TEORI KEPEMIMPINAN - Konsep Kepemimpinan dalam Perspektif Islam

 

TEORI KEPEMIMPINAN

 

Kehidupan masyarakat senantiasa ditandai oleh adanya stratifikasi sosial yang didalamnya terdapat struktur organisasi dan ciri khasnya masing-masing.Dalam setiap struktur organisasi tersebut biasanya membutuhkan seorang pemimpin atau manajer. Pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk mengarahkan bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi. Pemimpin atau manajer memegang peranan penting dalam menjalankan tugas atau fungsinya didalam sebuah lingkungan masyarakat ataupun organisasi. Seorang pemimpin dibebani amanah dan tanggung jawab yang harus ia laksanakan untuk mencapai tujuan dari organisasi yang ia pimpin.

Setiap manusia yang terlahir di muka bumi ini ialah seorang pemimpin yang memimpin umat ini kepada  Allah. Semakin banyak orang yang dipimpinnya semakin berat pula beban yang dipikulnya. Amanah kepemimpinan haruslah diberikan kepada orang yang kompeten atasnya kalau tidak maka akan menimbulkan ketidak sampainya tujuan bahkan mungkin menimbulkan kerusakan.

Kepemimpinan tidak boleh diberikan kepada orang yang memintanya terlebih dengan ambisius untuk mendapatkannya. Karena dikhawatirkan dia tidak mampu mengemban amanah tersebut kemudian mungkin mempunyai niat lain atau ingin mengambil keuntungan yang banyak ketika ia telah mempunyai kekuasaan.

Pada dasarnya kepemimpinan adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas  yang ada hubungannya dengan pekerjaan para anggota kelompok. Kepemimpinan juga berarti sebuah proses mempengaruhi orang agar melaksanakan keputusan atau tugas. Fungsi dari kepemimpinan adalah mengarahkan agar sesuai dengan tujuan dari organisasi.

Dalam perspektif agama islam pemimpin dikenal dengan istilah khalifah. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al Baqarah ayat 30.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Kepemimpinan islam dapat diartikan sebagai kegiatan menuntun, membimbing, memandu, dan menunjukkan jalan yang diridhai Allah SWT.

Transisi dalam Teori Kepemimpinan bermula pada tahun 1300-an, yaitu munculnya kata leader, kemudian sekitar tahun 1700-an muncul kata leadership. Transisi pertama, pendekatan berdasarkan sifat-sifat kepribadian umum, kedua berdasarkan pendekatan tingkah laku pemimpin, ketiga berdasarkan pendekatan kemungkinan, keempat berdasarkan pendekatan sifat atau ciri dari suat perspektif yang berbeda yaitu mencoba mengidentifikasi seperangkat ciri pemimpin yang jadi acuan orang lain. Hingga tahun 1940-an kajian tentang teori sifat. Antara tahun 1940-an hingga tahun 1960-an muncul teori tingkah laku, dan selanjutnya antara tahun 1960-an hingga 1970-an berkembang teori kemungkinan atau teori situasional. Teori kepemimpinan mutakhir berkembang antara tahun 1970-an hingga tahun 200-an. Selanjutnya teori didasarkan pada kemampuan seorang pemimpin.

Teori dan model kepemimpinan yaitu :

1)      Teori sifat

Teori ini didasarkan asumsi bahwa beberapa orang merupakan pemimpin alamiah dan mereka mempunyai ciri yang tidak dimiliki orang lain seperti, intuisi, pandangan masa depan, dan kekuatan persuasif. Teori ini menyatakan bahwa keberhasilan manajerial disebabkan karena memiliki kemampuan-kemampuan luar biasa. Atas dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin. Dan kemampuan pribadi yang dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai sifat, perangai atau ciri-ciri di dalamnya.

2)      Teori kepribadian perilaku

Kepribadian seseorang dapat menentukan keefektifan kepemimpinan. Dasar pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan. Dalam hal ini, pemimpin mempunyai deskripsi perilaku:

·        Berorientasi kepada tugas, yaitu perilaku pemimpin yang berorientasi kepada bawahan ditandai oleh penekanan pada hubungan atasan-bawahan, perilaku pemimpin yang berorientasi pada produksi memiliki kecenderungan penekanan pada prosedur yang telah ditentukan, pengutamaan penyelenggaraan dan penyelesaian tugas serta pencapaian tujuan.

·        Berorientasi pada bawahan, yaitu perilaku seorang pemimpin yang cenderung mementingkan bawahan memiliki mau berkonsultasi, mendukung, mendengarkan, menerima usul dan memikirkan kesejahteraan bawahan serta memperlakukannya setingkat dirinya, sehingga mampu tercipta lingkungan kerja yang suportif

3)      Teori kepemimpinan situasional

Keberhasilan seorang pemimpin menurut teori situasional ditentukan oleh ciri kepemimpinan dengan perilaku tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan situasi kepemimpinan dan situasi organisasional yang dihadapi dengan memperhitungkan faktor waktu dan ruang. Efektivitas kepemimpinan seseorang tergantung pada pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat untuk menghadapi situasi tertentu dan tingkat kematangan jiwa bawahan.

4)      Pendekatan terbaru dalam kepemimpinan

a.       Teori atribusi kepemimpinan, yaitu kepemimpinan semata-mata suatu atribusi yang dibuat orang mengenai individu-individu lain.

b.      Teori Kepemimpinan Karismatik, yaitu gaya kepemimpinan karismatis ini ialah mampu menarik orang. Mereka akan terpesona dengan cara berbicaranya yang akan membangkitkan semangat. Biasanya pemimpin dengan memiliki gaya kepribadian ini akan visionaris. Mereka sangat menyenangi akan perubahan dan adanya tantangan.

c.       Kepemimpinan transaksional lawan transformasional

Pemimpin transaksional memandu dan memotivasi bawahan mereka untuk memperjelas peran dan tuntutan tugas, sedangkan pemimpin transformasional memberikan pertimbangan dan rangsangan intelektual kepada bawahan.

5)      Dasar konseptual kepemimpinan perspektif Islam

a.       Pendekatan normatif, yaitu pendekatan yang bersumber pada Al-Qur;an dan Hadist. Di dalam pendekatan normatif, seorang pemimpin harus bertanggungjawab, amanah, bertauhid, adil, dan memiliki sifat kesederhanaan.

b.      Pendekatan Historis, yaitu pendekatan yang mengharuskan seorang pemimpin memiliki sifat aidiq, fathonah, amanah, dan tabligh, seperti pemimpin-pemimpin islam sebelumnya.

c.       Pendekatan Teoritik, yaitu islam tidak menutup kesempatan makhkuknya untuk menyampaikan teori-teori dan ide-ide pemikiran, selama selaras dengan prinsip Al-Qur’an dan As-Sunnah.

 

Selain beberapa teori kepemimpinan diatas terdapat pula beberapa gaya / model kepemimpinan, yaitu :

1)      Model Kepemimpinan Kontingengsi

Model kepemimpinan ini dikembangkan oleh Fiedler, yang menyatakan bahwa prestasi kelompok tergantung pada interaksi antara gaya kepemimpinan dan situasi yang mendukung. Orientasi dari model ini yaitu tugas dan hubungan pemimpin-anggota.

2)      Model Kepemimpinan Partisipasi

Model kepemimpinan ini dikembangkan oleh Vroom Yetton, yaitu menggambarkan kepemimpinan gaya kontinum dari pendekatan otoriter sampai pendekatan partisipatif. Pemimpin memperoleh ide dan saran dari bawahan untuk membuat keputusan dan penyelesaian.

3)      Model Kepemimpinan Jalur-Tujuan

Model kepemimpinan ini dikembangkan oleh Robert H. Hcuse, yaitu model kepemimpinan yang memfokuskan pada bagaimana pemimpin mempengaruhi persepsi pengikutnya pada tujuan kerja, tujuan pengembangan diri dan jalan untuk mencapai tujuan.

4)      Teori Kepemimpinan Situasional

Model kepemimpinan ini dikembangkan oleh Hersey dan Blancard, Model ini menekankan bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang tergantung pada pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat untuk menghadapi situasi tertentu dan tingkat kematangan jiwa bawahan. Dimensi kepemimpinan yang digunakan dalam model ini adalah perilaku pemimpin yang berkaitan dengan tugas kepemimpinannya dan hubungan atasan-bawahan. Berdasarkan dimensi tersebut, gaya kepemimpinan yang dapat digunakan adalah mengatakan (telling), menjual (selling), partisipasi (participati), dan delegasi (delegating).

5)      Pendekatan Hubungan Berpasangan Vertikal

Model kepemimpinan ini mengatakan bahwa tidak ada hal seperti perilaku pemimpin yang konsisten terhadap seluruh bawahan, dan setiap pemimpin memiliki hubungan dengan bawahan dengan keunikannya sendiri.

Kepemimpinan yang baik didalam sebuah organisasi tentu dapat membantu terwujudnya tujuan bersama yang ingin dicapai organisasi karenanya dibutuhkan pemimpin / manajer yang dapat mempengaruhi dan mengarahkan bawahan dengan baik. Pemimpin memiliki perbedaan dengan manajer, yaitu :

1)      Pemimpin ditunjuk dan diangkat karena keinginan kelompok, sedangkan Manajer ditunjuk dan memiliki kekuasaan legitimasi untuk memberi penghargaan ataupun hukuman kepada bawahan.

2)      Pemimpin tidak selalu berada dalam sebuah organisasi, sedangkan Manaajer selalu dalam organisasi baik formal maupun non formal.

3)      Pengaruh yang dimiliki pemimpin karena memiliki kemampuan pribadi yang lebih dibandingkan yang lain, sedangkan pengaruh yang dimiliki manajer karena memiliki otoritas formal.

4)      Pemimpin memikirkan organisasi secara keseluruhan dan dalam jangka panjang, sedangkan manajer berpikir jangka pendek dan hanya sebatas tanggung jawab.

5)      Pemimpin memiliki keterampilan politik dalam menyelesaikan konflik, sedangkan manajer menggunakan pendekatan formal-legal.

6)      Pemimpin berpikir untuk perbaikan dan kemajuan organisasi / kelompoknya, sedangkan manajer hanya untuk kepentingannnya sendiri dan kelompok kecilnya.

7)      Pemimpin memilikik kekuasaan yang lebih luas, sedangkan manajer hanya sebatas kewenangan saja.

Pemimpin dituntun untuk mempunyai kreadibilitas dan keilmuan yang mumpuni agar dapat tercipta kepemimpinan yang efektif. Efektivitas kepemimpinan juga berkaitan dengan jumlah dan jenis kekuasaan yang dipunyai seorang pemimpin dan cara kekuasaan tersebut digunakan. Proses kepemimpinan berlangsung efektif jika pemimpin memiliki aspek-aspek seperti : mencintai kebenaran, beriman dan bertaqwa, adil, bertanggungjawab, cerdas, kreatif, bertanggungjawab, disiplin, bijaksana, suka menolong dan bersikap ramah.

Selain pemimpin, manajer juga dituntut agar organisasi yang dikelolanya dapat berjalan efektif. Efektvitas manajerial berkaitan dengan tingkat energi dan toleransi terhadap stress, rasa percaya diri, intregritas, motivasi kekuasaan, orientasi pada keberhasilan, dan kebutuhan akan afiliasi yang rendah. Selain itu keterampilan teknis, keterampilan antar pribadi, dan keterampilan konseptual juga berpengaruh terhadap efektivitas manajerial dalam memajukan sebuah organisasi atau kelompok.

No comments:

Post a Comment

Perlindungan terhadap Perempuan ditinjau dari prinsip kesetaraan dalam Undang-Undang Perkawinan

  Kedinamisan hukum semakin memperhatikan nasib perempuan untuk adanya kesetaran dan keadilan gender dan untuk memberikan perlindungan t...