Hak Kebendaan Menurut Undang-Undang Pokok Agraria
Menurut Pasal 16 Undang-Undang Pokok Agraria No.
5 Tahun 1960, hak-hak atas tanah adalah sebagai berikut:
a. Hak milik
Adalah hak turun-temurun, terkuat dan terpenuh
yang dapat dipunyai orang atas tanah, dengan mengingat semua hak atas tanah
mempunyai fungsi sosial (Pasal 20 ayat 1 UUPA).
b. Hak guna usaha
Adalah hak untuk mengusahakan tanah yang
dikuasai langsung oleh negara, dalam jangka waktu paling lama 25 tahun, guna perusahaan
pertanian, perikanan atau peternakan (Pasal 28 ayat 1 UUPA).
c. Hak guna bangunan
Adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai
bangunan-bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri, dengan jangka waktu
paling lama 30 tahun (Pasal 35 ayat 1 UUPA).
d. Hak pakai
Adalah hak untuk menggunakan dan/atau memungut
hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh negara atau tanah milik orang
lain, yang memberi wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam keputusan pemberiannya oleh pejabat
yang berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanah nya,
yang bukan perjanjian sewa-menyewa atau perjanjian pengolahan tanah, segala
sesuatu asal tidak bertentangan dengan jiwa dan undang-undang ini (Pasal 41 ayat 1 UUPA).
e.
Hak sewa
untuk bangunan
Adalah hak seseorang atau suatu badan hukum
mempergunakan tanah milik orang lain untuk keperluan bangunan, dengan membayar
kepada pemiliknya sejumlah uang sebagai sewa (Pasal 44 ayat 1 UUPA).
f.
Hak
membuka hutan dan memungut hasil hutan
Adalah hak membuka tanah dan memungut hasil
hutan yang hanya dapat dipunyai oleh warganegara Indonesia . Dengan mempergunakan hak
memungut hasil hutan secara sah, tidak dengan sendirinya diperoleh hak milik
atas tanah itu (Pasal 46 UUPA).
g.
Hak guna
air, pemeliharaan dan penangkapan ikan
Adalah hak memperoleh air untuk keperluan
tertentu dan/atau mengalirkan air itu di atas tanah orang lain (Pasal 47 ayat 1
UUPA).
h.
Hak guna
ruang angkasa
Adalah hak untuk mempergunakan tenaga dan
unsur-unsur dalam ruang angkasa, guna memelihara, memperkembangkan kesuburan
bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dan hal lainnya yang bersangkutan
dengan itu (Pasal 48 (1).
i.
Hak-hak
tanah untuk keperluan suci dan sosial
Adalah hak milik tanah badan-badan keagamaan dan
sosial sepanjang dipergunakan untuk usaha dalam bidang keagamaan dan sosial
diakui dan dilindungi. Badan-badan tersebut dijamin pula akan memperoleh tanah
yang cukup untuk bangunan dan usahanya dalam bidang keagamaan dan sosial (Pasal
49 ayat 1 UUPA).
No comments:
Post a Comment