KOMUNIKASI KEPELATIHAN
A.
Komunikasi dan Pelatihan
Manusia adalah
makhluk paling lengkap. Di dalam dirinya ada sosial, psikologis, agama,
kebudayaan, politik, dorongan untuk maju dalam aneka sektor, dan lain-lain.
Manusia “baru” hanya akan menjadi manusia jika berinteraksi dengan manusia
lain. Interaksi itu merupakan proses kemanusiaan dari pemanusiaan sejati. Kata
lainnya, manusia “baru” alias anak manusia, tidak akan menjadi manusia sesungguhnya
jika terisolasi dengan yang-lainnya.
Di masyarakat dan di dunia kerja, manusia tidak
dapat dan memang tidak rnungkin hidup terisolasi, baik dengan rekan sekerja
maupun dengan lingkungannya. Tujuan organisasi pelatihan dan tujuan pribadi
penyertanya yang hendak dicapai, strategi yang harus dijalankan, pelaksanaan
keputusan, realisasi rencana, dan sebagainya perlu dikomunikasikan kepada
individu atau anggota unit kerja serta sistem di luar organisasi pelatihan.
Semua organisasi, besar atau kecil, sosial atau komersial, tidak akan dapat menjalankan roda pekerjaan sebagaimana mestinya tanpa ditunjang oleh kemampuan komunikasi secara efektif anggota komunitasnya dengan pengguna. Bagi manajer pelatihan, kemampuan berkomunikasi sangat esensial untuk memengaruhi, menciptakan perubahan perilaku, dan mendorong motivasi karyawannya, dan hal ini merupakan sarana utama untuk mencapai tujuan organisasi pelatihan.
Uraian di atas memberikan pandangan yang singkat, namun
cukup jelas tentang arti penting komunikasi yang efektif bagi pelatih dalam
menjalankan tugas-tugas kepelatihan, juga antara pimpinan dengan bawahan.
Komunikasi yang efektif juga diperlukan dalam kehidupan antar pribadi,
mengingat tidak mungkin lagi kehidupan terisolasi memberikan kelayakan bagi
manusia. Manusia tidak sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan dengan cara sendiri
dan oleh dirinya sendiri. Makin tinggi peradaban manusia, makin tinggi pula
kebergantungannya kepada orang lain. Individu beradab senantiasa hidup dalam
konteks interaksinya dengan orang lain. Proses interaksi itu berjalan baik,
jika dijembatani oleh kemampuan berkomunikasi yang efektif.
B.
Definisi
Dalam konteks buku ini, komunikasi diartikan sebagai
proses penyampaian informasi dari seorang pelatih kepada peserta pelatihan, di
mana informasi itu disampaikan inelalui media atau tanda-tanda dengan menggunakan
bahasa tertentu yang saling dimengerti untuk mencapai suatu tujuan. Jaques merumuskan
“communication is the sum total of directly and indirectly consciously
transmitted feeling, attitudes and wishes”. Komunikasi adalah penyampaikan
segala perasaan, sikap, kebijakan, dan kehendak, baik secara langsung maupun
tidak langsung. Berdasarkan dua definisi di atas, dalam proses komunikasi
terlibat berbagai unsur, seperti, penyampai informasi (sender atau informatory,
penerima informasi (receiver), isi informasi (message), media
atau tanda-tanda yang digunakan (medium or symbols), dan bahasa yang
saling dimengerti (mutual language system). Unsur lain dari komunikasi
adalah gangguan (noise) dan respons (response).
Unsur-unsur itu tidak terpisahkan satu sama lain. Di
dalam proses komunikasi antara pelatih dengan peserta pelatihan selalu
melibatkan penyampai informasi (pelatih). Penerima informasi (peserta
pelatihan) dan sebaliknya, pesan yang diinformasikan (perintah, ajakan,
petunjuk, memberi contoh
dan sebagainya) media atau tanda-tanda yang digunakan, bahasa yang saling
dimengerti, kemungkinan gangguan dan pada saatnya respon adalah keharusan. Jika
unsur lain ada, tetapi peserta pelatihan tidak memberikan respons, proses komunikasi
menjadi tidak berarti. Juga, apabila antara pimpinan sebagai pengirim pesan
dengan bawahan sebagai penerima pesan itu tidak ada kesalingpahaman bahasa,
komunikasi antara pimpinan dengan bawahan akan mengalami kegagalan.
C.
Konsep Dasar Komunikasi
Dewasa ini,
manajemen pelatihan telah dan sedang menghadapi masalah yang sangat rumit. Apa
yang dulunya tidak terpikirkan, kini menjadi barang biasa, misalnya penggunaan
komputer untuk memperlancar mekanisme kerja manajemen pelatihan. Komunikasi
antara pelatih dcngan peserta pelatihan harus dan terus berlangsung, mulai pola
yang paling sederhana sarnpai pola yang kompleks. Kompleksitas itu meliputi
pesan yang disampaikan dan media yang digunakan serta teknik yang dipakai dalam
proses komunikasi.
Ada tiga tinjauan untuk memahami konsep dasar
komunikasi antara pelatih dengan peserta pelatihan, seperti tertuang pada
Gambar 14. Ketiga tinjauan tersebut dirumuskan di bawah ini:
1.
Tinjauan
pertama, bahwa komunikasi itu dipandang sebagai proses penyampaian infomasi. Keberhasilan
proses komunikasi antara pelatih dan peserta pelatihan terletak pada penguasaan
platen atau fakta dan pengaturan cara-cara penyampaiannya. Definisi ini sering
disebut sebagai "a message-centered phylosophy of communication" yang
padanan dalam bahasa Indonesia disebut komunikasi yang berorientasi pada pesan.
Peserta pelatihan sebagai penerima pesan dan pelatih sebagai pengirim pesan
atau sebaliknya tidak merupakan komponen yang menentukan keberhasilan
komunikasi.
Tinjauan ini menggarisbawahi pendapat bahwa hanya
dengan sejumlah infomasi atau pesanlah, komunikasi antara pengirim dan
penerima, misalnya antara pelatih dan peserta pelatihan atau sebaliknya, akan
terjadi. Dengan pengertian ini, pengirim atau penyampai pesan terpanggil untuk
berkomunikasi dengan penerima pesan itu karena ada sejumlah bekal informasi
yang akan disampaikan.Tanpa ada pesan yang berarti, komunikasi antara pengirim
dan penerima pesan, dalam anti yang sebenarnya tidak akan terjadi dengan
bermakna. Intinya, pesan yang disSmpaikan merupakan kunci utama terjadinya
makna dalam komunikasi.
2.
Tinjauan kedua,
bahwa komunikasi itu merupakan suatu proses penyampaian gagasan-gagasan dari
seseorang kepada orang lain. Dalam konsep ini terkandung makna bahwa penerima
pesan dianggap sebagai bagian dari proses komunikasi, narnun penekanannya
terletak kepada pengirim pesan atau message formulator. Sebagai contoh,
jika pimpinan berkomunikasi dengan stafnya, titik tekan keberhasilan komunikasi
terletak pada kemampuan pimpinan memfornntlasikan pesan-pesannya. Dalam
kerangka pelatihan. makna pesan-pesan pelatihan sangat ditentukan oleh
kemampuan pelatih dalam melakukan proses komunikasi dengan peserta pelatihan.
Efektivitas pesan tidak hanya terletak pada isi dan
cara mengungkapkan pesan itu, tetapi juga pada kredibilitas sumber atau
pengirim pesan itu sendiri. Di sini, perhatian tidak difokuskan pada penerima,
tetapi hanya dengan catatan bahwa pesan harus disesuaikan dengan minat
penerima.
Kelemahan komunikasi yang bersifat "speaker-centered
phylosophy of communication" ini terletak pada beberapa hal. Pertama,
penerima atau pendengar dipandang sebagai objek yang pasif dan bukan
sebagai kekuatan aktif dalam proses komunikasi.
Kedua, konsep
ini tidak mengemukakan terjadinya proses pemahaman atau meaning yang
tidak dapat dihindari dalam proses komunikasi. Ketiga, terlalu parochial
atau kurang mengungkapkan masalah manusia yang suatu waktu
berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Di dalam kenyataannya, komunikasi
kadang-kadang digunakan oleh manusia untuk menyembunyikan pikiran atau melindungi
apa yang menjadi pikiran sesunggahnya. Konsep ini ncenganggap bahwa ide atau
gagasan seseorang sebagai alat penggerak terjadinya komunikasi antara pengirim
dan penerima pesan itu.
Filosofi ini sesungguhnya memosisikan peserta
pelatihan seolah-olah sebagai pihak yang harus menerima begitu saja pesan yang
disampaikan oleh pelatih. Pelatih cenderung mendominasi atau paling tidak
bcrasurnsi bahwa karena dialah komunikasi terjadi. Di dalam praktik kepelatihan
yang otoriter, komunikasi antara pelatih dengan peserta pelatihan sering
dilakukan secara satu arah. Kedudukan peserta pelatihan di sini hanyalah
sebagai subjek yang didominasi oleh pelatihan dan harus menerima pesan-pesan
pelatihan secara apa adanya.
3.
Tinjauan ketiga
adalah bahwa komunikasi dipandang sebagai suatu proses menciptakan arti, ide,
gagasan, atau. konsep yang dalam bahasa Inggris disebut "the process of
creative the. meaning". Pesan dapat diciptakan melalui orang,
televisi, radio, dan scbagainya. Akan tetapi, pengertian atau meaning hanya
ada dalarn din individu masing-masing. Konsep ini tidak sepenuhnya tepat,
mengingat bahwa komunikasi itu bukan proses penyampaian arti atau gagasan
dari seseorang kepda orang lain.
Dalam proses pelatihan, pelatih tidak pernah
memberikan meaning atas pesan yang disampaikannya. Apa yang disampaikan
oleh pelatih itu hanyalah simbol atau lambang saja. Arti dari suatu pesan tidak
dapat dipindah-pindahkan atau disampaikan secara apa adanya. Pengertian atau
pemaknaan atas pesan itu terjadi pada peserta pelatihan yang terlibat dalam
proses komunikasi itu. Pengertian atau pemahaman atas pesan yang disampaikan
ditentukan oleh kemampuan penerima pesan itu. Dengan demikian, keberartian
atas pesan atau sejumlah pesan itu ditentukan oleh kemampuan penerima pesan itu
sendiri. Tugas pengirim pesan hanyalah menyampaikan ide atau informasi, beban
pemahaman terhadap apa yang disampaikan ada pada penerima.
D.
Komunikasi dan Perilaku
Komunikasi mutlak diperlukan dalam keseluruhan
proses interaksi antarmanusia, tidak terkecuali antara pelatih dan peserta
pelatihan atau antara stafdan pimpinannya. Tanpa komunikasi antarmanusia di
dalam organisasi pelatihan, sumber daya yang ada akan mengalami ditintegrasi.
Artinya, sumber daya insani yang ada pada lembaga pelatihan tidak banyak
berbeda dengan setumpuk benda mati yang pasif.
Jika
di sekolah-sekolah disediakan khusus ruang guru, barangkali ada guru yang hanya
melihatnya dari nilai kursi yang disediakan di ruangan itu. Sebenarnya, ruang
itu sama dengan forum atau wadah bagi pelatih untuk urun rembug atau saling
tukar pengalaman. Barangkali kita juga dapat bereksperimen, bagaimana pola
kerja guru, jika satu sama lain saling menghindari kontak antarsemua mereka.
Kebijakan administratif, kebijakan organisasi pelatihan, harapan, dan perasaan
hanya mungkin disampaikan, jika terjadi proses komunikasi. Dengan komunikasi
akan muncul relasi antarindividu dan selanjutnya terjadi proses saling
memengaruhi dalam rangka perbuatan tertentu.
Komunikasi antarindividu muncul sebagai lanjutan
dari adanya kontak awal yang mereka lakukan dan demikian juga sebaliknya.
Seseorang akan menjalin komunikasi dengan yang lain, jika di dalam dirinya
telah ada kontak kesepakatan, bahwa dia harus berbuat demikian. Relasi antar individu
merupakan lanjutan dari proses komunikasi antar sesama mereka. Dari aktivitas
relasional itu terjadi proses memengaruhi, misalnya pengaruh yang ditimbulkan
oleh pimpinan terhadap bawahannya. Mungkin saja, suatu saat terjadi komunikasi
antarindividu, tetapi mereka tidak mampu menjalin relasi, akibatnya tidak
terjadi proses sating memengaruhi. Di dalam latar kehidupan organisasi
pelatihan, saling memengaruhi biasanya divisualisasikan melalui perilaku nyata
atau seperangkat perbuatan yang mengacu pada tujuannya.
E.
Fungsi
Komunikasi
Pelatih harus menjadi komunikator yang baik. Seperti
telah diuraikan di muka, bahwa komunikasi sangat penting dalam keseluruhan
aktivitas manajemen organisasi pelatihan, terutama antara pelatih dan peserta
pelatihan. Mata rantai kegiatan organisasi pelatihan dapat berlangsung efektif
jika terjadi proses komunikasi antara mereka yang ada di dalam organisasi
pelatihan itu, dan hal ini harus berlangsung secara bersahaja dan
terus-menerus.
Karena itu, komunikasi menempati posisi sentral bagi
pelatih dan pimpinan organisasi pelatihan dan dalam hubungan antarorang yang
ada di dalamnya. Tanpa komunikasi, koordinasi kegiatan dan kegiatan itu sendiri
tidak akan dapat berjalan secara efektif. Para ahli psikologi, ahli pendidikan,
dan lain-lain telah menerima konsep, prinsip, dari generalisasi tentang fungsi
komunikasi. Misalnya, di lembaga sekolah, problema problema peserta didik yang
diduga menghambat proses studi mereka dapat diatasi melalui komunikasi efektif
antara subjek dan kliennya atau antara pembimbing dan terbimbing.
Garis pembatas psikologis (psychological barrier)
yang terjadi di antara pelatih dan peserta pelatihan dapat diatasi atau
diminimalkan melalui komunikasi antarsesama mereka. Di sekolah-sekolah yang
efektif, kepala sekolah terlibat
intensif dalam proses komunikasi dengan staf. Dalam proses itu, terjadi
interaksi timbal-balik yang dapat meningkatkan dinamika kerja di lembaga
sekolah yang pada gilirannya akan memperlancar proses pendidikan sekolah.
Komunikasi antara pelatih dan peserta pelatihan
diarahkan pada upaya mencari perubahan untuk untuk mengeksplisitkan
tindakan-tindakan hersama. Sebagai contoh, lembaga pelatihan harus mengetahui
kebutuhan tenaga kerja di lapangan, persaingan antarlembaga, kebijakan
pemerintah bidang pelatihan, dan sebagainya. Di samping itu, lembaga pelatihan
harus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, potensi masyarakat, kemajuan bidang
ilmu pengetahuan dan teknologi, informasi masalah sosial, dan sebagainya. Apa-apa
yang dimaksudkan di atas akan mudah direalisasikan, jika terjadi komunikasi
intensif antarsubjek yang terlibat. Cepat atau lambat, terpenuhinya keinginan
subjek untuk mendapat informasi tentang masalah ini sangat ditentukan oleh
kemampuannya mendekatkan diri dengan sumber informasi. Dengan demikian, komunikasi
dalam organisasi pelatihan berfungsi sebagai:
·
mengomunikasikan
tujuan-tujuan pelatihan;
·
mengembangkan
rencana pelatihan untuk pelaksanaan; mengorganisasikan manusia dan sumber
pelatihan lain secara efektif;
·
mengarahkan,
memotivasi, dan mengembangkan potensi peserta pelatihan;
·
menciptakan
iklim pelatihan yang sehat;
·
mengadakan
pengawasan pelaksanaan pelatihan;
·
menyampaikan
gagasan baru dan memberi saran bagi perbaikan proses pelatihan;
·
menerima
keluhan-keluhan sebelum, selama, dan sesudah proses pelatihan.
F.
Prinsip-Prinsip
Komunikasi
Pelatih dan manajer institusi pelatihan yang
profesional merupakan
komunikator yang baik. Mereka adalah orang-orang yang betul-betul memahami prinsip-prinsip komunikasi yang ideal. Prinsip-prinsip komunikasi tersebut adalah:
komunikator yang baik. Mereka adalah orang-orang yang betul-betul memahami prinsip-prinsip komunikasi yang ideal. Prinsip-prinsip komunikasi tersebut adalah:
1. Komunikasi adalah proses yang dinamis
2.
Komunikasi
adalah proses yang melingkar.
3.
Komunikasi
merupakan proses yang tidak berulang secara murni
4.
Komunikasi
berlangsungdalam keseluruhan aktivitas
5.
Komunikasi
menyangkut aspek jasmani dan rohani
6.
Komunikasi
menyangkut masalah yang kompleks
7.
Komunikasi tidak
kebal terhadap gangguan
1.
Komunikasi
adalah proses dinamis
Proses komunikasi
laksana benda hidup yang dinamis, di mana. pengirim dan penerima pesan memegang
peran penting. Mereka menjalankan fungsi masing-masing secara tidak kaku.
Keduanya sama-sama komunikatif yang pada saat tertentu dapat bertukar peran.
2.
Komunikasi
adalah proses yang melingkar
Komunikasi tidak
seperti anak panah, tidak lurus seperti kompas, melainkan mempunyai sifat
melingkar. Komunikasi bukanlah proses satu arah. Dalam proses komunikasi, umpan
balik merupakan satu keharusan. Proses Itu berlangsung berulang kali, Inksana
satu siklus yang satu sauna lain tidak terputus. Si A berkomunikasi derigan si
B dan si B berkomunikasi dengan si C untuk hal yang sarna, dan seterusnya,
merupakan contoh lain dan sirkulasi proses komunikasi.
3.
Komunikasi
adalah proses tidak terulang
Ada kecenderungan orang
menyangkal konsep ini, dengan asumsi jika pada saat tertentu penerima berita
tidak rnemahami berita yang disarnpaikan, dia dapat meminta kembali berita itu.
Jika telah terjadi proses komunikasi antarmanusia, terjadilah proses itu. Jika suatu
saat komunikasi itu harus diulang, suasananya tidak akan berulang persis
seperti sedia kala. Isi dan subjek yang terlibat dapat saja sama tetapi suasana
menjadi berbeda. Gaffar (1982)
mengemukakan bahwa situasi dari peristiwa komunikasi tidak mungkin sama. Dengan
demikian, mustahil bagi seseorang mengulangi peristiwa komunikasi itu dua kali
dnegan situasi, suasana, dan efek yang sama. Manusia hanya dapat berkomunikasi
satu kali saja, sedang kedua dan seterusnya merupakan peristiwa komunikasi yang
lain lagi.
4.
Komunikasi berlangsung dalam keseluruhan aktivitas
Proses komunikasi
selalu ada dalam keseluruhan aktivitas manusia organisasional, mulai manajemen
puncak sampai pada pelaksana teknis dan sebaliknya. Kebijakan organisasi
pelatihan perlu dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Proses
komunikasi itu pun memengaruhi aktivitas manusia organisasi pelatihan. Tanpa
komunikasi, kegiatan tidak ada dan tidak ada kegiatan tanpa proses komunikasi.
Jika komunikasi antarmanusia terputus, proses kerja menjadi kaku dan kondisi
ini menjadi ancaman bagi organisasi pelatihan.
5.
Komunikasi
melibatkan aspek jasmani dan rohani
Efektivitas komunikasi
antarmanusia sangat ditentukan oleh kondisi fisik dan psikologi kedua pihak.
Pengiriman berita adalah komunikator yang baik, tetapi jika kondisi psikis
penerima tidak memenuhi tuntutan, proses komunikasi tidak dapat bcrjalan
efektif, demikian sebaliknya. Baik pengirim maupun penerima pesan dituntut
berada pada kondisi fisik dan psikologis yang baik. Komunikasi lisan menjadi
lebih efektif jika disertai gerak fisik dan mimik yang sesuai, informasi yang
disampaikan dengan nada marah tidak efektif. Karena itu, kepribadian
komunikator dan penerima pesan terlibat dalam proses komunikasi harus sama-sama
mendukung.
6.
Komunikasi
menyangkut masalah yang kompleks
Dalam kaitan KAU dan
AKU, misalnya, kompleksitas komunikasi dapat dilukiskan sebagai berikut:
AKU KAU
Aku tahu------------------------------ Kau tidak tahu
Aku tidak tahu ---------------------- Kau tahu
Aku tidak tahu ---------------------- Kau tidak tahu
Aku tahu ---------------------------- Kau tahu
Aku perlu --------------------------- Kau tidak perlu
Aku tidak perlu -------------------- Kau perlu
Kompleksitas tersebut
bukan hanya terletak pada banyaknya pribadi yang terlibat, isi pesan dan
peralatan yang digunakan, melainkan juga pada transmisi pesan, umpan balik, dan
gangguan. Di pedesaan, proses komunikasi antarwarga berlangsung secara
sederhana, memanfaatkan media sederhana, dan inti pesan pun sederhana. Berbeda
dengan sistem komunikasi internasional, yang dalam waktu beberapa detik,
miliaran karakter harus dioper dari suatu negara ke negara lain.
7.
Komunikasi tidak kebal gangguan
Banyak hal yang dapat
memengaruhi rendahnya efektivitas komunikasi, yaitu berupa gangguan yang sering
pula disebut noise, Komunikasi tetap
muka (face-to-face communication),
misalnya tidak akan efelctif dilakukan dalam suasana yang gaduh atau jarak
antarsubjek terlalu berjauhan. Contoh lain, gelombang radio terganggu pada saw ada
petir. Komunikasi dengan menggunakan telegram sering terlalu singkat,
sebaliknya komunikasi dengan menggunakan surat dapat secara panjang lebar,
namun sering terlambat. Ini semua adalah contoh gangguan proses komunikasi.
G.
Komunikasi dan
Kebutuhan Manusia
Dalam konteks aktivitas
pelatihan, komunikasi adalah mesin pelumas utamanya. Komunikasi biasanya tidak
dapat dilepaskan dari pekerjaan atau interaksi antara pelatih dan peserta pelatihan.
Rencana kerja pelatihan hanya mungkin dapat direalisasikan, jika pelatih dan
peserta pelatihan telali mengetahui informasi tugas atau jabaran pekerjaan yang
diembannya. Di dalam dunia manajemen, komunikasi sering diarahkan untuk meningkatkan
semangat kerja staf demi produktivitas dan keuntungan secara bisnis. Hal ini
merupakan konsekuensi logis bahwa manusia organisasi mempunyai sejumlah
kebutuhan dan keinginan, seperti :
·
kebutuhan untuk
mengembangkan diri dalam jabatan yang diduduki dan mengejar kedudukan yang
lebih tinggi;
·
keinginan
meningkatkan harga diri dalam keluarga dan masyarakat melalui aktivitas yang
lebih konstruktif;
·
kebutuhan
bergerak dari sikap bergantung kepada orang lain menjadi sikap yang lebih
mandiri; dan
·
dorongan mencari tanggungjawab
Dari empat
kecenderungan itu, ada dua indikator pokok yang memengaruhi aktivitas staf.
Kedua indikator pokok tersebut adalah keinginan mempertinggi kedudukan atau
status dalam jabatan dan hasrat memperoleh kekuasaan yang lebih besar. Pelatihan
pun antara lain dimaksudkan untuk mempromosikan staf, misalnya untuk menduduki
jabatan eselon. Sangat sukar untuk memisahkan kedua indikator pokok ini karena
keduanya sering berjalan sendiri-sendiri.
Kedudukan seseorang
dalam jabatan didasarkan atas mutu individual dan mutu kerjanya di dalam tim,
baik menurut pencitraan mupun mutu secara nyata. Kekuasaan ditekankan kepada
proses memengaruhi atau memberikan pengaruh kepada sekelompok orang atau
individu, dan di sinilah, komunikasi antarmanusia mutlak diperlukan.
Arus komunikasi
bervariasi, yaitu ke atas, bawah, diagonal, dan sebagainva, yang pada umumnya
dikaitkan dengan pekerjaan atau tugas tugas keorganisasian. Hasil penelitian
membuktikan bahwa bawahan sering merasa sangat segan kepada atasannya dan jika
hal ini terjadi, frekuensi komunikasi antara atasan dan bawahan lebih banyak
dilakukan dibandingkan dengan komunikasi antara bawahan dan atasan. Lillico
(1972) mengatakan bahwa komunikasi ke atas mungkin tidak mengandung informasi
yang berhuburigan dengan pekerjaan dan dari segi banyaknya, mungkin lebih
banyak komunikasi yang terjadi antara atasan dengan bawahan. Personalia tingkat
bawah menahan diri untuk tidak berkomunikasi dengan atasan sehubungan dengan
rintangan psikologis.
Perbuatan bawahan yang
bersifat mencela, mengkritik, memberi saran atau usul kepada atasan sangat
jarang, sebagai akibat hambatan psikologis itu. Mereka segan mengemukakan
ketidaksenangannya terhadap pekerjaan atau sikap negatif (negative attitude) terhadap tugas tugas itu. Dalam bekerja dan
berkomunikasi sangat hati-hati, sebab takut tergeser dari jabatannya, tidak
dipercaya, tidak mampu menciptakan rasa saling memiliki (sense of belonging),
dan sebagainya. Permasalahannya adalah apa sebabnya hal itu terjadi?
Mungkin dan hampir dipastikan bahwa gejala buruk itu terjadi sebagai akibat
dari:
Tidak ada keterbukaan antara kedua belah pihak.
Mereka tidak mampu menjalin kontak yang lebih komunikatif. Apa yang ada pada bawahan
hanyalah rasa takut, curiga, segan, tak acuh, dan sebagainya
Kurang dukungan fakta-fakta. Keraguan seorang untuk
berkomunikasi dengan orang lain, antara lain disebabkan tidak ada bekal
empiris. Apa yang ada hanya merupakan keinginan-keinginan subjektif.
Pola manajemen yang kaku sehingga tidak memungkinkan
komunikasi terjadi secara efektif.
Penerapan hubungan
antarmanusia (human relation) dianggap dapat mempermudah terlaksananya
komunikasi secara baik. Maier (1963) mengemukakan bahwa dalam hubungan antar manusia,
rintangan rintangan komunikasi dapat dihilangkan, menjauhkan salah pengertian,
dan mengembangkan segi konstruktif dari kepribadian manusia. Pelatih
profesional adalah seseorang yang mampu menciptakan suasana komunikasi yang
kondusif dalam rangka mencapai tujuan pelatihan. Suasana curiga, tidak
komunikatif, dan rasa takut, merupakan penghambat pencapaian tujuan itu
sehingga memberi gangguan tidak sedikit terhadap kelancaran proses pelatihan.
Faktor tidak kondusif dalam komunikasi harus dijauhkan, jika organisasi
bertekad mencapai tujuan secara baik:
H.
Komunikasi dan Keterbukaan
Rasa permusuhan, takut, curiga, dan sikap-sikap lain
semacam itu bukan hanya menghambat penerimaan pesan dalam proses komunikasi,
tetapi juga mengarah pada bangkitnya motif-motif negatif yang dapat menganggu
jalannya komunikasi antara pelatih dan peserta pelatihan. Perbedaan status
selalu ada dalam dunia organisasi dan status dalarri pekerjaan itu merupakan
dambaan orang-orang yang ada dalam setiap institusi. Di lingkungan organisasi,
keterbukaan mutlak perlu dalam keseluruhan komunikasi antarmanusia. Orang yang
mempunyai kedudukan atau status rendah dapat saja memperoteh “keberanian
berkomunikasi”, asalkan mereka mampu menjalin tata hubungan lebih baik kepada
atasannya.
Atasan
yang bijak akan membawa bawahan pada kondisi yang mereka inginkan. Seorang
manajer harus mengadakan komunikasi untuk tujuan-tujuan tertentu, menyampaikan
informasi, mengubah perilaku bawahan atau mengarahkan perilakuperilaku mereka
agar sesuai dengan harapan. Karena itu, pengawasan, penjagaan terhadap sikap
jujur, adil, dan faktor lain yang ada hubungannya dengan spirit pekerjaan perlu
ada. Jika tidak, kekuatan melawan dari stafakan timbul dan selanjutnya
berakibat kurangnya kepuasan, kepercayaan, dan kesetiaan bawahan.
Ketidakmampuan manajer menimbulkan kepercayaan,
kepatuhan dan kesetiaan melalui komunikasi yang baik akan membawa dampak gagalnya
manajemen organisasi. Komunikasi antara pelatih dan peserta pelatihan dalam
kaitannya dengan tugas-tugas kepelatihan menduduki posisi sentral. Sebagai
contoh, kemampuan melatih yang lambat, disiplin pelatih rendah, peserta
pelatihan tidak terdorong belajar, rendahnya moral kerja, tidak terjalin rasa
saling memiliki, saling mencurigai, debat kusir, dan seperangkat gejala buruk
lainnya sering muncul di lembaga pelatihan. Munculnya rnasalah itu dapat saja
disebabkan oleh perbedaan status dalam pekerjaan atau karena tidak ada jaringan
komunikasi yang komunikatif. Sebagian dari kekacauan itu adalah kekacauan
orang-orang mengartikan kedudukan.
Perbedaan kedudukan atau status seseorang.dalam
pekerjaan akan mencerminkan perbedaan kekuasaan. Lillico (1972) melukiskan,
apabila status merupakan variabel pokok, akibat dari keinginan untuk maju dalam
komunikasi antar orang akan lebih tampak, jika perbedaan kekuasaan merupakan
substitusi dari perbedaan status itu.
Anggota kelompok yang mempunyai kesempatan besar
untuk promosi biasanya jarang melakukan protes, daripada orang yang tidak
mempunyai kesempatan untuk ini. Zender (1971) mengemukakan, orang yang mempunyai
kekuatan lebih kecil, sebagai akibat kecilnya kekuasaan yang ia miliki, tetapi
berharap naik dari posisi sekarang, kurang bebas berkomunikasi dengan
atasannya. Mereka lebih banyak menceritakan apa yang telah mereka capai.
Aktivitas seperti ini umumnya jarang dilakukan oleh orang-orang yang tidak atau
kurang berusaha memilih kursi atau jabatan.
Para investor, dalam dunia manajemen bisnis sering
disebut penyedia, atau di lingkungan pendidikan formal disebut pengawas,
kadang-kadang mempunyai pengaruh yang berbeda dalam unit kerja mereka dan
perbedaan itu mungkin muncul akibat perbedaan kemampuan berkomunikasi atau
akibat lain yang tidak dapat dipisahkan dengan itu. Kekuasaan erat kaitannya
dengan luasnya komunikasi dan pengaruh yang ditumbuhkan dari kekuasaan itu
merupakan pengaruh langsung dari komunikasi yang dilakukan. Kalau kita tekun
memerhatikan perilaku manusia dalam bekerja, dalam hidup bermasyarakat atau
dalam situasi sosial lainnya, kita akan membuat beberapa praasumsi:
·
Perilaku manusia
dalam situasi tertantu ditentukan oleh proses komunikasi yang mereka lakukan;
·
Perilaku manusia
dalam bekerja turut ditentukan oleh proses komunikasi yang mereka lakukan;
·
Perilaku manusia
dapat berubah, kalaupun situasi yang mereka hadapi adalah sama;
·
Perilaku bawahan
memengaruhi pola tingkah laku administrator atau pimpinan dalam melaksanakan
tugas-tugas dan demikian sebaliknya.
Tingkah laku atau dinamika perilaku individu tidak
lepas dari pekerjaan yang dihadapinya. Kemampuan kerja seseorang dapat dilihat
dari gerak tingkah lakunya. Bagi manajer, pimpinan atau supervisor, pola tingkah
laku bawahan dapat dijadikan pedoman khusus untuk menciptakan suasana serasi
dalam bekerja. Bawahan yang serius akan menghindari humor yang tidak perlu. Dia
banyak menghindari kata-kata humor yang terlalu banyak melibatkan aspek
pribadi. Sebaliknya, staf tidak betah dalam dunia keseriusan dan dia bekerja
karena gembira. Dia gembira karena kondisi memungkinkan.
Jika supervisor atau manajer menyamaratakan semua
bawahan dalam bekerja, dia akan mengalami kesukaran untuk menjadi pimpinan yang
sukses. Dengan staf serius, dia takkan sukses jika berbicara santai dan berbau
humor. Dengan seorang humoris, dia harus menyesuaikan diri, demikian pula untuk
insan yang lembah lembut. Jika komunikator berbuat bertentangan dengan kaidah
yang dianut komunikan, komunikan tidak akan dapat berperilaku sesuai dengan
tuntutan-tuntutan pekerjaan.
Pada abad modern ini, ketika komunikasi sudah
dianggap salah satu kebutuhan pokok, banyak orang telah memosisikan bahwa
proses komunikasi bukanlah suatu yang berdiri sendiri, lepas dari dunia lain.
Dengan “dunia lain” dimaksudkan, bahwa komunikasi selalu berada dalam ruang
atau batas waktu tertentu dan komunikasi tidak lepas dari komponen-komponen
itu. Pada taraf sederhana, komunikasi hanya diartikan sebagai setiap
pembicaraan seseorang atau sekelompok orang dengan seseorang atau sekelompok
lainnya tanpa melalui perantara atau media apa pun. Sekarang ini, proses
komunikasi telah sangat kompleks dan rumit. Dunia komunikasi antara pelatih dan
peserta pelatihan didorong oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara
luar biasa.
Jadi, proses komunikasi bukanlah suatu yang berdiri sendiri dan karenanya selalu dipengaruhi oleh lingkungan komunikasi itu. Hal itu ditunjang oleh konsep bahwa komunikasi itu tidak linier, melainkan sirkuler. Beberapa contoh dapat digambarkan berikut ini. Komunikasi tatap muka sering diganggu suasana gaduh. Bawahan malu berbicara dengan rekan sekerja karena didengar atasan, apalagi isi pembicaraan yang bersifat rahasia. Dalam kondisi seperti ini, pembicaraan antar subjek tertentu berlangsung berbisik-bisik dan akhirnya didengar sepotong-potong, sementara kecurigaan timbul di pihak lain.
Melalui media massa, misalnya seorang pelanggan
sebuah harian sering tidak sempat membaca berita hari ini karena agen tidak
mendistribusikan harian itu tepat pada waktunya. Peserta pelatihan tidak dapat
mendengar isi pembicaraan guru karena lingkungan gaduh. Komunikator dan
komunikan harus berbuat selektif sebab efektivitas komunikasi ditentukan oleh
komunikator atau komunikan itu. Kegagalan satu pihak berarti kegagalan
semuanya, sebab komunikasi adalah proses dinamis.
I.
Objek yang Dikomunikasikan
Komunikasi antarpelatih dan peserta pelatihan
laksana aliran darah dalam tubuh manusia. Ketika aliran darah berhenti,
kehidupan manusia akan berakhir. Jadi, komunikasi atau interaksi komunikatif
antara pelatih dan peserta pelatihan mutlak diperlukan. Melalui proses
komunikasi, pelatih dan peserta pelatihan akan mewujudkan interaksi yang
produktif dan lembaga pelatihan dapat berupaya mencapai tujuan secara efektif
dan efisien.
Permasalahannya terletak pada subjek yang terlibat
dalam proses komunikasi itu sendiri. Kegagalan seorang melakukan komunikasi
mungkin bukan disebabkan oleh rendahnya kemampuan.individu dalam
bidang ilmu komunikasi, melainkan paling sering disebabkan oleh kemampuan yang
lemah dalam melakukan praktik-praktik komunikasi. Tidak tertutup kemungkinan,
bahkan hampir pasti bahwa rendahnya kemampuan praktis berkomunikasi adalah
akibat logis dari rendahnya kemampuan penguasaan ilmu komunikasi.
Dalam rangka mewujudkan komunikasi yang efektif dan
efisien, karena praktik komunikas bukan angka, fakta, atau pengetahuan, melainkan
kecakapan praktis (practical skills), salah satu aspek yang harus
diketahui oleh orang yang terlibat dalam proses komunikasi adalah apa yang
dikomunikasikan. Strauss dan Sayles (1977) dalam buku "Personel: The
Human Problems of Management", mengemukakan
bahwa hal-hal yang.akan dikomunikasikan adalah maksud, kesan, keadaan emosi,
dan ungkapan perasaan.
o
Maksud
Tidak ada suatu proses interaksi manusia tanpa
tujuan. Pengiriman berita mempunyai sejumlah maksud tertentu, apakah mereka
sebagai pelatih, peserta pelatihan, teman sejawat, bawahan, atasan, atau pihak
luar. Pesan yang disampaikan dapat berupa informasi, instruksi, pandangan atau
saran, gagasan-gagsan baru, fakta atau data, indikasi, promosi, dan sebagainya.
Maksud-maksud ini memberi warna terhadap perilaku komunikator dan menimbulkan
respons yang berbeda pula bagi komunikan. Komunikasi dalam rangka instruksi
berbeda dengan komunikasi dalam rangka edukasi, dan berbeda pula
dengan komunikasi dalam rangka memberi saran. Masing-masing tujuan komunikasi
memberi dampak perilaku yang berbeda.
o Kesan
Suatu saat seorang manajer selesai mengadakan rapat
dan membuat satu atau beberapa keputusan, baik keputusan rutin maupun keputusan
generik. Setelah selesai mengambil keputusan, dalam kesempatan tidak formal, ia
menanyakan kepada stafnya: bagaimana kesan Anda terhadap keputusan yang
telah kita ambil bersama? Subjek yang disuguhi pertanyaan itu akan memberikan
kesan-kesan terhadap keputusan-keputusan yang telah diambil. Kesan yang
diberikan, mungkin positif atau mungkin pula negatif atau netral. Tentu saja,
tidak semudah itu. Kesan yang diberikan sering terlalu diwamai oleh motif lain.
Pengirim berita sering mengatur komunikasi secara tersembunyi untuk menyampaikan
pesan menyeluruh mengenai gengsi, harga diri atau kesediaan membantu staf atau
pimpinan puncak.
o
Keadaan emosi
Komunikasi antara pelatih dan peserta pelatihan
tidak pernah terlepas dari sistem nilai yang dianut oleh kedua belah pihak
karena komunikasi melibatkan seluruh kepribadian. Salah satu di antaranya
adalah keadaan emosi (emotional atmosphere). Pelatih atau peserta
pelatihan yang emosinya dalam keadaan tertekan akan berkomunikasi dalam kondisi
tertekan pula. Jika pelatih atau peserta pelatihan termasuk orang yang terbuka (extrovert),
dalam berkomunikasi dengan orang lain, ia akan banyak membicarakan soal
dirinya.
Sifat mengancam dari seorang pelatih tercermin dalam
caranya berkomunikasi. Kegelisahan tercermin dalam perilaku. Pelatih bukanlah
pengancam atau penggelisah. Konselor atau orang-orang yang bergerak dalam
bimbingan dan konseling (BK) banyak menghadapi hal seperti ini. Para siswa ada
yang sengaja datang dan secara sadar mengungkapkan kepada petugas BK, tentang
keadaan dirinya. Ada pula yang sengaja dipanggil sehubungan dengan kasus
tertentu. Komunikator dan komunikan yang berbeda dalam konteks “emosi” ini
harus mewujudkan saling pengenian. Disintegrasi keduanya menyebabkan komunikasi
menjadi buyar.
o
Ungkapan
perasaan
Pelatih juga memiliki perasaan tersembunyi (intorvert),
terlepas dari disadari atau tidak, baik terhadap diri sendiri maupun
terhadap individu yang dihadapi. Perasaan malu, masgul atau kurang pantas,
memberi warna terhadap perilakunya. Kadang-kadang, hal seperti ini berlangsung
secara irrasional. Penerima berita sering tidak percaya terhadap pembicaraan
seseorang tentang pribadi teman dekatnya, padahal secara fisik, penampilan
rekan tersebut sangat meyakinkan, sementara pihak lain memuji pribadinya.
Komunikasi sering diwarnai perasaan seperti ini.
Staruss darn Sayles mengemukakan bahwa perasaan pribadi yang tersembunyi ini
sering timbul dalam bentuk komunikasi nyata. Dengan demikian, ada pula
emosi-emosi yang timbul berdasarkan sikap-sikap yang tampak pada penerima berita.
Mungkin mereka berteriak mendengarkan kata-kata itu, mungkin pula tidak. Umpan
balik pada akhirnya paling menentukan apakah pesan yang disampaikan dapat diterima
atau tidak.

No comments:
Post a Comment