Membaca dinamika opini di media sosial


            Usaha untuk mendiskreditkan kelompok atau orang lain akan lebih cenderung menghasilkan balasan pendiskreditan balik. Usaha membentuk opini buruk terhadap orang lain juga cenderung menghasilkan balasan serupa. Jika akhirnya justru menjadi keributan dan tampak terjadi perang fakta, perang argumantasi, perang dalil, perang ayat, dll,  menjadi seperti bola salju yang terus membesar dan tidak terkendali maka arah opini yang tumbuh berikutnya adalah 'playing victim' dimana masing-masing pihak merasa terdzolimi. Atau setidaknya yang masih berusaha mengeluarkan argumentasi akan saling menuduh tentang “siapa yang mulai duluan”. Biasanya yang terus terjadi adalah bersemainya benih kebencian antar pihak. Perdebatan berikutnya menjadi sudah abai dengan permasalahan awalnya, pertengkaran berikutnya juga sudah banyak dipengaruhi oleh kebencian awal yang sudah ditumbuhkan. Tindakan dan argumentasi absurd berikutnya akan menjadi hal yang biasa. Kurang lebih demikian pandangan saya tentang pertengkaran-pertengkaran ideoligis besar memulai debutnya di sosial media.

            Tidak adanya usaha untuk membangun diskusi yang baik menyebabkan suasana berbagi opini menjadi tidak terkendali. Keburukan yang saya lihat dari kondisi tersebut adalah keengganan masing-masing pihak untuk mengakui kesalahan maupun kekhilafannya jika sudah mulai menyadarinya. Keengganan itu bisa karena rasa malu atau gengsi karena setiap pengakuan kesalahan atau kekhilafannya akan terancam dibully. Untuk menutupi rasa salah dalam adu argumentasi biasanya orang akan cenderung menyerang pribadi, yaitu dengan tuduhan, umpatan, ejekan dan lain sebagainya. Disitulah suasana diskusi biasanya sudah tidak lagi objektif, karena konten diskusi sudah terlanjur banyak terisi serangan-serangan pribadi. Ditambah lagi emang ada orang yang suka menggunakan jalan pintas dengan menyerang pribadi demi mempercepat pemenangan kontestasi adu argumentasi.Itulah diantara kekacauan diskusi yang sering saya lihat di sosial media.

            Dari beberapa ulasan sebelumnya, saya kira sudah saatnya kita mulai memikirkan tentang membangun kesadaran peradaban diskusi atau musyawarah modern yang sekarang banyak difasilitasi sosial media . Disini pendapat kita secara realtime didokumentasi, jadi kita punya alat yang cukup mumpuni untuk saling evaluasi dalam diskusi, syukur-syukur evaluasi diri. Kita juga dipermudah dengan fleksibelnya waktu dan tempat untuk berbagi pemikiran dengan baik. Diskusi di media sosial juga memberi ruang lebih luas untuk pengendalian emosi. Jadi alangkah indahnya jika terjadi diskusi-diskusi hal yang bertentangan dengan baik tanpa adanya moderasi. Karena manfaat diskusi akan didapat dengan lebih murah dan mudah.Semoga kita makin pandai memanfaatkan sosial media.

 

Terimakasih media sosial yang sudah memfasilitasi banyak orang untuk berbagi pendapat.

 

 

No comments:

Post a Comment

Perlindungan terhadap Perempuan ditinjau dari prinsip kesetaraan dalam Undang-Undang Perkawinan

  Kedinamisan hukum semakin memperhatikan nasib perempuan untuk adanya kesetaran dan keadilan gender dan untuk memberikan perlindungan t...