MAKALAH ISLAM SEBAGAI AGAMA DAN PERADABAN



MAKALAH
ISLAM SEBAGAI AGAMA DAN PERADABAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Islam dan peradaban tidak dapat dipisahkan. Sejak kehadirannya, Islam telah membawa konsep dan misi peradaban yang melekat di dalamnya. Peradaban Islam bersumber dari din (agama) yang berasal dari wahyu Allah. Di Indonesia, Islam masuk tanpa peperangan. Islam masuk dan diterima oleh masyarakat yang telah memiliki kepercayaan Hindu yang kuat. Namun karena kekuatan konsepnya Islam mudah merasuk kedalam pandangan hidup masyarakat nusantara waktu itu, maka dalam kehidupan secara menyeluruh. Ini bukti bahwa Islam tersebar bukan melulu karena pedang. Islam tersebar, menguasai dan menyelamatkan (mengislamkan) masyarakat di kawasan-kawasan yang didudukinya. Tidak ada eksploitasi sumber alam untuk dibawa ke daerah darimana Islam berasal. Tidak ada pertambahan kekayaan bagi jazirah Arab. Tidak ada kemiskinan akibat masuknya Muslim ke kawasan yang didudukinya. Daerah-daerah yang dikuasai atau diselamatkan ummat Islam justru menjadi kaya dan makmur. Itulah watak peradaban Islam yang sangat berbeda dari peradaban Barat yang eksploitatif. Itulah yang membuktikan bahwa Islam selain menjadi sebuah agama, Islam juga merupakan sebuah peradaban. Menyadari hal di atas, bidang kajian Islam sebagai sebuah Agama dan Peradaban cukup signifikan untuk dipelajari.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1)      Bagaimana Konsepsi Islam sebagai sebuah Agama?
2)      Bagaimana Konsepsi Islam sebagai sebuah Peradaban?

C.    Tujuan
1)      Untuk mengetahui Konsepsi Islam sebagai sebuah Agama.
2)      Untuk menjelaskan Konsepsi Islam sebagai sebuah Peradaban.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    KONSEPSI ISLAM SEBAGAI SEBUAH AGAMA
Islam adalah agama yang paling mulia di sisi Allah SWT, karena diturunkan untuk menutup ajaran-ajaran sebelumnya. Ar-Rahman (Yang Memiliki Mutlak Sifat Pemurah) menugaskan Musa AS untuk mengajarkan kitab Taurat, kemudian Daud AS untuk mengajarkan kitab Zabur, kemudian Isa AS untuk mengajarkan kitab Injil. Selanjutnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ditugaskan untuk mengajarkan kitab suci Al-Quran. Melalui Rasulullah, Islam ditetapkan sebagai agama penutup dan penyempurna dari ajaran-ajaran sebelumnya.
1.      Pengertian Agama Islam
Ada dua sisi yang dapat kita gunakan untuk memahami pengertian agama islam, yaitu sisi kebahasaan dan sisi peristilahan. Kedua sisi pengertian tentang islam ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
Dari segi Islam berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamai. Pengertian kata Islam dekat dengan arti kata agama yang berarti menguasai, menundukkan, patuh ,hutang, balasan dan kebiasan.[1] Islam memiliki karakteristik yang khas dengan agama-agama sebelumnya. Dalam memahami Islam dan ajarannya, berbagai aspek yang berkenaan dengan Islam perlu dikaji secara seksama, sehingga dapat dihasilkan pemahaman yang komprehensif. Hal ini penting dilakukan karena kualitas pemahaman ke-Islaman seseorang dapat mempengaruhi pola pikir, sikap dan perilaku dalam menghadapi berbagai permasalahan  yang berkaitan dengan Islam.
Islam adalah agama universal, komprehensif, lengkap dengan dimensi edoterik dan eksoteriknya. Sebagai agama universal, Islam mengenal system perpaduan antara apa yang disebut konstan-nonadaptabel (tsabuit) di satu sisi watak Islam yang satu ini tidak mengenal perubahan apapun karena berkaitan dengan persoalan-persoalan ritus agama yang transenden, nash yang berkaitan dengan watak (konstan-non adaptabel) ini dalam Al-Quran maupun hadits sekitar 10%, yang berupa ajaran agama yang bersifat kulli dan qoth’i yang konstan dan immutable. Segmen ini meski diterima apa adanya tanpa harus adaptasi dengan perubahan-perubahan di sekitarnya, segmen ini terkait dengan persoalan dasar menyangkut sendi-sendi ajaran agama yang mempunyai nilai strategis, seperti persoalan keimanan, sholat, zakat, puasa elastis-adaptabel di sisi lain. Segmen ini lebih banyak, sekitar 90%, teks agama yang berupa aturan-aturan global yang bersifat juz’i dan zhanni  .   

2.      Pengertian Islam  Sebagai  Agama  Rahmatan Lil’alamin
Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia. Pernyataan  bahwa Islam adalah agamanya yang rahmatan lil ‘alamin sebenarnya adalah kesimpulan dari firman Allah swt:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.(QS.Al-Alnbiyah:

3.      Prilaku Manusia Sebelum adanya Islam
Islam merupakan agama yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW yaitu pada saat Rasulullah SAW berumur 14 tahun. Keadaan bumi sebelum masuknya Islam merupakan keadaan yang amat buruk dan menggenaskan dimana sebagian dari manusia ada menyembah pohon, batu, patung (berhala), matahari, bulan dan bintang, bahkan ada yang menyembah sesama manusia yang mana kesemuanya itu adalah ciptaan Allah SWT. Manusia yang hidup dimasa itu tidak lagi mempunyai rasa kemanusiaan dan keadilan. Yang kuat akan semakin berdiri tegak dan ditakuti, sedangkan yang lemah akan semakin tertindas.[2]
Kebiasaan-kebiasaan manusia pada saat itu tidak lagi mencerminkan manusia yang mempunyai akal seperti yang telah diberikan Allah SWT untuk berfikir dan merenungkan karunia dan ni’mat Allah SWT melainkan akal mereka telah ditundukkan oleh hawa nafsu. Kezaliman terjadi dimana-mana. Bahkan mereka tega untuk mengubus hidup-hidup anak perempuan yang baru saja dilahirkan oleh ibunya. Karena mereka menganggap anak perempuan itu adalah aib bagi mereka.

4.      Sejarah  Perkembangan Islam.
Hadirnya Islam di dunia membuat perubahan besar dalam kehidupan manusia , terutama dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Beberapa tahun penyebaran agama Islam di Arab, menjadikan peradapan dan universitas berkembang dengan pesat sehingga timbulnya pemikiran yang baru dengan yang lama menghasilkan kemajuan dalam bidang medis, matematika, fisika , astronomi, geografi , sastra dan lain-lain.[3] Banyak sistem yang krusial seperti ilmupengetahuantentang: Aljabar ,angka Arab dan konsep angka nol (bilangan yang sangat dipedulikan dalam ilmu eksakta) yang disebarkan ke Eropa pada abad pertengahan yang berasal dari dunia Islam Peralatan-peralatan yang canggih memungkinkan Orang-orang di Eropa melakukan perjalanan untuk penemuan seperti astrolabe, kuadran, kompas navigasi yang  juga dikembangkan oleh umat Islam. Itulah sebabnya Islam disebut agama yang rahmat dan al'amin karena Islam hadir ke dunia membawa karunia yang amat berarti bagi manusia bukan saja umat bagi umat Muslim tapi seluruh ciptaan Allah SWT di jagad raya termasuk non muslim.Baik muslim maupun non muslim kalau mereka melakukan hal-hal yang diperlukan kerahmatan, maka mereka akan mendapatkan hasilnya.[4] Kendati mereka muslim tetapi mereka tidak melakukan ikhtiar kerahmatan, maka mereka tidak akan mendapatkan hasilnya. Dengan kata lain, karunia rahmatan itu berlaku hukum kompetitif. Misalnya orang islam tidak melakukan kegiatan belajar maka tidak bisa dan tidak akan menjadi pintar. Sementara orang yang melakukan ikhtiar kerahmatan meski dia non muslim mereka akan mendapatkan pengetahuan.                  

5.      Islam Untuk Seluruh Manusia (Rahmatan Lil’alamin)                   
Kata Islam punya dua makna. Pertama, nash (teks) wahyu yang menjelaskan din (agama). Kedua, Islam merujuk pada amal manusia, yaitu keimanan dan ketundukan manusia kepada nash (teks) wahyu yang berisi ajaran din (agama) Allah.Berdasarkan makna pertama, Islam yang dibawa satu rasul berbeda dengan Islam yang dibawa rasul lainnya, dalam hal keluasan dan keuniversalannya.
Islam yang dibawa Nabi Muhammad lebih luas lagi daripada yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya. Apalagi nabi-nabi sebelumnya diutus hanya untuk kaumnya sendiri. Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia. Oleh karena itu, Islam yang dibawanya lebih luas dan menyeluruh. Tak heran jika Al-Quran bisa menjelaskan dan menunjukkan tentang segala sesuatu kepada manusia. Firman Allah :
tPöqtƒur ß]yèö7tR Îû Èe@ä. 7p¨Bé& #´Îgx© OÎgøŠn=tæ ô`ÏiB öNÍkŦàÿRr& ( $uZø¤Å_ur šÎ/ #´Íky­ 4n?tã ÏäIwàs¯»yd 4 $uZø9¨tRur šøn=tã |=»tGÅ3ø9$# $YZ»uö;Ï? Èe@ä3Ïj9 &äóÓx« Yèdur ZpyJômuur 3uŽô³ç0ur tûüÏJÎ=ó¡ßJù=Ï9 ÇÑÒÈ  

Artinya :  
“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”(Q. S. An-Nahl: 89).

B.     KONSEPSI ISLAM SEBAGAI SEBUAH PERADABAN
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan dua arti peradaban; 1) kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin: bangsa-bangsa di dunia ini tidak sama tingkat perdabannya; dan 2) hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa. Peradaban dalam bahasa Arab disebut dengan al hadhârah atau al tamaddun atau al „umrân. Menurut Ibnu Khaldun, al hadhârah adalah sebuah periode dari kehidupan sebuah masyarakat yang menyempurnakan periode primitif (al badâwah) dari masyarakat itu, karena al hadhârah adalah puncak dari al badâwah.
Dr. Muhammad Kâdzim Makki menyebutkan beberapa elemen dan kriteria peradaban;
1)      Khazanah kemanusiaan. Artinya setiap masyarakat manusia mempunyai cara tersendiri dalam memperoleh kenyamanan hidup mereka, dalam mempertahankan kelangsungan hidup mereka dan dalam berinteraksi sosial dan komunikasi, dimulai dari yang sangat primitif sampai dengan yang modern
2)      Akal (pengetahuan) sebagai ciri yang paling menonjol dari peradaban. Akal adalah yang membedakan manusia dari binatang. Dengannya manusia terus mengalami perkembangan yang tiada henti.
3)      Eksperimen (tajribah) sejarah. Setiap generasi dari sebuah masyarakat mewarisi cara hidup dari generasi sebelumnya dan mencoba mengembangkan warisan itu, karena tidak mungkin satu generasi tiba-tiba menciptakan penemuan tanpa pengetahuan atau pengalaman yang diwarisinya dari generasi sebelumnya..
4)      Struktur geografis. Sebuah peradaban pada satu masyarakat sangat dipengaruhi oleh keadaan geografis yang meliputinya.
Berdasarkan keterangan Kâdzim Makki, maka setiap masyarakat dan bangsa mempunyai peradaban tersendiri, namun yang satu lebih maju dari yang lain, karena perbedaan elemen-elemen tersebut. Peradaban (civilization) menurut Raymond Williams adalah suatu kondisi sosial-masyarakat organik, yang berbeda dengan model masyarakat yang mekanik (Huntington, Samuel P : 1996). Peradaban ini, memiliki konsentrasi pada : Pertama, eksistensi tunggal dan plural yang menyatu dan saling menyapa dalam bingkai harmoni. Kedua, Kultur, yang selalu menorehkan spirit kemanusiaan yang terimplementasi dalam kebudayaan yang terbuka dan penuh toleransi. Gambaran arah konstruksi peradaban tersebut, umumnya mengandung nilai-nilai yang ideal, serta meniscayakan suatu perubahan yang terus menerus secara progresif (transformasi). Hanya saja, dalam rekaman sejarah model-model perubahan itu, selalau menampakan wajah yang pro-establishment, kontra- establishment, konstruksi dan dekonstruksi. Huntington, memaparkan model-model perubahan dalam transisi demokrasi menuju demokrasi di Amerika Latin dalam model transplacement, replacement, dan transformation. (The Waves Of Democratization, 1997). Atau dalam kajian ilmu sosial perubahan itu memiliki paradigma: evolusi, revolusi dan transformasi. Tahapan-tahapan perubahan tersebut, hendaknya medapatkan kajian yang kritis dan mendalam terutama dalam memandang dunia Islam. Dalam Islam, perubahan itu, sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh pandangan teologis. Hal ini tergambar dalam fakta mpiris masyarakat Islam, yang mengalami pasang-surut sejarah
Kuntowijoyo, dalam tesis monumentalnya, mengurai teori Tiga Tahap Augus Comte dalam tahapan kesadaran keagamaan umat Islam, yaitu Mitos, Ideologi, dan Ilmu. Elaborasi gagasan ini sangat tepat dalam menggambarkan terhadap model perubahan masyarakat Islam, terutama dalam konteks masyarakat Indonesia. Gagasan ini hendaknya merefleksi umat Islam dalam menangkap pesan sejarah perubahan, sehingga kita tidak hanya mampu mengisi sejarah, namun mampu memainkan dan membuat sejarah dengan penuh kesadaran. Fase ini, merupakan kunci utama dalam tahapan konstruksi peradaban Islam, yang menurut Kontowijoyo sebagai Peradaban Profetik, dimana agama telah menyatu dalam kehidupan manusia.
Tanda wujudnya peradaban, menurut Ibnuu Khaldun adalah berkembangnya ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, geometri, aritmetik, astronomi, optic, kedokteran dsb. Bahkan maju mundurnya suatu peradaban tergantung atau berkaitan dengan maju mundurnya ilmu pengetahuan. Jadi substansi peradaban yang terpenting dalam teori Ibnu Khaldun adalah ilmu pengetahuan. Namun ilmu pengetahuan tidak mungkin hidup tanpa adanya komunitas yang aktif mengembangkannya. Karena itu suatu peradaban atau suatu umran harus dimulai dari suatu “komunitas kecil” dan ketika komunitas itu membesar maka akan lahir umran besar. Komunitas itu biasanya muncul di perkotaan atau bahkan membentuk suatu kota. Dari kota itulah akan terbentuk masyarakat yang memiliki berbagai kegiatan kehidupan yang timbul dari suatu sistem kemasyarakatan dan akhirnya lahirlah suatu Negara. Kota Madinah, kota Cordova, kota Baghdad, kota Samara, kota Cairo dan lain-lain adalah sedikit contoh dari kota yang berasal dari komunitas yang kemudian melahirkan Negara. Tanda-tanda lahir dan hidupnya suatu umran bagi Ibnu Khaldun di antaranya adalah berkembanganya teknologi, (tekstil, pangan, dan papan / arsitektur), kegiatan eknomi, tumbuhnya praktek kedokteran, kesenian (kaligrafi, musik, sastra dsb). Di balik tanda-tanda lahirnya suatu peradaban itu terdapat komunitas yang aktif dan kreatif menghasilkan ilmu pengetahuan.
Namun di balik faktor aktivitas dan kreativitas masyarakat masih terdapat faktor lain yaitu agama, spiritualitas atau kepercayaan. Para sarjana Muslim kontemporer umumnya menerima pendapat bahwa agama adalah asas peradaban, menolak agama adalah kebiadaban. Sayyid Qutb menyatakan bahwa keimanan adalah sumber peradaban. Meskipun dalam peradaban Islam struktur organisasi dan bentuknya secara material berbeda-beda, namun prinsip-prinsip dan nilai-nilai asasinya adalah satu dan permanent. Prinsip-prinsip itu adalah ketaqwaan kepada Tuhan (taqwa), keyakinan kepada keesaan Tuhan (tauhid), supremasi kemanusiaan di atas segala sesuatu yang bersifat material, pengembangan nilai-nilai kemanusiaan dan penjagaan dari keinginan hewani, penghormatan terhadap keluarga, menyadari fungsinya sebagai khalifah Allah di Bumi berdasarkan petunjuk dan perintah-Nya (syariat).
Sejalan dengan Sayyid Qutb, Syeikh Muhammad Abduh menekankan bahwa agama atau keyakinan adalah asas segala peradaban. Bangsa-bangsa purbakala seperti Yunani, Mesir, India, dll, membangun peradaban mereka dari sebuah agama, keyakinan atau kepercayaan. Arnold Toynbee juga mengakui bahwa kekuatan spiritual (batiniyah) adalah kekuatan yang memungkinkan seseorang melahirkan manifestasi lahiriyah (outward manifestation) yang kemudian disebut sebagai peradaban itu.
Jika agama atau kepercayaan merupakan asas peradaban, dan jika agama serta kepercayaan itu membentuk cara pandang seseorang terhadap sesuatu yang pada gilirannya dapat mempengaruhi tindakan nyatanya atau manifestasi lahiriyahnya, maka sejalan dengan teori modern bahwa pandangan hidup (worldview) merupakan asas bagi setiap peradaban dunia.
Jika makna worldview adalah konsep nilai, motor bagi perubahan sosial, asas bagi pemahaman realitas dan asas bagi aktivitas ilmiah, maka Islam mengandung itu semua. Islam bahkan memiliki pandangan terhadap realitas fisik dan non fisik secara integral. Ayat-ayat al-Qur’an jelas-jelas adalah konsep seminal yang memproyeksikan pandangan Islam tentang alam semesta dan kehidupan yang disebut pandangan hidup atau pandangan alam Islam (worldview, al-taÎawwur al-Islami, al-mabda al-Islami) itu. Bukan hanya itu, konsep-konsep itu diberi medium pelaksanaannya yang berupa institusi yang disebut din, yang di dalamnya terkandung konsep peradaban (Tamaddun).
Oleh sebab itu dalam Islam worldview memiliki istilahnya sendiri. Bagi al-Mawdudi worldview Islam adalah Islami Nahzariyat (Islamic Vision) yang berarti “pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan (syahadah) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunia….secara menyeluruh”. Menurut Sayyid Qutb worldview Islam adalah al-tashawwur al-Islami, yang berarti “akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap Muslim, yang memberi gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang terdapat dibalik itu.” Worldview dalam istilah Shaykh Atif al-Zayn adalah al-Mabda’ al-Islami yang lebih cenderung merupakan kesatuan iman dan akal dan karena itu ia mengartikan mabda’ sebagai aqidah fikriyyah yaitu kepercayaan yang berdasarkan pada akal. Sebab baginya iman didahului dengan akal. Namun Shaykh Atif juga menggunakan kata-kata mabda untuk ideologi non-Muslim. Ini berarti bahwa tidak selamanya berarti aqidah fikriyyah. S.M.Naquib al-Attas mengartikan worldview Islam sebagai pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total, maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud (ru’yat al-Islam li al-wujud).
Jadi sebagaimana peradaban lainnya, substansi peradaban Islam adalah pokok-pokok ajaran Islam yang tidak terbatas pada sistem kepercayaan, tata pikir, dan tata nilai, tapi merupakan super-sistem yang meliputi keseluruhan pandangan tentang wujud, terutamanya pandangan tentang Tuhan. Oleh sebab itu teologi (aqidah) dalam Islam merupakan fondasi bagi tata pikir, tata nilai dan seluruh kegiatan kehidupan Muslim. Itulah pandangan hidup Islam. Jika pandangan hidup itu berakumulasi dalam tata pikiran seseorang ia akan memancar dalam keseluruhan kegiatan kehidupannya dan akan menghasilkan etos kerja dan termanifestasikan dalam bentuk karya nyata. Dan jika ia memancar dari pikiran masyarakat atau bangsa maka ia akan menghasilkan falsafah hidup bangsa dan sistem kehidupan bangsa tersebut. Jadi substansi peradaban Islam adalah pandangan hidup Islam. Namun elemen pandangan hidup yang terpenting adalah pemikiran dan kepercayaan.
Menurut Ibnu Khaldun, wujud suatu peradaban merupakan produk dari akumulasi tiga elemen penting yaitu :
1)      Kemampuan manusia untuk berfikir yang menghasilkan sains dan teknologi
2)      Kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer
3)      Kesanggupan berjuang untuk hidup. Jadi kemampuan berfikir merupakan elemen asas suatu peradaban.
Suatu bangsa akan beradab (berbudaya) hanya jika bangsa itu telah mencapai tingkat kemapuan intelektual tertentu. Sebab kesempurnaan manusia ditentukan oleh ketinggian pemikirannya. Suatu peradaban hanya akan wujud jika manusia di dalamnya memiliki pemikiran yang tinggi sehingga mampu meningkatkan taraf kehidupannya.
Dalam studi yang mendalam tentang kebangkitan dan kehancuran suatu peradaban, Toynbee menemukan bahwa agama dan spiritualitas memainkan peran sebagai chrysalis (kepompong) yang merupakan cikal bakal tumbuhnya suatu peradaban. Antara kematian dan kebangkitan suatu peradaban, ada kelompok yang disebut “creative minorities” yang dengan spiritual mendalam atau motoifasi agama, mereka bekerja keras untuk melahirkan satu peradaban baru dari reruntuhan peradaban lama. Karena itu, aspek spiritual sangat memainkan peran sentral   dalam mempertahankan eksistensi suatu  peradaban. Peradaban yang telah hilang inti spiritualitas akan mengalami penurunan.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Konsepsi Islam sebagai sebuah Agama yaitu, Islam adalah agama yang paling mulia di sisi Allah SWT, karena diturunkan untuk menutup ajaran-ajaran sebelumnya. Kata Islam punya dua makna. Pertama, nash (teks) wahyu yang menjelaskan din (agama). Kedua, Islam merujuk pada amal manusia, yaitu keimanan dan ketundukan manusia kepada nash (teks) wahyu yang berisi ajaran din (agama) Allah. Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia.
Konsepsi Islam sebagai sebuah peradaban yaitu, bahwa Peradaban Islam bersumber dari din (agama) yang berasal dari wahyu Allah. Substansi peradaban Islam adalah pokok-pokok ajaran Islam yang tidak terbatas pada sistem kepercayaan, tata pikir, dan tata nilai, tapi merupakan super-sistem yang meliputi keseluruhan pandangan tentang wujud, terutamanya pandangan tentang Tuhan. Oleh sebab itu teologi (aqidah) dalam Islam merupakan fondasi bagi tata pikir, tata nilai dan seluruh kegiatan kehidupan Muslim.
Aspek spiritual sangat memainkan peran sentral dalam mempertahankan eksistensi suatu  peradaban. Peradaban yang telah hilang inti spiritualitas akan mengalami penurunan.


DAFTAR PUSTAKA

Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya ,Jilid I ,Jakarta :UI Press,1997
Hailkal,  Husain, Sejarah Hidup Muhammad, (terj). Jakarta:literaAntarNusa,1992 cet.13
Drs.Hasanuddin. Sejarah kebudayaan islam . 1994.Tohaputra 
Bahi, Muhammad, Pemikiran Islam dan Perkembangannya,(terj), jakarta: Risalah, 1995




[1] Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya ,Jilid I , Jakarta :UI Press,1997, hlm 9.   
[2] Hailkal, Husain, Sejarah Hidup Muhammad, (terj). Jakarta:literaAntarNusa,1992, cet.13
[3] Drs.Hasanuddin. Sejarah kebudayaan islam . 1994.Tohaputra 
[4] Bahi, Muhammad, Pemikiran Islam dan Perkembangannya,(terj),(Jakarta:Risalah,1995)

No comments:

Post a Comment

Perlindungan terhadap Perempuan ditinjau dari prinsip kesetaraan dalam Undang-Undang Perkawinan

  Kedinamisan hukum semakin memperhatikan nasib perempuan untuk adanya kesetaran dan keadilan gender dan untuk memberikan perlindungan t...