2.1.1.1.Pengertian Kinerja Karyawan
Kinerja
adalah hasil seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu didalam
melaksanakan tugas, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran kriteria
yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama (Veithzal,
2005:97). Kinerja karyawan tidak hanya sekedar informasi untuk dapat
dilakukannya promosi atau penetapan gaji bagi perusahaan. Akan tetapi bagaimana
perusahaan dapat memotivasi karyawan dan mengembangkan satu rencana untuk
memperbaiki kemerosotan kinerja dapat dihindari.
MenurutFadel (2009)
kinerja karyawana dalah pemahaman, kecepatan kerja, keakuratan,
kemampuan seseorang dalam menjalankan dan menyelesaikan tugas sesuai dengan target yang
telah di tentukan dan di sepakati bersama. Kinerja karyawan perlu
adanya penilaian dengan maksud untuk memberikan satu peluang yang baik kepada
karyawan atas rencana karier mereka dilihat dari kekuatan dan kelemahan,
sehingga perusahaan dapat menetapkan pemberian gaji, memberikan promosi, dan
dapat melihat perilaku karyawan. Penilaian kinerja dikenal dengan istilah “performancerating” atau “performanceappraisal”.
Menurut
Munandar (2008:287), penilaian kinerja adalah proses penilaian ciri-ciri
kepribadian, perilaku kerja, dan hasil kerja seseorang tenaga kerja atau
karyawan (pekerja dan manajer), yang dianggap menunjang unjuk kerjanya, yang
digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan tentang
tindakan-tindakan terhadap bidang ketenagakerjaan.
Suatu perusahaan melakukan penilaian kinerja didasarkan pertimbangan bahwa perlu adanya suatu sistem evaluasi yang objektif terhadap organisasional. Selain itu, dengan adanya penilaian kinerja, manajer puncak dapat memperoleh dasar yang objektif untuk memberikan kompensasi sesuai dengan prestasi yang disumbangkan masing-masing pusat pertanggungjawaban kepada perusahaan secara keseluruhan. Semua ini diharapkan dapat membentuk motivasi dan rangsangan kepada masing-masing bagian untuk bekerja lebih efektif dan efisien.
Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa kinerja merupakan suatu kondisi dimana seseorang dapat melaksanakan tugasnya dengan memanfaatkan kemampuan, kecakapan serta keterampilan yang di milikinya dalam melaksanakan perkerjaan.
2.1.1.2.Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja
Menurut Mangkunegara (2009), faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja antara lain : kemampuan (ability),
motivasi, disiplin,
gaya kepemimpinan tansformasional dan gaya kepemimpinan transaksional ,
budaya organisasi, kepuasan kerja, iklim kerja, jenjang karir, kompensasi.
2.1.1.3.Indikator Kinerja
Menurut Supardi
(1999) (dalam Ginting, 2012), indikator penilaian kinerja ada tujuh poin, yaitu
:
1) Kualitas kerja:
Kualitas kerja meliputi akurasi ketelitian, kerapian, melaksanakan pekerjaan,
mempergunakan dan memelihara alat kerja, keterampilan dan kecakapan
melaksanakan tugas.
2)
Kuantitas Kerja:
Kuantitas kerja meliputi keluaran dan target dari pekerjaan.
3)
Pengetahuan:
Pengetahuan adalah kemampuan seorang karyawan sehubungan dengan hal-hal yang
berhubungan dengan tugas dan prosedur kerja, penggunaan alat-alat kerja maupun
kemampuan teknis atau pekerjaan.
4) Penyesuaian
pekerjaan: Penyesuaian pekerjaan ditinjau dari kemampuan karyawan dalam
melaksanakan tugasnya di luar pekerjaan maupun adanya tugas baru serta
kecepatannya berpikir dan bertindak dalam bekerja.
5) Keandalan:
Keandalan adalah kemampuan karyawan dalam melaksanakan tugas, misalnya saat
melaksanakan prosedur, peraturan kerja, inisiatif, kedisiplinan, dan lain-lain.
6) Hubungan kerja:
Hubungan kerja dapat dilihat dari sikap karyawan terhadap lainnya, sikap
karyawan terhadap aturan, dan kesedian dalam menerima perubahan-perubahan
kerja.
7) Keselamatan
kerja: Keselamatan kerja menyangkut bagaimana perhatian karyawan pada
keselamatan kerja
2.1.2.1.Pengertian Disiplin Kerja
Secara umum disiplin dapat diartikan
sebagai kepatuhan dan ketaatan terhadap segala peraturan atau ketentuan yang
berlaku atau dapat juga diartikan sebagai kesungguhan dalam bertindak atau
berperilaku. Disiplin tidak hanya diartikan tunduk kepada peraturan-peraturan
dan ketentuan yang sudah lazim dilaksanakan. Akan tetapi disiplin dapat
mendorong manusia melaksanakan kegiatan-kegiatan secara sadar diyakini
manfaatnya.
Disiplin berasal dari bahasa latin
discipline yang berarti latihan atau pendidikan kesopanan dan kerohanian serta
pengembangan tabiat. Dari defenisi tersebut dapat terlihat bahwa arah dan tujuan
disiplin pada dasarnya adalah keharmonisan dan kewajaran serta kewajiban
kehidupan berkelompok atau organisasi formal maupun non formal (Susilo Martoyo,
2004:14).
Menurut Martoyo disiplin berasal
dari bahasa Latin yang berarti latihan atau pendidikan kesopanan dan kerohanian
serta pengembangan tabiat. Sedangkan Nitisemito (2000:199) mengungkapkan bahwa
disiplin lebih tepat kalau diartikan sebagai sikap, tingkah laku, dan perbuatan
yang sesuai dengan peraturan dari organisasi baik yang tertulis maupun yang
tidak tertulis.
Siswanto
Sastrohadiwiryo (2003:291) Disiplin kerja dapat didefinisikan sabagaisuatu
sikap menghormati, menghargai, patuh, dan taat terhadap peraturan-peraturan
yang berlaku baik yang tertulis maupun tidak tertulis serta sanggup menjalankannya
dan tidak mengelak untuk menerima sanksi- sanksinya apabila ia melanggar tugas
dan wewenang yang diberikan kepadanya.
Berdasarkan pengertian diatas dapat
disimpulkan bahwa disiplin kerja merupakan suatu keadaan yang tertib dan
teratur dimana orang-orang yang bergabung dalam suatu wadah organisasi
melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawab secara tertib, teratur dan disiplin
sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku atau ditetapkan
dalam organisasi tersebut, sehingga tidak ada yang melakukan pelanggaran
terhadap peraturan yang telah ditetapkan tersebut.
Berdasarkan pada pengertian tersebut
di atas, maka tolok ukur pengertian kedisiplinan kerja pegawai adalah sebagai
berikut :
1. Kepatuhan terhadap jam-jam kerja.
2. Kepatuhan terhadap instruksi dari
atasan, serta pada peraturan dan tata tertib yang berlaku.
3. Berpakaian yang baik pada tempat
kerja dan menggunakan tanda pengenal instansi.
4. Menggunakan dan memelihara
bahan-bahan dan alat-alat perlengkapan kantor dengan penuh hati-hati.
5. Bekerja dengan mengikuti cara-cara
bekerja yang telah ditentukan.
Kedisiplinan
adalah kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua peraturan perusahaan dan
norma-norma sosial yang berlaku. Kesadaran disini merupakan sikap seseorang
yang secara sukarela menaati semua peraturan dan sadar akan tugas dan tanggung
jawabnya. Jadi, dia akan mematuhi atau mengerjakan semua tugasnya dengan baik,
bukan atas paksaan. Sedangkan kesediaan adalah suatu sikap, tingkah laku, dan
perbuatan seseorang yang sesuai dengan peraturan perusahaan, baik yang tertulis
maupun tidak. MalayuS.P Hasibuan, (2003 : 193-194).
Dari pendapat diatas dapat diambil
kesimpulan : atau organisasinya baik yang tertulis maupun tidak tertulis
sehingga diharapkan pekerjaan yang dilakukan efektif dan efesien. Disiplin
kerja pegawai merupakan sikap atau tingkah laku yang menunjukkan kesetiaan dan
ketaatan seseorang atau sekelompok orang terhadap peraturan yang telah
ditetapkan oleh instansi.
Manfaat Disiplin Kerja Disiplin
kerja dapat dilihat sebagai sesuatu yang besar manfaatnya, baik bagi
kepentingan organisasi maupun bagi para pegawainya. Bagi organisasi adanya
disiplin kerja akan menjamin terpeliharanya tata tertib dan kelancaran
pelaksanaan tugas, sehingga diperoleh hasil yang optimal. Sedangkan bagi pegawai
akan diperoleh suasana kerja yang menyenangkan sehingga akan menambah semangat
kerja dalam melaksanakan pekerjaannya. Dengan demikian, pegawai dapat
melaksanakan tugasnya dengan penuh kesadaran serta dapat mengembangkan tenaga
dan pikirannya semaksimal mungkin demi terwujudnya tujuan organisasi.
(Sutrisno, 2009:85).
Untuk memiliki sikap disiplin yang
baik diperlukan adanya latihan yang terus menerus dan dalam waktu yang cukup
lama. Jika demikian diharapkan disiplin menjadi budaya yang
melekat pada diri setiap pegawai. Berbagai pelanggaran tindakan kejahatan dan
perlawanan terhadap peraturan dan perundang-undangan diawali dengan adanya
sikap dan tindakan tidak disiplin dari orang dan pihak tertentu.Hal inilah yang
menghambat lajunya pembangunan.
Disiplin juga dapat diartikan
sebagai pelatihan, khususnya pelatihan pikiran dan sikap untuk mengahsilkan
pengendalian diri serta kebiasaan-kebiasaan untuk mentaati peraturan yang
berlaku.
2.1.2.2.Faktor yang mempengaruhi kinerja
Ada beberapa faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi kedisiplinan kerja pegawai yang diuraikan pakar manajemen
sumber daya manusia antara lain
1. Menurut Hasibuan (2007:194), pada
dasarnya banyak indikator yang mempengaruhi tingkat kedisiplinan karyawan suatu
organisasi, diantaranya :
a. Tujuan dan Kemampuan
Tujuan dan Kemampuan ikut mempengaruhi tingkat kedisiplinan
karyawan.Tujuan yang dicapai harus jelas dan ditetapkan secara ideal serta
cukup menantang bagi kemampuan karyawan.
b.
Teladan
Pemimpin
Teladan pemimpin sangat berperan
dalam menetukan kedisiplinan karyawan karena pemimpin dijadikan teladan dan
panutan oleh para bawahan.
c.
Balas
Jasa
Balas Jasa (gaji dan kesejahteraan)
ikut mempengaruhi kedisiplinan karyawan karena balas jasa akan memberikan
kepuasaan dan kecintaan karyawan terhadap perusahaan dan pekerjaannya. Untuk
mewujudkan kedisiplinan karyawan yang baik, perusahaan memberikan balas jasa
yang relatif besar.
d.
Keadilan
e.
Waskat
(pengawasan melekat)
Dengan waskat berarti atasan harus
aktif dan langsung mengawasi perilaku, moral, sikap, gairah kerja, dan prestasi
kerja bawahannya.Hal ini berarti atasan harus selalu ada atau hadir ditempat
kerja agar dapat mengawasi dan memberikan petunjuk jika bawahan mengalami
kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaannya.Waskat efektif merangsang
kedisiplinan dan moral kerja karyawan.
f.
Sanksi
Hukuman
Sanksi hukuman berperan penting
dalam memelihara kedisiplinan karyawan. Dengan sanksi hukuman yang semakin
berat, karyawan akan semakin takut melanggar peraturan-peraturan perusahaan.
g.
Ketegasan
Sebagai seorang pemimpin harus
berani dan tegas bertindak untuk menghukum setiap karyawan yang indispliner
sesuai dengan sanksi hukuman yang telah ditetapkan.
h.
Hubungan
Kemanusiaan
Manajer (pimpinan) harus berusaha
menciptakan suasana hubungan kemanusiaan yang serasi serta mengikat, vertical
maupun horizontaldiantara karyawannya guna menciptakan
kedisiplinan yang baik pada suatu perusahaan.
2.1.2.3.Indikator Disiplin Kerja
Disiplin kerja
dalam penelitian ini dikukur dengan menggunakan
indikator sebagai berikut:(Rivai& Basri, 2005)
a.
Kehadiran
b.
Ketaatan pada peraturan kerja
c.
Ketaatan pada standar kerja
d.
Tingkat kewaspadaan tinggi
e.
Bekerja etis
No comments:
Post a Comment