MAKALAH PENYAKIT ASMA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Angka
kejadian penyakit alergi akhir-akhir ini meningkat sejalan dengan perubahan
pola hidup masyarakat modern, polusi baik lingkungan maupun zat-zat yang ada di
dalam makanan. Salah satu penyakit alergi yang banyak terjadi di masyarakat
adalah penyakit asma.
Asma
adalah satu diantara beberapa penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara
total. Kesembuhan dari satu serangan asma tidak menjamin dalam waktu dekat akan
terbebas dari ancaman serangan berikutnya. Apalagi bila karena pekerjaan dan
lingkungannya serta faktor ekonomi, penderita harus selalu berhadapan dengan
faktor alergen yang menjadi penyebab serangan. Biaya pengobatan simptomatik
pada waktu serangan mungkin bisa diatasi oleh penderita atau keluarganya,
tetapi pengobatan profilaksis yang memerlukan waktu lebih lama, sering menjadi
problem tersendiri.
Peran
dokter dalam mengatasi penyakit asma sangatlah penting. Dokter sebagai pintu
pertama yang akan diketuk oleh penderita dalam menolong penderita asma, harus
selalu meningkatkan pelayanan, salah satunya yang sering diabaikan adalah
memberikan edukasi atau pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan kepada
penderita dan keluarganya akan sangat berarti bagi penderita, terutama
bagaimana sikap dan tindakan yang bisa dikerjakan pada waktu menghadapi
serangan, dan bagaimana caranya mencegah terjadinya serangan asma.
Dalam tiga puluh tahun
terakhir terjadi peningkatan prevalensi (kekerapan penyakit) asma terutama di
negara-negara maju. Kenaikan prevalensi asma di Asia seperti Singapura, Taiwan,
Jepang, atau Korea Selatan juga mencolok. Kasus asma meningkat insidennya
secara dramatis selama lebih dari lima belas tahun, baik di negara berkembang
maupun di negara maju. Beban global untuk penyakit ini semakin meningkat.
Dampak buruk asma meliputi penurunan kualitas hidup, produktivitas yang
menurun, ketidakhadiran di sekolah, peningkatan biaya kesehatan, risiko
perawatan di rumah sakit dan bahkan kematian. (Muchid dkk,2007)
Asma
merupakan sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian di Indonesia, hal
ini tergambar dari data studi survei kesehatan rumah tangga (SKRT) di
berbagai propinsi di Indonesia. Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun
1986 menunjukkan asma menduduki urutan ke-5 dari 10 penyebab kesakitan
(morbiditas) bersama-sama dengan bronkitis kronik dan emfisema. Pada SKRT
1992, asma, bronkitis kronik dan emfisema sebagai penyebab kematian ke- 4
di Indonesia atau sebesar 5,6 %. Tahun 1995, prevalensi asma di
seluruh Indonesia sebesar 13/1000, dibandingkan bronkitis kronik 11/1000
dan obstruksi paru 2/1000. Studi pada anak usia SLTP di Semarang dengan
menggunakan kuesioner International Study of Asthma and Allergies in
Childhood (ISAAC), didapatkan prevalensi asma (gejala asma 12 bulan
terakhir/recent asthma) 6,2 % yang 64 % diantaranya mempunyai gejala
klasik.
Maka disini kami akan memaparkan tentang Asma Bronchial yang nantinya
akan dibutuhkan oleh kita selaku askep. Didalamnya
terkandung Definisi Penyakit Asma Bronchial, Etiologi Penyakit Asma Bronchial, Patofisiologi Penyakit asma bronkial,Gejala Klinis Penyakit Asma Bronchial, Diagnosis
Penyakit Asma Bronchial dan Pencegahan Penyakit Asma Bronchial.
1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian yang ada diatas maka dapat di rumuskan
masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana
definisi Asma Bronchial ?
2.
Bagaimana
etiologi Asma Bronchial ?
3.
Bagaimana
patofisiologi Asma Bronchial ?
4.
Bagaimana
gejala klinis Asma Bronchial ?
5.
Bagaimana
diagnosis Asma Bronchial ?
6.
Bagaimana
pencegahan Asma Bronchial ?
1.3 Tujuan
1.
Menjelaskan definisi Asma Bronchial
2.
Menjelaskan etiologi Asma Bronchial
3.
Menjelaskan patofisiologi Asma Bronchial
4.
Menjelaskan gejala klinis Asma Bronchial
5.
Menjelaskan diagnosis Asma Bronchial
6.
Menjelaskan pencegahan Asma Bronchial
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Cara Kerja Paru-Paru
GAMBAR 1. Cara kerja Paru
Paru-paru adalah
organ tubuh manusia yang terdapat di dalam dada. Paru paru ini mempunyai fungsi
memasukkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida.
Paru-paru
merupakan organ dalam sistem pernafasan dan termasuk dalam sistem kitaran
vertebrata yang bernafas. Ini berfungsi untuk menukar oksigen dari udara dengan
karbondioksida dari darah dengan bantuan hemoglobin. Proses ini dikenali
sebagai respirasi atau pernafasan.
Paru-paru
terletak di dalam rongga dada (thoracic cavity), dilindungi oleh struktur
tulang selangka dan diliputi dua dinding yang dikenal sebagai pleura. Kedua
lapisan ini dipisahkan oleh lapisan udara yang dikenal sebagai rongga pleural
yang berisi cairan pleural.
Manusia
menghirup udara untuk mendapatkan oksigen, namun tidak semua udara yang dihirup
dapat digunakan oleh tubuh, karena udara tercampur dengan berbagai jenis gas.
Pada waktu kita bernapas, paru-paru menarik udara dari ruang tenggorokan. Saat
dihembuskan, rangka tulang rusuk tertarik ke arah dalam, dan diafragma di bawah
tulang rusuk bergerak ke atas. Ketika paru-paru mengecil, udara yang ada di
dalam kantung udara sedikit demi sedikit terdorong ke luar melalui batang
tenggorokan.
Cara
kerja paru-paru, jika oksigen sudah sampai pada bronkus, maka oksigen siap
untuk masuk ke dalam saluran paru-paru. Oksigen akan berdifusi lewat
pembuluh darah berupa kapiler-kapiler arteri dengan cara difusi.
Kapiler-kapiler ini terdapat pada alveolus yang merupakan cabang dari
bronkiolus. Pada alveolus ini akan terjadi pertukaran gas oksigen dengan
karbondioksida. Oksigen diikat oleh hemoglobindalam sel-sel darah merah
(eritrosit), lalu diedarkan ke seluruh sel-sel tubuh yang nantinya akan
digunakan oleh mitokondoria alam respirasi tingkat seluler untuk menghasilkan
energi berupa ATP (Adenosin Triphospat). Karbondioksida akan dibawa oleh kapiler vena untuk
dibawa ke alveolus dan akan dikeluarkan di alveolus melalui proses respirasi.
2.2 Pengertian Asma
2.2 Pengertian Asma
Asma sendiri berasal dari kata asthma. Kata ini berasal dari
bahasa Yunani yang memiliki arti sulit bernafas. Penyakit asma dikenal karena
adanya gejala sesak nafas, batuk, dan mengi yang disebabkan oleh penyempitan
saluran nafas. Atau dengan kata lain asma merupakan peradangan atau
pembengkakan saluran nafas yang reversibel sehingga menyebabkan diproduksinya
cairan kental yang berlebih (Prasetyo, 2010).
Asma merupakan penyakit inflamasi kronik saluran napas yang disebabkan
oleh reaksi hiperresponsif sel imun tubuh seperti mast sel, eosinophils, dan
T-lymphocytes terhadap stimuli tertentu dan menimbulkan gejala dyspnea, whizzing,
dan batuk akibat obstruksi jalan napas yang bersifat reversibel dan terjadi
secara episodik berulang (Brunner & Suddarth, 2001).
Menurut Prasetyo (2010) Asma, bengek atau mengi adalah beberapa nama
yang biasa kita pakai kepada pasien yang menderita penyakit asma. Asma bukan
penyakit menular, tetapi faktor keturunan (genetic) sangat punya peranan
besar di sini.
Saluran pernafasan penderita asma sangat sensitif dan memberikan respon
yang sangat berlebihan jika mengalami rangsangan atau ganguan. Saluran
pernafasan tersebut bereaksi dengan cara menyempit dan menghalangi udara yang
masuk. Penyempitan atau hambatan ini bisa mengakibatkan salah satu atau
gabungan dari berbagai gejala mulai dari batuk, sesak, nafas pendek,
tersengal-sengal, hingga nafas yang berbunyi ”ngik-ngik” (Hadibroto et
al, 2006).
Beberapa ahli membagi asma dalam 2 golongan besar, seperti yang dianut
banyak dokter ahli pulmonologi (penyakit paru-paru) dari
Inggris, yakni:
a. Asma Ekstrinsik
b. Asma Intrinsik
a. Asma Ekstrinsik
Asma ekstrinsik adalah bentuk asma yang paling umum, dan disebabkan
karena reaksi alergi penderitanya terhadap hal-hal tertentu (alergen), yang
tidak membawa pengaruh apa-apa terhadap mereka yang sehat.
Pada orang-orang tertentu, seperti pada penderita asma, sistem imunitas
bekerja lepas kendali dan menimbulkan reaksi alergi. Reaksi ini disebabkan oleh
alergen. Alergen bisa tampil dalam bentuk: mulai dari serbuk bunga, tanaman,
pohon, debu luar/dalam rumah, jamur, hingga zat/bahan makanan. Ketika alergen
memasuki tubuh pengidap alergi, sistem imunitasnya memproduksi antibodi khusus
yang disebut IgE. Antibodi ini mencari dan menempelkan dirinya pada sel-sel
batang. Peristiwa ini terjadi dalam jumlah besar di paru-paru dan saluran
pernafasan lalu membangkitkan suatu reaksi. Batang-batang sel melepaskan zat
kimia yang disebut mediator. Salah satu unsur mediator ini adalah histamin.
Akibat pelepasan histamin terhadap paru-paru adalah reaksi penegangan/pengerutan
saluran pernafasan dan meningkatnya produksi lendir yang dikeluarkan jaringan
lapisan sebelah dalam saluran tersebut.
- Asma
Intrinsik
Asma intrinsik tidak responsif terhadap pemicu yang berasal dari
alergen. Asma jenis ini disebabkan oleh stres, infeksi, dan kondisi lingkungan
seperti cuaca, kelembaban dan suhu udara, polusi udara, dan juga oleh aktivitas
olahraga yang berlebihan.
Asma intrinsik biasanya berhubungan dengan menurunnya kondisi ketahanan
tubuh, terutama pada mereka yang memiliki riwayat kesehatan paru-paru yang
kurang baik, misalnya karena bronkitis dan radang paru-paru (pneumonia).
Penderita diabetes mellitus golongan lansia juga mudah terkena asma intrinsik.
Tujuan dari pemisahan golongan asma seperti yang disebut di atas adalah untuk
mempermudah usaha penyusunan dan pelaksanaan program pengendalian asma yang
akan dilakukan oleh dokter maupun penderita itu sendiri. Namun dalam
prakteknya, asma adalah penyakit yang kompleks, sehingga tidak selalu
dimungkinkan untuk menentukan secara tegas, golongan asma yang diderita
seseorang. Sering indikasi asma ekstrinsik dan intrinsik bersama-sama dideteksi
ada pada satu orang.
2.3 Penyebab Terjadinya Asma
2.3 Penyebab Terjadinya Asma
Menurut The Lung Association of Canada, ada dua faktor yang menjadi
pencetus asma, yaitu:
1. Pemicu (trigger) yang
mengakibatkan mengencang atau menyempitnya saluran pernafasan (bronkokonstriksi).
Pemicu tidak menyebabkan peradangan. Banyak kalangan kedokteran yang menganggap
pemicu dan bronkokonstriksi adalah gangguan pernafasan akut, yang belum berarti
asma, tapi bisa menjurus menjadi asma jenis intrinsik. Gejala-gejala
bronkokonstriksi yang diakibatkan oleh pemicu cenderung timbul seketika,
berlangsung dalam waktu pendek dan relatif mudah diatasi dalam waktu singkat.
Namun saluran pernafasan akan bereaksi lebih cepat terhadap pemicu, apabila
sudah ada, atau sudah terjadi peradangan. Umumnya pemicu yang mengakibatkan
bronkokonstriksi termasuk stimulus sehari-hari seperti: perubahan cuaca dan
suhu udara, polusi udara, asap rokok, infeksi saluran pernafasan, gangguan
emosi, dan olahraga yang berlebihan.
2. Penyebab (inducer) yang
mengakibatkan peradangan (inflammation) pada saluran pernafasan.
Penyebab asma (inducer) bisa menyebabkan peradangan (inflammation)
dan sekaligushiperresponsivitas (respon yang berlebihan) dari
saluran pernafasan. Oleh kebanyakan kalangan kedokteran, inducer dianggap
sebagai penyebab asma sesungguhnya atau asma jenis ekstrinsik. Penyebab asma (inducer)
dengan demikian mengakibatkan gejala-gejala yang umumnya berlangsung lebih lama
(kronis), dan lebih sulit diatasi, dibanding gangguan pernafasan yang
diakibatkan oleh pemicu (trigger). Umumnya penyebab asma (inducer)
adalahalergen, yang tampil dalam bentuk: ingestan, inhalan, dan kontak
dengan kulit. Ingestan yang utama ialah makanan dan obat-obatan. Sedangkan
alergen inhalan yang utama adalah tepung sari (serbuk) bunga, tungau, serpih
dan kotoran binatang, serta jamur.
2.4 Klasifikasi Asma
2.4 Klasifikasi Asma
a. Klasifikasi asma
berdasarkan derajat serangannya yaitu :
Tabel
1 klasifikasi asma
berdasarkan derajat serangan
b. Klasifikasi asma
berdasarkan tingkat keparahan penyakit (derajat asma) yaitu:
1. Intermiten
Intermitten ialah derajat asma yang paling ringan. Pada tingkatan
derajat asma ini, serangannya biasanya berlangsung secara singkat. Dan gejala
ini juga bisa muncul di malam hari dengan intensitas sangat rendah yaitu ≤ 2x
sebulan.
2. Persisten Ringan
Persisten ringan ialah derajat asma yang tergolong ringan. Pada
tingkatan derajat asma ini, gejala pada sehari-hari berlangsung lebih dari 1
kali seminggu, tetapi kurang dari atau sama dengan 1 kali sehari dan
serangannya biasanya dapat mengganggu aktifitas tidur di malam hari.
3. Persisten Sedang
Persisten sedang ialah derajat asma yang tergolong lumayan berat. Pada
tingkatan derajat asma ini, gejala yang muncul biasanya di atas 1 x seminggu
dan hampir setiap hari. Serangannya biasanya dapat mengganggu aktifitas tidur
di malam hari.
4. Persisten Berat
Persisten berat ialah derajat asma yang paling tinggi tingkat
keparahannya. Pada tingkatan derajat asma ini, gejala yang muncul biasanya
hampir setiap hari, terus menerus, dan sering kambuh. Membutuhkan bronkodilator
setiap hari dan serangannya biasanya dapat mengganggu aktifitas tidur di malam
hari.
2.5 Mekanisme Terjadinya Asma
Gejala yang ditimbulkan di atas merupakan gejala hipersensitivitas asma, dimana gejala ini sangat berbahaya bagi keselamatan penderitanya, gejala diatas dapat membuat penderita asma meninggal dalam seketika (GINA, 2005).
2.6 Pengendalian Asma
2.5 Mekanisme Terjadinya Asma
Gejala yang ditimbulkan di atas merupakan gejala hipersensitivitas asma, dimana gejala ini sangat berbahaya bagi keselamatan penderitanya, gejala diatas dapat membuat penderita asma meninggal dalam seketika (GINA, 2005).
2.6 Pengendalian Asma
Manajemen pengendalian asma terdiri dari 6 (enam) tahapan yaitu sebagai
berikut:
1. Pengetahuan
Memberikan pengetahuan kepada penderita asma tentang keadaan penyakitnya
dan mekanisme pengobatan yang akan dijalaninya kedepan (GINA, 2005).
2. Monitor
Memonitor asma secara teratur kepada tim medis yang menangani penyakit
asma. Memonitor perkembangan gejala, hal-hal apa saja yang mungkin terjadi
terhadap penderita asma dengan kondisi gejala yang dialaminya beserta memonitor
perkembangan fungsi paru (GINA, 2005).
3. Menghindari Faktor Resiko
Hal yang paling mungkin dilakukan penderita asma dalam mengurangi gejala
asma adalah menhindari faktor pencetus yang dapat meningkatkan gejala asma.
Faktor resiko ini dapat berupa makanan, obat-obatan, polusi, dan sebagainya
(GINA, 2005).
4. Pengobatan Medis Jangka Panjang
Pengobatan jangka panjang terhadap penderita asma, dilakukan berdasarkan
tingkat keparahan terhadap gejala asma tersebut. Pada penderita asma intermitten,
tidak ada pengobatan jangka panjang. Pada penderita asma mild
intermitten, menggunakan pilihan obat glukokortikosteroid inhalasi dan
didukung oleh Teofilin, kromones, atau leukotrien. Dan untuk asma moderate
persisten, menggunakan pilihan obat β.
Berikut penjelasan tentang obat-obat pengontrol asma (Controller):
Glukokortikosteroid Inhalasi
Jenis obat ini digunakan selama satu bulan atau lebih untuk mengurangi
gejala inflamasi asma. Obat ini dapat meningkatkan fungsi paru, mengurangi hiperresponsive
dan mengurangi gejala asma dan meningkatkan kualitas hidup (GINA, 2005).
Obat ini dapat menimbulkan kandidiasisorofaringeal, menimbulkan
iritasi pada bagian saluran napas atas dan dapat memberikan efek sistemik,
menekan kerja adrenal atau mengurangi aktivitas osteoblast (GINA,
2005).
Glukokortikosteroid Oral
Mekanisme kerja obat dan fungsi obat ini sama dengan obat kortikosteroid
inhalasil. Obat ini dapat menimbulkan hipertensi, diabetes, penekanan kerja
hipothalamus-pituitary dan adrenal, katarak, glukoma, obaesitas dan kelemahan
(GINA, 2005).
Kromones (Sodium Cromogycate dan Nedocromyl Sodium)
Obat ini dapat menurunkan jumlah eosin bronchial pada gejala asma. Obat
ini dapat menurunkan gejala dan menurunkan reaksi hiperresponsive pada
imun nonspecific. Obat ini dapat menimbulkan batuk-batuk pada saat
pemakaian dengan bentuk formulasi powder (GINA, 2005).
β2-Agonist Inhalasi
Obat ini berfungsi sebagai bronkodilator selama 12 jam setelah
pemakaian. Obat ini dapat mengurangi gejala asma pada waktu malam, meningkatkan
fungsi paru. Obat ini dapat menimbulkan tremor pada bagian musculoskeletal,
menstimulasi kerja cardiovascular dan hipokalemia (GINA, 2005).
β2-Agonist Oral
Obat ini sebagai bronkodilator dan dapat mengontrol gejala asma pada
waktu malam. Obat ini dapat menimbulkan anxietas, meningkatkan kerja jantung,
dan menimbulkan tremor pada bagianmuskuloskeletal (GINA, 2005).
Teofiline
Obat ini digunakan untuk menghilangkan gejala atau pencegahan asma
bronkial dengan merelaksasi secara langsung otot polos bronki dan pembuluh
darahpulmonal. Obat ini dapat menyebabkan efek samping berupa mual,
muntah, diare, sakit kepala, insomnia daniritabilitas. Pada level yang
lebih dari 35 mcg/mL menyebabkan hperglisemia, hipotensi, aritmia jantung,
takikardi, kerusakan otak dan kematian.
Leukotriens
Obat ini berfungsi sebagai anti inflamasi. Obat ini berfungsi untuk
mengurangi gejala termasuk batuk, meningkatkan fungsi paru dan menurunkan
gejala asma (GINA, 2005).
Berikut penjelasan tentang obat-obat meringankan (reliever) asma:
β2-Agonist Inhalasi
Obat ini bekerja sebagai bronkodilator. Obat ini digunakan untuk
mengontrol gejala asma,variabilitas peak flow, hiperresponsive jalan
napas. Obat ini dapat menstimulasi kerja jantung, tremor ototskeletal dan
hipokalemia (GINA, 2005).
β2-Agonist Oral
Obat ini sebagai bronkodilator. Obat ini dapat menstimulasi kerja
jantung, tremor otot skeletal dan hipokalemia (GINA, 2005).
Antikolinergic
Obat ini sebagai bronkodilator. Obat ini dapat meningkatkan fungsi paru.
Obat ini dapat menyebabkan mulut kering dan pengeluaran mucus (GINA, 2005).
5. Metode Pengobatan Alternative
Metode pengobatan alternative ini sebagian besar masih
dalam penelitian. Buteyko merupakan salah satu pengobatan alternative yang
terbukti dapat menurunkan ventilasi alveolar terhadap hiperventilasi paru
penderita asma, selain itu memperbaiki gejala yang ditimbulkan asma. Buteyko ini
merupakan tehnik bernapas yang dirancang khusus untuk penderita asma dengan
prinsip latihan tehnik bernapas dangkal (GINA, 2005).
6.
Terapi Penanganan Terhadap Gejala
Terapi ini dilakukan tergantung kepada pasien. Terapi ini dianjurkan
kepada pasien yang mempunyai pengalaman buruk terhadap gejala asma, dan dalam
kondisi yang darurat. Penatalaksanaan terapi ini dilakukan di rumah penderita
asma dengan menggunakan obat bronkodilator seperti: β2 -agonist
inhalasi dan glukokortikosteroid oral (GINA, 2005).
7. Pemeriksaan Teratur
Penderita asma disarankan untuk memeriksakan kesehatannya secara teratur
kepada tim medis. Pemeriksaan teratur berfungsi untuk melihat perkembangan
kemampuan fungsi paru (GINA, 2005).
Dalam penatalaksanaan asma, pola hidup sehat sangat dianjurkan. Pola
hidup sehat akan sangat membantu proses penatalaksanaan asma. Dengan pemenuhan
nutrisi yang memadai, menghindari stress, dan olahraga atau yang biasa disebut
latihan fisik teratur sesuai toleransi tubuh (The Asthma Foundation of
Victoria, 2002).
Pemenuhan nutrisi yang memadai dan menghindari stress akan menjaga
penderita asma dari serangan infeksi dari luar yang dapat memperburuk asma
dengan tetap menjaga kestabilan imunitas tubuh penderita asma (The Asthma
Foundation of Victoria, 2002).
Latihan fisik dapat membuat tubuh menjadi lebih bugar, sehingga tubuh
tidak menjadi lemas. Latihan fisik dapat merubah psikologis penderita asma yang
beranggapan tidak dapat melakukan kerja apapun, anggapan ini dapat memperburuk
keadaan penderita asma. Sehingga dengan latihan fisik, kesehatan tubuh tetap
terjaga dan asupan oksigen dapat ditingkatkan sejalan dengan peningkatan
kemampuan latihan fisik (The Asthma Foundation of Victoria, 2002).
3.1 Kesimpulan
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari penulisan makalah ini adalah:
a. Asma merupakan penyakit
inflamasi kronik saluran napas yang disebabkan oleh reaksi hiperresponsif sel
imun tubuh seperti mast sel, eosinophils, dan T-lymphocytes terhadap stimuli
tertentu dan menimbulkan gejala dyspnea, whizzing, dan batuk akibat
obstruksi jalan napas yang bersifat reversibel dan terjadi secara episodik
berulang.
b. Beberapa ahli membagi asma
dalam 2 golongan besar, seperti yang dianut banyak dokter ahli pulmonologi (penyakit
paru-paru) dari Inggris, yakni: asma ekstrinsik, asma intrinsik.
c. Menurut The Lung
Association of Canada, ada dua faktor yang menjadi pencetus asma,
yaitu: pemicu (trigger) dan penyebab (inducer).
d. Klasifikasi asma
berdasarkan tingkat keparahan penyakit (derajat asma)
yaitu: intermiten, persisten ringan, persisten sedang, dan
persisten berat.
e. Manajemen pengendalian asma
terdiri dari 6 (enam) tahapan yaitu sebagai berikut: pengetahuan, monitor,
menghindari faktor resiko, pengobatan medis jangka panjang, metode
pengobatan alternative, terapi penanganan terhadap gejala dan
pemeriksaan teratur.
3.2 Saran
3.2 Saran
1) Untuk para penderita.
Jangan menganggap remeh penyakit yang Anda derita. Namun, seringlah
berkonsul dengan dokter yang menangani Anda. Akan tetapi, jangan pula Anda
terlalu memikirkan tentang penyakit anda, karena itu akan bisa memicu asma Anda
kambuh.
2) Untuk para keluarga
penderita.
Perhatikanlah keluarga Anda yang menderita penyakt asma. Karena asma
adalah penykit yang serius. Namun, perhatian dan pengamanan Anda jangan terlalu
berlebihan karena bisa saja si penderita merasa tertekan dan stres yang bisa
mengakibatkan asmanya kambuh.
3) Untuk para dokter atau ahli
medis.
Rawatlah pasien anda dengan baik. Jangan pernah meremehkan tingkat
keparahan penyakit asma yang diderita oleh pasien Anda.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner
& Suddarth. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah edisi 8.
Jakarta: EGC
Dahlan,
Zul. 1998. Masalah Asma di Indonesia dan Penanggulangan jelasnya..
Bandung: Subunit Pulmonologi Bagian/UPF Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas
Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Hasan Sadikin.
Global
Initiative For Asthma (GINA). 2005. Global Strategy for Asthma
Management and Prevention.http://www.ginasthma.com/GuidelineItem.asp?intId=1170[15 Agustus 2012]
Hadibroto,
Iwan. dan Alam, Syamsir. 2006. Asma. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama.
Prasetyo,
Budi. 2010. Seputar Masalah Asma : Mengenal Asma, Sebab-sebab,
Resiko-resiko, Dan Cara Mengantisipasinya. Yogyakarta: Diva Press.
Sundaru,
Heru. 2008. Apa yang Perlu Diketahui Tentang Asma.http://www.depkes.go.id/index.php?option=articles&task=viewarticle&artid=204&Itemid=3[14 Agustus 2012]
Suyoko,
E.M.D. 1992. Konsep Baru Penatalaksanaan Asma Bronial pada Anak. Jakarta:
Sub Bagian Alergi-Imunologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia Rumah Sakit Dr. Ciptomangunkusumo.
The
Asthma Foundation of Victoria. 2002. Penyakit Asma dan Gerak Badan.http://www.asthma.org.au/Portals/0/AsthmaandExercise_IS_Indonesian.pdf [14 Agustus 2012]
Wong, DN.
2003. Nursing Care of Infants and Children. St Louis Missauri,
USA: Mosby.
The
Asthma Foundation of Victoria. (2002). Terapi Pelengkap dan Penyakit
Asma.http://www.asthma.org.au/Portals/0/ComplementaryTherapies_IS_Indonesian.pdf
[15 Agustus
2012]


Keren. :)
ReplyDeleteThank's.. :)
ReplyDeleteWah artikelnya menarik. penyakit asma salah satu penyakit yang cukup ditemui di indonesia.. Namun, bisa disembuhkan dengan susu kambing etawa
ReplyDelete