MAKALAH
ISLAM SEBAGAI AGAMA DAN PERADABAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Islam dan peradaban tidak dapat dipisahkan. Sejak
kehadirannya, Islam telah membawa konsep dan misi peradaban yang melekat di
dalamnya. Peradaban Islam bersumber dari din (agama) yang berasal dari wahyu
Allah. Di Indonesia, Islam masuk tanpa peperangan.
Islam masuk dan diterima oleh masyarakat yang telah memiliki kepercayaan Hindu
yang kuat. Namun karena kekuatan konsepnya Islam mudah merasuk kedalam
pandangan hidup masyarakat nusantara waktu itu, maka dalam kehidupan secara
menyeluruh. Ini bukti bahwa Islam tersebar bukan melulu karena pedang. Islam
tersebar, menguasai dan menyelamatkan (mengislamkan) masyarakat di
kawasan-kawasan yang didudukinya. Tidak ada eksploitasi sumber alam untuk
dibawa ke daerah darimana Islam berasal. Tidak ada pertambahan kekayaan bagi
jazirah Arab. Tidak ada kemiskinan akibat masuknya Muslim ke kawasan yang
didudukinya. Daerah-daerah yang dikuasai atau diselamatkan ummat Islam justru
menjadi kaya dan makmur. Itulah watak peradaban Islam yang sangat berbeda dari
peradaban Barat yang eksploitatif. Itulah
yang membuktikan bahwa Islam selain menjadi sebuah agama, Islam juga merupakan
sebuah peradaban. Menyadari hal di
atas, bidang kajian Islam sebagai sebuah Agama dan Peradaban cukup signifikan
untuk dipelajari.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan
masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1)
Bagaimana
Konsepsi Islam sebagai sebuah Agama?
2)
Bagaimana
Konsepsi Islam sebagai sebuah Peradaban?
C. Tujuan
1)
Untuk mengetahui
Konsepsi Islam sebagai sebuah Agama.
2)
Untuk
menjelaskan Konsepsi Islam sebagai sebuah Peradaban.
BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEPSI ISLAM
SEBAGAI SEBUAH AGAMA
Islam adalah agama yang paling mulia di sisi Allah
SWT, karena diturunkan untuk menutup ajaran-ajaran sebelumnya. Ar-Rahman (Yang
Memiliki Mutlak Sifat Pemurah) menugaskan Musa AS untuk mengajarkan kitab
Taurat, kemudian Daud AS untuk mengajarkan kitab Zabur, kemudian Isa AS untuk
mengajarkan kitab Injil. Selanjutnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
ditugaskan untuk mengajarkan kitab suci Al-Quran. Melalui Rasulullah, Islam
ditetapkan sebagai agama penutup dan penyempurna dari ajaran-ajaran sebelumnya.
1.
Pengertian Agama Islam
Ada
dua sisi yang dapat kita gunakan untuk memahami pengertian agama islam, yaitu sisi kebahasaan dan sisi
peristilahan. Kedua sisi pengertian tentang islam ini dapat dijelaskan sebagai
berikut.
Dari
segi Islam berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata salima yang
mengandung arti selamat, sentosa,
dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang
berarti berserah diri masuk dalam kedamai. Pengertian kata Islam
dekat dengan arti kata agama yang berarti menguasai, menundukkan, patuh
,hutang, balasan dan kebiasan.[1] Islam
memiliki karakteristik yang khas dengan agama-agama sebelumnya. Dalam memahami
Islam dan ajarannya, berbagai aspek yang berkenaan dengan Islam perlu dikaji
secara seksama, sehingga dapat dihasilkan pemahaman yang komprehensif. Hal ini penting
dilakukan karena kualitas pemahaman ke-Islaman seseorang dapat mempengaruhi
pola pikir, sikap dan perilaku dalam menghadapi berbagai permasalahan
yang berkaitan dengan Islam.
Islam
adalah agama universal, komprehensif, lengkap dengan dimensi edoterik dan
eksoteriknya. Sebagai agama universal, Islam mengenal system perpaduan antara
apa yang disebut konstan-nonadaptabel (tsabuit) di satu sisi watak Islam yang
satu ini tidak mengenal perubahan apapun karena berkaitan dengan
persoalan-persoalan ritus agama yang transenden, nash yang berkaitan dengan
watak (konstan-non adaptabel)
ini dalam Al-Quran maupun hadits sekitar 10%, yang berupa ajaran agama yang
bersifat kulli dan qoth’i yang konstan dan immutable. Segmen ini meski diterima
apa adanya tanpa harus adaptasi dengan perubahan-perubahan di sekitarnya,
segmen ini terkait dengan persoalan dasar menyangkut sendi-sendi ajaran agama
yang mempunyai nilai strategis, seperti persoalan keimanan, sholat, zakat,
puasa elastis-adaptabel di sisi lain. Segmen ini lebih banyak, sekitar 90%,
teks agama yang berupa aturan-aturan global yang bersifat juz’i dan
zhanni .
2.
Pengertian Islam
Sebagai Agama Rahmatan Lil’alamin
Islam
adalah agama rahmatan lil ‘alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa
rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan
jin, apalagi sesama
manusia. Pernyataan bahwa Islam adalah agamanya yang rahmatan lil
‘alamin sebenarnya adalah kesimpulan dari firman Allah swt:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk
(menjadi) rahmat bagi semesta alam”.(QS.Al-Alnbiyah:
3.
Prilaku Manusia Sebelum
adanya Islam
Islam
merupakan agama yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW yaitu pada saat
Rasulullah SAW berumur 14 tahun. Keadaan bumi sebelum masuknya Islam merupakan keadaan
yang amat buruk dan menggenaskan dimana sebagian dari manusia ada menyembah
pohon, batu, patung (berhala), matahari, bulan dan bintang, bahkan ada yang
menyembah sesama manusia yang mana kesemuanya itu adalah ciptaan Allah SWT.
Manusia yang hidup dimasa itu tidak lagi mempunyai rasa kemanusiaan dan
keadilan. Yang kuat akan semakin berdiri tegak dan ditakuti, sedangkan yang
lemah akan semakin tertindas.[2]
Kebiasaan-kebiasaan
manusia pada saat itu tidak lagi mencerminkan manusia yang mempunyai akal seperti
yang telah diberikan Allah SWT untuk berfikir dan merenungkan karunia dan
ni’mat Allah SWT melainkan akal mereka telah ditundukkan oleh hawa nafsu.
Kezaliman terjadi dimana-mana. Bahkan mereka tega untuk mengubus hidup-hidup
anak perempuan yang baru saja dilahirkan oleh ibunya. Karena mereka menganggap
anak perempuan itu adalah aib bagi mereka.
4.
Sejarah
Perkembangan Islam.
Hadirnya
Islam di dunia membuat perubahan besar dalam kehidupan manusia , terutama dalam
perkembangan ilmu pengetahuan. Beberapa tahun penyebaran agama Islam di Arab,
menjadikan peradapan dan universitas berkembang dengan pesat sehingga timbulnya
pemikiran yang baru dengan yang lama menghasilkan kemajuan dalam bidang medis,
matematika, fisika , astronomi, geografi , sastra dan lain-lain.[3]
Banyak sistem yang krusial seperti ilmupengetahuantentang: Aljabar ,angka Arab
dan konsep angka nol (bilangan yang sangat dipedulikan dalam ilmu eksakta) yang
disebarkan ke Eropa pada abad pertengahan yang berasal dari dunia Islam
Peralatan-peralatan yang canggih memungkinkan Orang-orang di Eropa melakukan
perjalanan untuk penemuan seperti astrolabe, kuadran, kompas navigasi
yang juga dikembangkan oleh umat Islam. Itulah sebabnya Islam disebut
agama yang rahmat dan al'amin karena Islam hadir ke dunia membawa karunia yang
amat berarti bagi manusia bukan saja umat bagi umat Muslim tapi seluruh
ciptaan Allah SWT di jagad raya termasuk non muslim.Baik muslim maupun non
muslim kalau mereka melakukan hal-hal yang diperlukan kerahmatan, maka mereka
akan mendapatkan hasilnya.[4] Kendati mereka muslim
tetapi mereka tidak melakukan ikhtiar kerahmatan, maka mereka tidak akan
mendapatkan hasilnya. Dengan kata lain, karunia rahmatan itu berlaku hukum
kompetitif. Misalnya orang islam tidak melakukan kegiatan belajar maka tidak
bisa dan tidak akan menjadi pintar. Sementara orang yang melakukan ikhtiar
kerahmatan meski dia non muslim mereka akan mendapatkan
pengetahuan.
5.
Islam Untuk Seluruh
Manusia (Rahmatan
Lil’alamin)
Kata
Islam punya dua makna. Pertama, nash (teks) wahyu yang menjelaskan din (agama).
Kedua, Islam merujuk pada amal manusia, yaitu keimanan dan ketundukan manusia
kepada nash (teks) wahyu yang berisi ajaran din (agama) Allah.Berdasarkan makna
pertama, Islam yang dibawa satu rasul berbeda dengan Islam yang dibawa rasul
lainnya, dalam hal keluasan dan keuniversalannya.
Islam
yang dibawa Nabi Muhammad lebih luas lagi daripada yang dibawa oleh nabi-nabi
sebelumnya. Apalagi nabi-nabi sebelumnya diutus hanya untuk kaumnya sendiri.
Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia. Oleh karena itu, Islam yang
dibawanya lebih luas dan menyeluruh. Tak heran jika Al-Quran bisa menjelaskan
dan menunjukkan tentang segala sesuatu kepada manusia. Firman Allah :
tPöqtur ß]yèö7tR Îû Èe@ä. 7p¨Bé& #´Îgx© OÎgøn=tæ ô`ÏiB öNÍkŦàÿRr& (
$uZø¤Å_ur Î/ #´Íky 4n?tã ÏäIwàs¯»yd 4
$uZø9¨tRur øn=tã |=»tGÅ3ø9$# $YZ»uö;Ï? Èe@ä3Ïj9 &äóÓx« Yèdur ZpyJômuur 3uô³ç0ur tûüÏJÎ=ó¡ßJù=Ï9 ÇÑÒÈ
Artinya :
“(Dan
ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi
atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi
saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran)
untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira
bagi orang-orang yang berserah diri”(Q. S. An-Nahl: 89).
B. KONSEPSI
ISLAM SEBAGAI SEBUAH
PERADABAN
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan dua arti
peradaban; 1) kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin: bangsa-bangsa di
dunia ini tidak sama tingkat perdabannya; dan 2) hal yang menyangkut sopan
santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa. Peradaban dalam bahasa Arab
disebut dengan al hadhârah atau al tamaddun atau al „umrân. Menurut Ibnu
Khaldun, al hadhârah adalah sebuah periode dari kehidupan sebuah masyarakat
yang menyempurnakan periode primitif (al badâwah) dari masyarakat itu, karena
al hadhârah adalah puncak dari al badâwah.
Dr. Muhammad Kâdzim Makki menyebutkan beberapa elemen
dan kriteria peradaban;
1)
Khazanah
kemanusiaan. Artinya setiap masyarakat manusia mempunyai cara tersendiri dalam
memperoleh kenyamanan hidup mereka, dalam mempertahankan kelangsungan hidup
mereka dan dalam berinteraksi sosial dan komunikasi, dimulai dari yang sangat
primitif sampai dengan yang modern
2)
Akal
(pengetahuan) sebagai ciri yang paling menonjol dari peradaban. Akal adalah
yang membedakan manusia dari binatang. Dengannya manusia terus mengalami
perkembangan yang tiada henti.
3)
Eksperimen
(tajribah) sejarah. Setiap generasi dari sebuah masyarakat mewarisi cara hidup
dari generasi sebelumnya dan mencoba mengembangkan warisan itu, karena tidak
mungkin satu generasi tiba-tiba menciptakan penemuan tanpa pengetahuan atau
pengalaman yang diwarisinya dari generasi sebelumnya..
4)
Struktur
geografis. Sebuah peradaban pada satu masyarakat sangat dipengaruhi oleh
keadaan geografis yang meliputinya.
Berdasarkan keterangan Kâdzim Makki, maka setiap
masyarakat dan bangsa mempunyai peradaban tersendiri, namun yang satu lebih
maju dari yang lain, karena perbedaan elemen-elemen tersebut. Peradaban
(civilization) menurut Raymond Williams adalah suatu kondisi sosial-masyarakat
organik, yang berbeda dengan model masyarakat yang mekanik (Huntington, Samuel
P : 1996). Peradaban ini, memiliki konsentrasi pada : Pertama, eksistensi
tunggal dan plural yang menyatu dan saling menyapa dalam bingkai harmoni.
Kedua, Kultur, yang selalu menorehkan spirit kemanusiaan yang terimplementasi
dalam kebudayaan yang terbuka dan penuh toleransi. Gambaran arah konstruksi
peradaban tersebut, umumnya mengandung nilai-nilai yang ideal, serta
meniscayakan suatu perubahan yang terus menerus secara progresif
(transformasi). Hanya saja, dalam rekaman sejarah model-model perubahan itu,
selalau menampakan wajah yang pro-establishment, kontra- establishment,
konstruksi dan dekonstruksi. Huntington, memaparkan model-model perubahan dalam
transisi demokrasi menuju demokrasi di Amerika Latin dalam model
transplacement, replacement, dan transformation. (The Waves Of Democratization,
1997). Atau dalam kajian ilmu sosial perubahan itu memiliki paradigma: evolusi,
revolusi dan transformasi. Tahapan-tahapan perubahan tersebut, hendaknya
medapatkan kajian yang kritis dan mendalam terutama dalam memandang dunia
Islam. Dalam Islam, perubahan itu, sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh
pandangan teologis. Hal ini tergambar dalam fakta mpiris masyarakat Islam, yang
mengalami pasang-surut sejarah
Kuntowijoyo, dalam tesis monumentalnya, mengurai teori
Tiga Tahap Augus Comte dalam tahapan kesadaran keagamaan umat Islam, yaitu
Mitos, Ideologi, dan Ilmu. Elaborasi gagasan ini sangat tepat dalam
menggambarkan terhadap model perubahan masyarakat Islam, terutama dalam konteks
masyarakat Indonesia. Gagasan ini hendaknya merefleksi umat Islam dalam
menangkap pesan sejarah perubahan, sehingga kita tidak hanya mampu mengisi
sejarah, namun mampu memainkan dan membuat sejarah dengan penuh kesadaran. Fase
ini, merupakan kunci utama dalam tahapan konstruksi peradaban Islam, yang
menurut Kontowijoyo sebagai Peradaban Profetik, dimana agama telah menyatu
dalam kehidupan manusia.
Tanda
wujudnya peradaban, menurut
Ibnuu Khaldun adalah berkembangnya ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia,
geometri, aritmetik, astronomi, optic, kedokteran dsb. Bahkan maju mundurnya suatu
peradaban tergantung atau berkaitan dengan maju mundurnya ilmu pengetahuan.
Jadi substansi peradaban yang terpenting dalam teori Ibnu Khaldun adalah ilmu
pengetahuan. Namun ilmu pengetahuan tidak mungkin hidup tanpa adanya komunitas
yang aktif mengembangkannya. Karena itu suatu peradaban atau suatu umran harus
dimulai dari suatu “komunitas kecil” dan ketika komunitas itu membesar maka akan
lahir umran besar. Komunitas itu biasanya muncul di perkotaan atau bahkan
membentuk suatu kota. Dari kota itulah akan terbentuk masyarakat yang memiliki
berbagai kegiatan kehidupan yang timbul dari suatu sistem kemasyarakatan dan
akhirnya lahirlah suatu Negara. Kota Madinah, kota Cordova, kota Baghdad, kota
Samara, kota Cairo dan lain-lain adalah sedikit contoh dari kota yang berasal
dari komunitas yang kemudian melahirkan Negara. Tanda-tanda lahir dan hidupnya
suatu umran bagi Ibnu Khaldun di antaranya adalah berkembanganya teknologi,
(tekstil, pangan, dan papan / arsitektur), kegiatan eknomi, tumbuhnya praktek
kedokteran, kesenian (kaligrafi, musik, sastra dsb). Di balik tanda-tanda
lahirnya suatu peradaban itu terdapat komunitas yang aktif dan kreatif menghasilkan
ilmu pengetahuan.
Namun di balik faktor aktivitas dan kreativitas masyarakat masih terdapat faktor lain yaitu agama, spiritualitas atau kepercayaan. Para sarjana Muslim kontemporer umumnya menerima pendapat bahwa agama adalah asas peradaban, menolak agama adalah kebiadaban. Sayyid Qutb menyatakan bahwa keimanan adalah sumber peradaban. Meskipun dalam peradaban Islam struktur organisasi dan bentuknya secara material berbeda-beda, namun prinsip-prinsip dan nilai-nilai asasinya adalah satu dan permanent. Prinsip-prinsip itu adalah ketaqwaan kepada Tuhan (taqwa), keyakinan kepada keesaan Tuhan (tauhid), supremasi kemanusiaan di atas segala sesuatu yang bersifat material, pengembangan nilai-nilai kemanusiaan dan penjagaan dari keinginan hewani, penghormatan terhadap keluarga, menyadari fungsinya sebagai khalifah Allah di Bumi berdasarkan petunjuk dan perintah-Nya (syariat).
Namun di balik faktor aktivitas dan kreativitas masyarakat masih terdapat faktor lain yaitu agama, spiritualitas atau kepercayaan. Para sarjana Muslim kontemporer umumnya menerima pendapat bahwa agama adalah asas peradaban, menolak agama adalah kebiadaban. Sayyid Qutb menyatakan bahwa keimanan adalah sumber peradaban. Meskipun dalam peradaban Islam struktur organisasi dan bentuknya secara material berbeda-beda, namun prinsip-prinsip dan nilai-nilai asasinya adalah satu dan permanent. Prinsip-prinsip itu adalah ketaqwaan kepada Tuhan (taqwa), keyakinan kepada keesaan Tuhan (tauhid), supremasi kemanusiaan di atas segala sesuatu yang bersifat material, pengembangan nilai-nilai kemanusiaan dan penjagaan dari keinginan hewani, penghormatan terhadap keluarga, menyadari fungsinya sebagai khalifah Allah di Bumi berdasarkan petunjuk dan perintah-Nya (syariat).
Sejalan
dengan Sayyid Qutb, Syeikh Muhammad Abduh menekankan bahwa agama atau keyakinan
adalah asas segala peradaban. Bangsa-bangsa purbakala seperti Yunani, Mesir,
India, dll, membangun peradaban mereka dari sebuah agama, keyakinan atau
kepercayaan. Arnold Toynbee juga mengakui bahwa kekuatan spiritual (batiniyah)
adalah kekuatan yang memungkinkan seseorang melahirkan manifestasi lahiriyah
(outward manifestation) yang kemudian disebut sebagai peradaban itu.
Jika
agama atau kepercayaan merupakan asas peradaban, dan jika agama serta
kepercayaan itu membentuk cara pandang seseorang terhadap sesuatu yang pada
gilirannya dapat mempengaruhi tindakan nyatanya atau manifestasi lahiriyahnya,
maka sejalan dengan teori modern bahwa pandangan hidup (worldview) merupakan asas
bagi setiap peradaban dunia.
Jika
makna worldview adalah konsep nilai, motor bagi perubahan sosial, asas bagi
pemahaman realitas dan asas bagi aktivitas ilmiah, maka Islam mengandung itu
semua. Islam bahkan memiliki pandangan terhadap realitas fisik dan non fisik
secara integral. Ayat-ayat al-Qur’an jelas-jelas adalah konsep seminal yang
memproyeksikan pandangan Islam tentang alam semesta dan kehidupan yang disebut
pandangan hidup atau pandangan alam Islam (worldview, al-taÎawwur al-Islami,
al-mabda al-Islami) itu. Bukan hanya itu, konsep-konsep itu diberi medium
pelaksanaannya yang berupa institusi yang disebut din, yang di dalamnya
terkandung konsep peradaban (Tamaddun).
Oleh
sebab itu dalam Islam worldview memiliki istilahnya sendiri. Bagi al-Mawdudi
worldview Islam adalah Islami Nahzariyat (Islamic Vision) yang berarti
“pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan (syahadah) yang
berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunia….secara
menyeluruh”. Menurut Sayyid Qutb worldview Islam adalah al-tashawwur al-Islami,
yang berarti “akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan
hati setiap Muslim, yang memberi gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang
terdapat dibalik itu.” Worldview dalam istilah Shaykh Atif al-Zayn adalah
al-Mabda’ al-Islami yang lebih cenderung merupakan kesatuan iman dan akal dan
karena itu ia mengartikan mabda’ sebagai aqidah fikriyyah yaitu kepercayaan
yang berdasarkan pada akal. Sebab baginya iman didahului dengan akal. Namun
Shaykh Atif juga menggunakan kata-kata mabda untuk ideologi non-Muslim. Ini
berarti bahwa tidak selamanya berarti aqidah fikriyyah. S.M.Naquib al-Attas
mengartikan worldview Islam sebagai pandangan Islam tentang realitas dan
kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud;
oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total, maka worldview
Islam berarti pandangan Islam tentang wujud (ru’yat al-Islam li al-wujud).
Jadi
sebagaimana peradaban lainnya, substansi peradaban Islam adalah pokok-pokok
ajaran Islam yang tidak terbatas pada sistem kepercayaan, tata pikir, dan tata
nilai, tapi merupakan super-sistem yang meliputi keseluruhan pandangan tentang
wujud, terutamanya pandangan tentang Tuhan. Oleh sebab itu teologi (aqidah)
dalam Islam merupakan fondasi bagi tata pikir, tata nilai dan seluruh kegiatan
kehidupan Muslim. Itulah pandangan hidup Islam. Jika pandangan hidup itu
berakumulasi dalam tata pikiran seseorang ia akan memancar dalam keseluruhan
kegiatan kehidupannya dan akan menghasilkan etos kerja dan termanifestasikan
dalam bentuk karya nyata. Dan jika ia memancar dari pikiran masyarakat atau
bangsa maka ia akan menghasilkan falsafah hidup bangsa dan sistem kehidupan
bangsa tersebut. Jadi substansi peradaban Islam adalah pandangan hidup Islam.
Namun elemen pandangan hidup yang terpenting adalah pemikiran dan kepercayaan.
Menurut
Ibnu Khaldun, wujud suatu peradaban merupakan produk dari akumulasi tiga elemen
penting yaitu :
1)
Kemampuan manusia untuk
berfikir yang menghasilkan sains dan teknologi
2)
Kemampuan berorganisasi
dalam bentuk kekuatan politik dan militer
3)
Kesanggupan berjuang
untuk hidup. Jadi kemampuan berfikir merupakan elemen asas suatu peradaban.
Suatu
bangsa akan beradab (berbudaya) hanya jika bangsa itu telah mencapai tingkat
kemapuan intelektual tertentu. Sebab kesempurnaan manusia ditentukan oleh
ketinggian pemikirannya. Suatu peradaban hanya akan wujud jika manusia di
dalamnya memiliki pemikiran yang tinggi sehingga mampu meningkatkan taraf
kehidupannya.
Dalam
studi yang mendalam tentang kebangkitan dan kehancuran suatu peradaban, Toynbee
menemukan bahwa agama dan spiritualitas memainkan peran sebagai chrysalis
(kepompong) yang merupakan cikal bakal tumbuhnya suatu peradaban. Antara
kematian dan kebangkitan suatu peradaban, ada kelompok yang disebut “creative
minorities” yang dengan spiritual mendalam atau motoifasi agama, mereka bekerja
keras untuk melahirkan satu peradaban baru dari reruntuhan peradaban lama.
Karena itu, aspek spiritual sangat memainkan peran sentral dalam
mempertahankan eksistensi suatu peradaban. Peradaban yang telah hilang
inti spiritualitas akan mengalami penurunan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Konsepsi Islam sebagai sebuah Agama yaitu, Islam
adalah agama yang paling mulia di sisi Allah SWT, karena diturunkan untuk
menutup ajaran-ajaran sebelumnya. Kata Islam punya dua
makna. Pertama, nash (teks) wahyu yang menjelaskan din (agama). Kedua, Islam
merujuk pada amal manusia, yaitu keimanan dan ketundukan manusia kepada nash
(teks) wahyu yang berisi ajaran din (agama) Allah. Islam
adalah agama rahmatan lil ‘alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa
rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan
jin, apalagi sesama
manusia.
Konsepsi Islam sebagai sebuah peradaban yaitu, bahwa Peradaban
Islam bersumber dari din (agama) yang berasal dari wahyu Allah. Substansi
peradaban Islam adalah pokok-pokok ajaran Islam yang tidak terbatas pada sistem
kepercayaan, tata pikir, dan tata nilai, tapi merupakan super-sistem yang
meliputi keseluruhan pandangan tentang wujud, terutamanya pandangan tentang
Tuhan. Oleh sebab itu teologi (aqidah) dalam Islam merupakan fondasi bagi tata
pikir, tata nilai dan seluruh kegiatan kehidupan Muslim.
Aspek spiritual sangat memainkan peran sentral dalam
mempertahankan eksistensi suatu
peradaban. Peradaban yang telah hilang inti spiritualitas akan mengalami
penurunan.
DAFTAR PUSTAKA
Harun Nasution, Islam
Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya ,Jilid I ,Jakarta :UI Press,1997
Hailkal,
Husain, Sejarah Hidup Muhammad,
(terj). Jakarta:literaAntarNusa,1992 cet.13
Drs.Hasanuddin. Sejarah
kebudayaan islam . 1994.Tohaputra
Bahi, Muhammad, Pemikiran
Islam dan Perkembangannya,(terj), jakarta: Risalah, 1995

No comments:
Post a Comment