sebagai
perubahan dalam skala besar pada sistem bio-fisik dan ekologi yang disebabkan
aktifitas manusia. Perubahan sosial dan budaya yang terjadi seiring tekanan besar yang
dilakukan manusia terhadap sistem alam sekitar, menghadirkan berbagai macam
risiko kesehatan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Sebagai contoh,
kita terus mempertinggi konsentrasi gas-gas tertentu yang menyebabkan
meningkatkan efek alami rumah kaca (greenhouse) yang mencegah bumi dari
pendinginan alami (freezing). Selama abad 20 ini, suhu rata-rata permukaan bumi
meningkat sekitar 0,6oC dan sekitar dua-per-tiga pemanasan ini terjadi sejak
tahun 1975.
Dampak perubahan sosial dan budaya penting lainnya adalah menipisnya lapisan
ozon, hilangnya keaneragaman hayati (bio-diversity), degradasi kualitas lahan,
penangkapan ikan melampaui batas (over-fishing), terputusnya siklus unsur-unsur
penting (misalnya nitrogen, sulfur, fosfor), berkurangnya suplai air bersih,
urbanisasi, dan penyebaran global berbagai polutan organik. Dari kacamata
kesehatan, hal-hal di atas mengindikasikan bahwa kesehatan umat manusia
dipengaruhi oleh berbagai faktor yang terjadi di luar batas kemampuan daya
dukung ruang lingkungan dimana mereka hidup.
Dalam
skala global, selama seperempat abad ke belakang, mulai tumbuh perhatian serius
dari masyarakat ilmiah terhadap penyakit-penyakit yang terkait dengan masalah
lingkungan, seperti kanker yang disebabkan racun tertentu (toxin related
cancers), kelainan reproduksi atau gangguan pernapasan dan paru-paru akibat
polusi udara. Secara institusional International Human Dimensions Programme on
Global Environmental Change (IHDP) membangun kerjasama riset dengan Earth
System Science Partnership dalam menyongsong tantangan permasalahan kesehatan
dan Dampak dari perubahan sosial dan budaya.
Pengaruh
perubahan iklim global terhadap kesehatan umat manusia bukan pekerjaan mudah.
Dibutuhkan kerja keras dan pendekatan inter-disiplin diantaranya dari studi
evolusi, bio-geografi, ekologi dan ilmu sosial. Di sisi lain kemajuan teknik
penginderaan jauh (remote sensing) dan aplikasi-aplikasi sistem informasi
geografis akan memberikan sumbangan berarti dalam melakukan monitoring
lingkungan secara multi-temporal dan multi-spatial resolution. Dua faktor ini
sangat relevan dengan tantangan studi dampak perubahan sosial dan budaya
terhadap kesehatan lingkungan yang memerlukan analisa historis keterkaitan
dampak perubahan sosial dan budaya dan kesehatan serta analisa pengaruh
perubahan sosial dan budaya di tingkat lokal, regional hingga global.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Degenerasi
merupakan suatu perubahan keadaan secara fisika dan kimia dalam sel, jaringan
atau organ yang bersifat menurunkan efisiensinya.
Gangguan
fungsi bisa bersifat reversible ataupun ireversibel sel tergantung dari
mekanisme adaptasi sel. Cedera reversibel disebut juga cedera subletal dan
cedera ireversibel disebut juga cedera letal.
Jejas
sel merupakan keadaan dimana sel beradaptasi secara berlebih atau sebaliknya,
sel tidak memungkinkan untuk beradaptasi secara normal.
Penyakit
degeneratif adalah penyakit yang menyebabkan terjadinya kerusakan atau
penghacuran terhadap jaringan atau organ tubuh. Misalnya diabetes militus tipe
2, osteoporosis, dan lain sebagainya.
3.2
Saran
Degenerasi
merupakan suatu bentuk kerusakan sel sebagai akibat dari adanya kerusakan sel
akut atau trauma, di mana kerusakan sel tersebut terjadi secara tidak
terkontrol. Oleh karena itu kita perlu memperhatikan makanan yang akan kita
konsumsi, menjaga aktivitas fisik serta selalu mengutamakan prilaku sehat agar
tidak menyebabkan timbulnya gejala-gejala degenerasi yang dapat merusak sel dan
berpotensi menimbulkan masalah kesehatan yang serius.
DAFTAR PUSTAKA
Janti S, Budi K, Andhy H, Bing D. 2003. Ilmu Patologi Buku Kedokteran. Jakarta : EGC.
Danny H, Harry M, Ferry S, Arief B, Tono D, Boenjamin S. 2010. Stem
Cell Dasar Teori dan Aplikasi Klinis. Jakarta : Humana Press.
https://id.wikipedia.org/wiki/Degenerasi
Diakses tanggal 25 Februari 2017
https://puzzleinmymind.wordpress.com/2010/03/21/hello-world/
Diakses tanggal 27 Februari 2017
http://revias-clinics.blogspot.co.id/2010/05/degenerasi.html
Diakses tanggal 26 Februari 2017
http://abhique.blogspot.co.id/2009/10/adaptasi-sel-terhadap-cedera.html
Diakses tanggal 2 Maret 2017
http://www.kerjanya.net/faq/6648-penyakit-degeneratif.html
Diakses tanggal 26 Februari 2017
Diakses 11 November 2018
https://www.bastamanography.id/aspek-budaya-yang-mempengaruhi-status-kesehatan-dan-perilaku-kesehatan/
Diakses 11 November 2018
No comments:
Post a Comment